Bagaimana ruang kerja menentukan keberhasilan kita selama WFH

Sumber gambar, Chris Scott
- Penulis, Mark Johanson
- Peranan, BBC Worklife
Tiap kali bangun dari tidurnya di rumah barunya yang berada di Pulau Bruny di pesisir tenggara Tasmania, Australia, Chris Scott kerap langsung menuju pantai lalu berselancar selama satu jam.
Laki-laki berumur 38 tahun itu kemudian kembali ke garasi yang dia ubah menjadi kantor. Di situ dia akan bekerja seharian penuh sebagai manajer proyek senior di perusahaan bernama Origin Energy.
Di sela rapat virtual dengan 20 anggota timnya, Scott berkeliling rumahnya yang memiliki uas 5.000 meter persegi. Dia melakukan itu untuk menjernihkan pikiran.
Dan usai jam kerja, Scott biasanya menyelam ke laut bersama istrinya. Mereka bisa mendapatkan kerang abalone lalu menyantapnya saat makan malam.
Rutinitas tadi jauh dari kehidupan kerja dari jam 9 pagi hingga pukul lima sore yang dijalani Scott selama sepuluh tahun terakhir, sebelum pandemi Covid-19 terjadi.
"Saya jauh lebih fokus bekerja di sini dan jauh lebih produktif," ujarnya. Scott pindah ke Pulau Bruny Oktober silam.
"Saat ingin mengambil jeda kerja, saya benar-benar bisa beristirahat dan melakukan hal lain. Jadi kondisi psikologi saya lebih jernih," kata dia.
Bagi orang-orang seperti Scott, keharusan bekerja dari rumah (work from home/WFH)yang muncul tiba-tiba merupakan hal yang sangat positif. Namun bagi mereka yang tidak hidup dalam kondisi itu, bekerja dari rumah adalah tantangan yang besar.
Sebuah studi baru-baru ini dari Universitas Stanford, misalnya, menunjukkan bahwa hanya 49% pekerja di Amerika Serikat yang bekerja dalam ruangan khusus. Sisanya bekerja dari kamar tidur atau area komunal.
Ukuran dan lokasi ruangan Anda, serta dengan siapa Anda berbagi tempat tinggal sangat menentukan seberapa produktif Anda dapat bekerja dari rumah selama pandemi.
Temuan itu dapat mengungkap mengapa keinginan bekerja dari jarak jauh begitu bervariasi di berbagai kelompok usia, jenis kelamin, dan sosial-ekonomi.
Hasil riset tadi juga dan bisa membantu kita membentuk masa depan ragam metode kerja.

Sumber gambar, Chris Scott
Ruang kerja adalah sebuah kemewahan
Dalam keriuhan beralih bekerja dari jarak jauh, kita langsung menghadapi sejumlah masalah, dari bagaimana bisa bekerja tanpa meja yang nyaman, meletakkan laptop di ketinggian yang pas, sampai cara memastikan seluruh tim pegawai menggunakan Zoom.
Masalah jangka pendek ini sekarang mungkin sudah bisa diatasi. Meski begitu, butuh waktu lebih lama menyiasati persoalan yang lebih kompleks.
Beberapa di antaranya tentang bagaimana kualitas lingkungan kerja menentukan performa kita dan seberapa besar peluang kita pada akhirnya bersedia bekerja dari jarak jauh seperti ini.
Tiffany Philippou, pekerja di kawasan London Utara memiliki pengalaman bekerja dari rumah yang sangat berbeda dengan Chris Scott.
Perempuan berusia 32 tahun ini mempunyai pengalaman panjang sebagai ahli strategi komunikasi dan pemasaran produk.
Selama bekerja dari rumah saat pandemi, dia kesulitan berkomunikasi dengan klien atau memproduksi siniarnya yang berjudul Is This Working.
Kesulitan itu dialami Philippou saat bekerja di rumah susun kecilnya yang terdiri dari dua kamar tidur. Di situ dia tinggal bersama kawannya yang bekerja di bidang periklanan.
Karena kondisi sinyal jaringan internet di rumah susun mereka, Philippou hanya dapat melakukan panggilan video di ruang tamu atau di salah satu kamar tidur.
Akibatnya, setiap hari Philippou dan kawannya, baik saat bekerja maupun bermain gim Musical Chairs, harus memanfaatkan meja dapur atau meja lipat di kamar berdinding tipis mereka.
Cara itu mereka lakukan untuk saling mengakomodasi jadwal kerja tak terduga.
