Sering marah mendengar suara rekan kerja mengobrol atau mengunyah? Mungkin Anda mengidap 'Misophonia'

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Zaria Gorvett
- Peranan, BBC Worklife
Tidak ada yang menyukai suara orang bersiul di kantor atau orang yang terus menerus menekan tombol pena mereka - tetapi bagi sebagian orang, suara-suara ini membuat geram. Mengapa?
Pada tahun 2016, para ilmuwan menempati Francis Crick Institute di London, sebuah fasilitas penelitian biomedis yang menelan biaya pembangunan sekitar £650 juta, atau sekitar US$837 juta.
Tempat itu dipuji sebagai katedral ilmu sejati - dengan langit-langit berkubah, jendela kaca tinggi, dan atrium pusat yang luas.
Tapi hanya satu tahun setelah pembukaan gedung, masalah timbul.
Di 'ruang terbuka' kolaboratif, tawa riuh dari rekan-rekan mereka yang merayakan gelar PhD berbaur dengan suara ratusan ilmuwan yang mendiskusikan proyek mereka - dan itu menciptakan lingkungan di mana, beberapa penghuni mengeluh, membuat mereka hampir tidak bisa berpikir, apalagi berkonsentrasi pada penemuan untuk Hadiah Nobel berikutnya.
Bagi sebagian dari kita, mendengarkan obrolan orang lain bisa sama mengesalkannya seperti memiliki seorang rekan kerja yang berulang kali menekan tombol pena mereka.

Sumber gambar, Getty Images
Sejak ditemukan pada tahun 1904, konsep kantor terbuka telah menjadikan tempat kerja modern sebagai mimpi buruk: ponsel dengan nada dering yang berisik; suara mengunyah permen karet; suara printer dan mesin fotokopi; hingga suara orang mengunyah makanan yang garing.
Di sebuah utas di situs Reddit, orang-orang melampiaskan perasaan mereka tentang berbagai suara kantor yang sangat spesifik.
Seorang penulis merasa gusar ketika perempuan yang duduk di dekatnya mengocok es dalam gelas plastik, sementara yang lain mengatakan bahwa mereka dapat mengidentifikasi dengan tepat apa yang dimakan rekan mereka - seperti selada - hanya berdasarkan suara kunyahan mereka.
Menurut survei 2015 yang disusun Avanta Serviced Office Group tentang suara-suara kantor yang paling menjengkelkan, yang menduduki peringkat pertama adalah suara pekerja yang mengobrol.

Sumber gambar, Getty Images
Lalu diikuti oleh batuk, bersin dan suara mengendus, suara orang yang menelepon keras-keras, hingga suara telepon berdering dan bersiul.
Mengapa kita merasa sangat sulit untuk menolerir keributan sehari-hari ini?
Kebisingan mempengaruhi kita dengan berbeda
Pertama, ada sejumlah besar variabilitas yang dapat ditoleransi individu.
Ada pekerja yang secara aktif dapat menikmati suasana kantor yang bising.
Anehnya, video "Office Sound 2 Hours" - yang merekam dua jam suara berisik kantor - saat ini memiliki sekitar 1.864.570 penonton di YouTube.
Bekerja dengan musik juga sangat umum; sebuah studi 2011 terhadap hampir 300 karyawan kantor di Inggris menunjukkan bahwa, rata-rata, mereka menghabiskan hampir sepertiga dari waktu mereka bekerja dalam seminggu untuk mendengarkan berbagai genre musik.
Beberapa orang mengatakan musik membantu mereka berkonsentrasi. Yang lain menyukainya karena alasan yang sangat berlawanan - bahwa musik memberikan pengalih perhatian saat mereka bekerja.

Sumber gambar, Getty Images
Beberapa perusahaan bahkan mengesampingkan preferensi individu sama sekali dan menyiarkan musik di seluruh kantor untuk meningkatkan produktivitas karyawan mereka.
Di ujung lain dari spektrum adalah mereka yang sulit sekali menolerir suara.
Misophonia adalah kelainan misterius yang baru dikenali di mana suara sehari-hari dapat memicu kecemasan, kemarahan, atau kepanikan yang luar biasa.
Bunyi-bunyian itu mencakup suara orang bersiul atau ketika orang mengatakan "ahh" setelah minum sedikit, atau suara orang menelan atau bernapas.
Jadi mengapa kita semua tidak terpengaruh oleh kebisingan dengan cara yang sama?

