Mengapa banyak pekerja di AS sangat jarang mengambil cuti walau mereka mendambakannya?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Joanna York
- Peranan, BBC Worklife
Mengambil hak cuti sangatlah penting. Di tengah pandemi, kekhawatiran akan kesehatan mental dan kelelahan memuncak.
Pada era pandemi ini, banyak pekerja mempertimbangkan ulang keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Mereka mencoba beristirahat sebelum akhirnya kembali bekerja.
Namun entah kenapa, masih banyak orang menghadapi kendala saat hendak mengajukan cuti kerja.
Baca juga:
Jumlah cuti berbayar yang digunakan pekerja di berbagai negara bervariasi. Meski begitu, merujuk data yang tersedia, pekerja di Amerika Serikat adalah yang paling enggan mengambil hak tersebut.
Nominal yang didapatkan pekerja di AS untuk cuti berbayar umumnya lebih rendah daripada pekerja di Eropa. Tidak ada undang-undang di AS yang menentukan batas minimum besaran upah saat pekerja mengambil cuti.
Namun menurut satu survei tahun 2017, rata-rata pekerja AS mengatakan bahwa mereka telah mengambil setengah (54%) dari hak cuti berbayar dalam setahun terakhir.
Data lainnya menunjukkan tren yang lebih buruk. Pada tahun 2018, merujuk sebuah laporan, pekerja di AS gagal menggunakan 768 juta hari cuti berbayar. Angka itu meningkat 9% dari 2017.
Jelas pekerja di AS menginginkan lebih banyak waktu istirahat. Sebuah studi tahun 2019 menunjukkan, satu dari tiga penduduk negara itu memilih gajinya dipotong demi mendapatkan hari libur.
Para pengusaha di negara itu pun telah menanggapi tren ini. Menurut situs Indeed, lowongan pekerjaan dengan cuti tidak terbatas naik 178% pada periode Mei 2015 hingga Mei 2019.
Namun penelitian menunjukkan, bahkan dalam kasus di mana pekerja dapat mengambil liburan berbayar sebanyak mungkin, mereka cenderung mengambil liburan lebih sedikit daripada karyawan dengan jumlah cuti yang terbatas.
Jika cuti berbayar yang dibutuhkan dan bahkan dianjurkan, lantas mengapa begitu banyak pekerja di AS tidak mengambil hak tersebut?
Jawabannya terletak pada kompleksitas tekanan pekerjaan dan kebiasaan lokal. Ini membuat pekerja di AS terpaku di kantor, bahkan saat mereka benar-benar tidak ingin berada di sana.
Faktor budaya perusahaan
Di seluruh dunia, penentu utama apakah pegawai yakin mengambil semua hak cuti berbayar adalah budaya perusahaan.
Manajer yang mencontohkan perilaku sehat akan mendorong pekerja untuk mengambil cuti. Sebaliknya, manajer yang mengutamakan kehadiran akan menghalangi mereka.
Di tempat kerja yang sangat kompetitif, pegawai yang mengambil cuti takut diperlakukan buruk atau kehilangan peluang di masa depan. Sebuah studi tahun 2018 menunjukkan, salah satu alasan terbesar pekerja AS tidak mengambil cuti adalah rasa cemas kehilangan posisi di kantor.

Sumber gambar, Getty Images
Christie Engler, Direktur Personalia untuk Consolidated Employer Services, sebuah perusahaan solusi sumber daya manusia yang berbasis di Powell, Ohio, menyebut salah satu alasan kecenderungan itu.
"Mereka mungkin dilecehkan atau dipandang rendah oleh bos dan orang lain di kantor juga. Saya telah melihat para pemimpin membuat orang lain merasa tidak enak saat mengambil cuti," ujarnya.
Engler menunjukkan budaya ini sangat berbeda di sektor publik. Guru, misalnya, memiliki hari libur tetap dan serikat pekerja yang kuat. Namun di sektor swasta, ancamannya nyata.
Asosiasi perjalanan AS menemukan bahwa 28% orang tidak mengambil hari libur pada tahun 2014, semata-mata untuk menunjukkan dedikasi pada pekerjaan mereka dan agar tidak dilihat sebagai pemalas.
"Secara budaya di Amerika, kami menyamakan mengambil cuti sebagai berhenti atau tidak memiliki etos kerja yang tinggi," kata Joey Price, CEO konsultan personalia yang berbasis di Baltimore, AS.