"Harus berpindah-pindah di tempat kecil dan mengarahkan orang lain di kantor tiruan ini sangat melelahkan," kata Philippou.

Sumber gambar, Nicole Engelmann/Hey Saturday
"Otak Anda hanya dapat menangani sejumlah keputusan setiap hari. Semakin sering Anda mengambil keputusan, maka semakin sedikit energi dan kapasitasnya untuk memikirkan hal-hal lain," ucapnya.
Philippou berkata, dia menyadari adanya jurang yang semakin lebar antara profesional berusia muda dan yang lebih tua.
"Menurut saya ada jurang bahwa manajer atau bos yang memiliki kantor bagus di rumah tidak menghargai betapa pekerja yang muda atau yang kurang mampu secara ekonomi harus memutar otak dan berbagi ruang dalam metode kerja baru ini," kata Philippou.
Generasi milenial secara historis dipandang sebagai generasi yang paling menggemari pekerjaan yang tak mengharuskan mereka ke kantor.
Namun merujuk penelitian terbaru, saat setiap orang dianjurkan bekerja dari rumah selama pandemi ini, mereka justru menghadapi persoalan yang lebih kompleks daripada generasi yang lebih tua.
Raksasa teknologi Oracle menggelar studi berskala global terhadap 12.000 pegawai, manajer, kepala bidang personalia, dan pimpinan perusahaan yang mengurus strategi bisnis.
Dalam riset itu, 89% responden berusia 22-25 tahun dan 83% dari mereka yang berusia 26-37 tahun mengaku lebih stres dan cemas selama tahun ini.
Mereka menyebut masalah pekerjaan meluas ke kehidupan pribadi karena kurangnya batasan di antara keduanya.
Sementara itu, hanya 62% responden berusia 55-74 tahun yang mengaku mengalami situasi serupa.
Riset lain dilakukan oleh Gensler Research Institute, melibatkan 2.300 orang-orang AS yang bekerja dari jarak jauh.
Terungkap bahwa terlepas dari kesiapan teknologi menjalankan pekerjaan di luar kantor, generasi Z dan profesional milenial jauh lebih kecil berpeluang merasakan pencapaian besar ketimbang generasi baby boomer.
Sekitar 50% dari generasi Z dan pekerja milenial merasa lebih sulit untuk menghindari gangguan. Persentase di kalangan baby boomer hanya 33%.
Sementara itu, 37% pekerja muda berjuang menjaga keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. Bandingkan dengan baby boomer yang hanya 25%.
"Ini masalah nyata bagi pekerja muda yang tidak memiliki ketenangan di rumah karena manajer hanya mengharapkan Anda untuk melanjutkan pekerjaan," kata Nicholas Bloom, profesor ilmu ekonomi di Universitas Stanford.
"Tapi jika Anda tidak memiliki ruang, bagaimana Anda bisa bekerja?" ujarnya.
Tahun lalu, Bloom menggelar survei terhadap 2.500 pekerja Amerika untuk melihat seberapa sering mereka ingin bekerja dari rumah setelah pandemi mereda.
"Ada sekitar seperempat responden yang benar-benar tidak ingin bekerja dari rumah setelah pandemi. Kebanyakan mereka masih muda, lajang atau tinggal apartemen kecil," kata Bloom.
"Seperempat responden lainnya ingin selalu bekerja dari rumah. Mereka cenderung lebih tua, sudah menikah dan memiliki anak, serta tinggal di rumah."
Faktor suara
Kati Peditto, seorang psikolog desain lingkungan di Akademi Angkatan Udara AS, berkata bahwa berapa pun usianya, ada sejumlah faktor lingkungan, baik perilaku maupun fisik, yang berperan dalam performa dan kepuasan kerja.
"Suara adalah faktor besar karena benar-benar mengungkap banyak ketidakadilan yang kami lihat dalam produktivitas dan pekerjaan jarak jauh," kata Peditto.
Dia mencatat, orang-orang kulit berwarna dan mereka yang status sosial ekonominya rendah secara tidak proporsional tinggal di tempat dengan tingkat kebisingan yang lebih tinggi.
Suara menjadi faktor penting jika anak-anak masuk dalam tempat kerja jarak jauh ini. Memiliki anak di rumah dapat mengarah pada apa yang disebut Peditto sebagai "gangguan tanggung jawab".
Merujuk penelitian, faktor anak-anak ini jauh lebih berdampak pada perempuan yang bekerja dari rumah.
"Individu yang memiliki kemewahan berupa ruang kerja yang dapat ditutup, atau mereka yang memiliki kemampuan ekonomi membeli jasa penitipan anak atau membayar pengasuh bayi akan lebih produktif," kata Peditto.
Membuat ruang kerja terpisah adalah solusi jitu untuk Jo van Riemsdijk. Dia adalah salah satu pendiri agen perekrutan CX Talent. Dia tinggal di Hertfordshire, Inggris, bersama suami dan dua anaknya.
Ketika pandemi memaksa mereka semua untuk bekerja dan belajar dari rumah terbuka yang sama, mereka membangun kantor seluas 3,9 meter persegi di taman mereka dengan peredam suara dan pemanas di bawah lantai.
"Bagi saya, lima langkah ke kantor itu benar-benar membantu menciptakan batasan antara pekerjaan dan rumah," kata laki-laki berusia 48 tahun itu.
"Produktivitas dan konsentrasi saya jauh lebih tinggi daripada di rumah karena di ruang kerja ini ada banyak cahaya alami, secara akustik menyenangkan dan tidak ada gangguan, selain mungkin seekor burung robin yang lewat."
Melanggar batas
Mungkin juga ada keuntungan psikologis memiliki ruang kerja khusus yang terpisah dari ruang pribadi Anda.
Sebelum pandemi, kantor menjadi area netral dengan estetika seragam di mana setiap orang memiliki akses ke sumber daya yang sama.
Namun sekarang proses 'mengundang' kolega ke rumah Anda melalui panggilan video dapat membuat Anda terjerat pengawasan di lingkungan Anda sendiri.
Ini mungkin sulit bagi orang-orang yang tidak memiliki rak buku yang dikurasi secara sempurna untuk ditempatkan di belakang kamera web mereka yang miring.
"Alih-alih dinilai dari penampilan fisik dan profesionalisme, fokus terhadap pakaian atau kerapian kita tiba-tiba berubah menjadi pertanyaan tentang peralatan yang Anda miliki, kualitas kamera, kejernihan mikrofon, pencahayaan kantor atau bahkan apakah Anda memiliki kantor di rumah," kata Peditto.
Rapat virtual juga mendobrak batas-batas lama antara kehidupan profesional dan ekspresi pribadi. Ini membuat ruang kerja pekerja rentan diperbandingkan secara eksplisit dan implisit.
Perbandingan itu mungkin akan sangat berpengaruh terhadap Anda jika bekerja dari kamar tidur ketimbang dari halaman rumah.
Ini dapat menjadi tantangan khusus bagi orang kulit berwarna, yang sekarang lebih banyak menyiarkan identitas pribadi mereka dari ruang hidup mereka.

Sumber gambar, Modulr Space Ltd
Bloom, profesor di Stanford, menyebut bahwa sebelum pandemi, mereka yang bekerja dari rumah memilih untuk melakukannya metode ini.
Urusan privasi, ruang, pilihan, dan anak-anak adalah empat faktor utama yang membuat pengalaman kerja jarak jauh saat ini berbeda.
Saat sebagian besar tenaga kerja global dipaksa bekerja di rumah, Bloom yakin masih banyak yang harus dipelajari bagaimana kondisi rumah yang membuat sebagian pekerja produktif dan sebagian lainnya gagal.
"Saat saya berbicara dengan perusahaan tentang siapa yang akan kembali ke kantor, salah satu faktor besarnya adalah, 'lingkungan rumah siapa yang paling bermasalah?'," kata Bloom.
"Sebelum Covid, biasanya ada aturan bahwa Anda harus memiliki ruangan khusus pada siang hari. Jadi Anda tidak boleh bekerja di kamar tidur karena majikan tahu itu dapat mempengaruhi kesehatan mental.
"Sekarang, aturan itu tidak berlaku lagi dan kita bisa melihat sendiri konsekuensinya," ujarnya.
Bloom memperkirakan metode kerja setelah pandemi lebih bersifat campuran. Artinya, mereka yang dapat bekerja dari rumah akan melakukannya sekitar dua hari dalam seminggu pada hari yang sama dengan kolega lain dalam tim mereka.
Model campuran ini pada dasarnya adalah kompromi. Ini adalah cara terbaik bagi orang yang menikmati pengalaman kerja jarak jauh dan juga bagi mereka yang menghitung hari sampai mereka dapat melihat meja kantornya lagi.
Versi bahasa Inggris dari artikel ini, How your space shapes the way you view remote work, bisa Anda baca di laman BBC Worklife.