"Ada stigma seputar pandangan tidak bekerja," tuturnya.
Terdapat anggapan yang umum di kalangan pimpinan perusahaan bahwa pegawai mereka tidak cukup berkomitmen terhadap pekerjaan.
Kecenderungan ini membuat sebagian pegawai kerap memalsukan alasan untuk absen, ketimbang harus mengajukan cuti secara langsung.
Pada tahun 2019, satu penelitian terhadap pekerja AS menunjukkan, satu dari tiga responden mengaku berpura-pura sakit untuk mendapatkan hari libur.
Setidaknya 27% responden memilih untuk "mengada-ada cerita" daripada menanyakan peluang menjalani cuti.
'Anda harus bergegas'
Memang terdapat perusahaan yang secara faktual memang tidak menghalangi pegawai mereka mengambil cuti.
Namun ada banyak tempat kerja lain, kata Engler, yang membuat pembenaran bahwa "bekerja sebanyak mungkin akan diganjar kehormatan".
Sebuah studi tahun 2019 menunjukkan, kaum konservatif dan liberal AS sama-sama percaya pada pentingnya bekerja keras untuk mencapai kesuksesan.
Tekanan untuk menunjukkan kinerja bukan sekadar harapan moral. Sebagian besar pekerja di AS percaya bahwa menampilkan "kinerja luar biasa" adalah cara terbaik untuk mendapatkan kenaikan gaji.
Ini dapat dengan mudah menyebabkan seseorang menanggung beban pekerjaan yang terlalu banyak. Menurut Michael Komie, seorang psikoanalis dan profesor psikologi klinis di Chicago, itu adalah masalah kesehatan masyarakat di AS.
Di beberapa tempat kerja, mencatat jam kerja hanyalah permulaan dari persoalan ini. Penelitian menunjukkan, kehadiran konstan dan menghabiskan "waktu tatap muka pasif" dengan sejawat baik selama atau di luar jam kerja, dapat membuat pegawai lebih cenderung terlihat dapat diandalkan dan berkomitmen.
Menurut Price, anggapan itu ini menciptakan dinamika di mana "Anda harus buru-buru, Anda harus bekerja lembur, Anda harus berada di gedung agar atasan Anda dapat melihat bahwa Anda sedang bekerja".
Dalam konteks ini, jumlah hari libur yang dimiliki pekerja dalam kontrak mereka mungkin tidak menjadi masalah.
Faktanya, penelitian menunjukkan, para pekerja di AS dengan hak cuti tak terbatas terkadang membutuhkan waktu lebih sedikit daripada tenggat yang mereka miliki.
Ini terjadi jika perusahaan tidak mendorong atau mengharuskan pegawai untuk mengambil cuti.
Beberapa kritikus menilai cuti berbayar tanpa batas sebenarnya menghalangi pekerja untuk mengambil cuti. Ini disebabkan minimnya aturan formal tentang jumlah hari cuti. Akibatnya, pegawai tertekan untuk tetap bekerja.
Terlalu sedikit pegawai, terlalu kejam?
Banyak pekerja juga mungkin menentang budaya bekerja yang tidak dengan mudah memberikan waktu istirahat.
Perusahaan berpotensi kekurangan staf jika pegawai mereka mengambil cuti. Pegawai lain tidak dapat menutupi ketidakhadiran yang cuti karena memiliki beban kerja lain atau karena tidak memiliki pengetahuan menggantikan sejawat mereka.
Artinya, mengambil cuti berarti menumpuk tugas yang belum terselesaikan atau membebani rekan kerja dengan pekerjaan ekstra.
Model semacam ini adalah ekses dari gagasan lingkungan pekerjaan yang ideal versi Amerika, kata Price.
"Kami masih berusaha untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang efektif di era industri dan proses produksi di era pekerja pengetahuan.
"Sistem kerja tidak dirancang untuk memungkinkan orang mengambil cuti. Dampaknya, ketika seorang pekerja mengambil cuti adalah departemen mereka tertinggal," ujar Price.
Situasi ini membuat beberapa orang merasa bahwa mengambil cuti akan berdampak sangat buruk pada diri mereka atau tim mereka. Mengambil cuti, menurut mereka, pada akhirnya tidak sepadan dengan konsekuensinya.
"Tekanan, rasa bersalah, atau rasa malu yang dirasakan orang-orang di sekitar waktu istirahat sangat nyata. Jadi, mereka biasanya menerima kondisi itu dan mengabaikannya," kata Price.

Sumber gambar, Getty Images
Merasa terikat dengan tanggung jawab Anda bahkan dapat membuat beberapa pekerja merasa sangat diperlukan.
"Pegawai memiliki fantasi bahwa mereka sangat penting untuk apa yang mereka lakukan sehingga mereka akan mengecewakan atasan jika mereka tidak bekerja," ujar Komie.
Beberapa pekerja sangat berbakat atau menguasai pengetahuan yang jarang dimiliki orang lain. Jadi hanya mereka yang dapat menyelesaikan pekerjaan mereka.
Namun anggapan ini bersinggungan dengan kenyataan bahwa manajemen buruk menyebabkan proses kerja berhenti ketika pegawai tertentu absen dan tak ada yang dapat menggantikan mereka.
Salah satu efeknya adalah, jika pegawai berhasil mengambil cuti, pekerjaan akan membuat sebagian besar pegawai di AS mengundurkan diri.
Sebuah studi tahun 2017 menunjukkan 66% pekerja AS bekerja pada liburan, 29% menanggapi permintaan dari rekan kerja, dan 25% menyelesaikan permintaan bos mereka.
Maka tidak heran, alih-alih membantu menghilangkan stres, "di Amerika, jauh dari pekerjaan dapat menghasilkan kecemasan", kata Komie.
'Percakapan yang lebih sehat'
Saat ini Pengunduran Diri Hebat (The Great Resignation) memaksa perusahaan memikirkan kembali bagaimana mempertahankan pegawai. Namun pekerja tampaknya masih tidak memprioritaskan cuti berbayar.
Sebuah studi tahun 2021 tentang kepuasan pekerja menunjukkan, walau beberapa pegawai tidak puas dengan jumlah cuti berbayar yang mereka terima, mereka juga mengeluhkan stres di tempat kerja, gaji, pensiun dan tunjangan kesehatan, dan peluang promosi.
Price percaya bahwa perusahaan menanggapi beberapa tuntutan pekerja, seperti pekerjaan yang fleksibel, karena perubahan tempat kerja yang diberlakukan selama krisis kesehatan telah membuat mereka merasa seperti prospek yang realistis.
Sementara itu, percakapan tentang cuti berbayar belum banyak menarik perhatian, meskipun permintaan mulai meningkat.
Price baru-baru ini memperkenalkan cuti berbayar tanpa batas di perusahaannya. Program itu diterapkan bersama dengan "sistem kerja untuk mendukung ketidakhadiran" demi mempertahankan dan menarik talenta terbaik.
Pada tingkat praktis, ini berarti memastikan setidaknya dua anggota pegawai memiliki pengetahuan tentang setiap proyek, perencanaan ke depan untuk mengakomodasi ketidakhadiran, dan membuat klien sadar bahwa waktu istirahat diperhitungkan dalam tenggat waktu proyek.
Namun lebih dari segalanya, dia mengatakan pegawai perlu merasa didukung dalam mengambil cuti dan jauh dari rasa khawatir akan dihukum.
"Langkah pertama adalah melakukan percakapan yang lebih sehat di sekitar hari libur sehingga orang tidak merasakan stigma," katanya.
Ini dimulai dengan mengirimkan pesan yang jelas, "Tidak apa-apa untuk mengambil hari libur. Kami tidak akan menilai Anda secara negatif untuk itu."
Ada juga harapan bahwa regulasi seputar cuti berbayar dan peningkatan kesadaran akan risiko kesehatan mental dari kerja berlebihan dapat mengkatalisasi perubahan.
"Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kita membutuhkan waktu istirahat, kita membutuhkan kesehatan mental yang baik dan sistem kerja yang lebih berempati mengarah pada budaya kerja yang lebih produktif," tambah Price.
Sampai pesan ini tersebar luas, pegawai di AS yang ingin menghabiskan lebih sedikit waktu di tempat kerja mungkin harus mencari tempat kerja di mana cuti tidak terasa seperti permintaan yang besar.
Ini adalah pelajaran yang mungkin juga disadari oleh para pekerja di seluruh dunia, bahkan jika ada sedikit tekanan untuk meninggalkan liburan di beberapa tempat - lagi pula, semua orang butuh istirahat.
---
Artikel ini pertama kali tayang dalam bahasa Inggris diBBC Worklife