Sumber gambar, Getty Images
Kembali pada tahun 2011, para peneliti dari University College London dan University of London memutuskan untuk mencari tahu.
Pertama-tama, para peneliti meminta 118 siswa sekolah menengah perempuan untuk mengisi kuesioner, yang mengungkapkan apakah mereka orang yang ekstrovert atau introvert.
Selanjutnya para siswa dihadapkan pada serangkaian tantangan kognitif - dan untuk menambah kesulitan ekstra, mereka diminta untuk menyelesaikannya sambil mendengarkan musik garasi Inggris, atau di tengah keributan kelas.
Sementara, kelompok kontrol menyelesaikannya dalam situasi tenang.
Seperti yang diduga para peneliti, semua siswa bekerja lebih baik dalam kesunyian.
Tetapi mereka juga menemukan bahwa, secara umum - dengan pengecualian satu tes - semakin ekstrovert seseorang, semakin sedikit ia dipengaruhi oleh kebisingan.
Sifat ekstrovert membantu
Menurut salah satu teori terkemuka, ekstrovert secara inheren 'membutuhkan stimulasi', sehingga mereka cenderung mencari situasi yang meningkatkan gairah mereka - seperti lingkungan yang bising.
Sementara itu, introvert memiliki masalah sebaliknya; seperti yang dikatakan oleh penyair, novelis dan introvert Charles Bukowski:
"Orang-orang mengosongkan saya. Saya harus pergi untuk mengisi ulang.
Dengan pemikiran ini, masuk akal bahwa pekerja yang lebih introvert akan lebih terpengaruh oleh kebisingan karena itu bisa membuat mereka merasa sangat lelah.

Sumber gambar, Getty Images
Sebagai contoh, sebuah studi terhadap mahasiswa kedokteran menunjukkan bahwa mereka yang lebih introvert cenderung lebih sulit berkonsentrasi, dan merasa lebih lelah saat melakukan tugas matematika di tengah kebisingan lalu lintas yang mencapai 88 desibel (sekeras suara mesin pemotong rumput).
Alasan mengapa beberapa orang begitu gusar oleh suara-suara aneh, seperti suara es dikocok dalam gelas atau suara orang mengunyah selada, masih kurang jelas.

Sumber gambar, Getty Images
Penelitian tentang misophonia mungkin memberikan beberapa petunjuk; beberapa penelitian menemukan bahwa otak orang-orang dengan kelainan ini pada dasarnya berbeda.
Sebagai contoh, sebuah penelitian di tahun 2017 menunjukkan bahwa "suara tertentu" mengarah pada reaksi yang lebih kuat dari biasanya di bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan emosi dan menafsirkan sinyal tubuh, seperti rasa sakit.
Namun Misophonia adalah hal yang wajar.

Sumber gambar, Getty Images
Satu studi menunjukkan sebanyak satu dari lima orang secara konsisten terganggu oleh suara-suara tertentu, seperti suara orang membersihkan tenggorokan
Naturalis Charles Darwin, penulis Anton Chekhov dan novelis Marcel Proust semua diduga menderita kondisi tersebut.
Dalam kasus Proust, ia bahkan menutupi dinding kantornya dengan gabus kedap suara dan kerap mengenakan penutup kuping.
Ini mungkin karena kondisinya yang tidak mampu untuk menutup informasi sensorik yang tidak relevan - dalam bentuk kebisingan - dan ini dirasanya mengganggu kreativitas.
Ketenangan lebih efektif
Ada dua ide utama tentang mengapa kita terganggu oleh suara bising kantor. Yang pertama adalah karena kebisingan mengandung suara yang mirip dengan yang ada di kepala Anda.
"Beberapa tugas mengharuskan Anda untuk menggunakan 'suara batin Anda'- untuk mencoba mengingat berbagai hal secara berurutan," kata Nick Perham, seorang psikolog di Cardiff Metropolitan University.
"Misalnya, jika Anda mencoba mengingat nomor telepon seseorang, maka Anda mungkin akan menggumamkannya pelan-pelan."
Untuk tugas-tugas ini, menurut teori, setiap lingkungan yang berisik akan memecah konsentrasi Anda.
Gagasan kedua - dan yang digunakan Perham - adalah cara otak kita menangani informasi yang penting untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu dan cara mereka menangani kebisingan entah bagaimana bertentangan.
Diperkirakan seperti halnya asisten rumah Amazon, Alexa, yang harus mendengarkan orang 24 jam sehari untuk menangkap perintah, otak kita tidak akan pernah bisa mematikan apa yang terjadi di sekitar kita.

Sumber gambar, Getty Images
Bahkan ketika kita tidak secara sadar memperhatikan suara-suara itu, kita selalu mendengarkan urutan suara - seperti ping dari ponsel, lalu batuk, lalu bersin, lalu beberapa tertawa - hingga orang yang menyapa Anda.
Ini berarti bahwa ketika kita harus fokus pada urutan informasi lainnya, seperti daftar angka, segala jenis kebisingan sangat mengganggu.
Perham membandingkan seberapa baik 36 siswa mengerjakan tugas aritmatika mental yang mengharuskan mereka mengingat urutan angka, sementara mereka terpapar pada kebisingan.
Ia menemukan suara itu menghasilkan kinerja aritmatika mental yang secara signifikan lebih buruk.
"Pesan utamanya adalah sebagian besar orang bekerja paling baik saat sepi, terlepas dari apa yang mereka pikirkan."

Sumber gambar, Getty Images
Ini bahkan berlaku untuk musik. Dalam penelitian lain, Perham menemukan bahwa tidak masalah apakah orang suka atau tidak suka dengan musik yang mereka dengarkan, itu tetap membuat mereka bekerja lebih buruk pada "tugas mengingat" - di mana mereka diminta untuk mengingat daftar dalam urutan.
Hal ini memiliki implikasi kritis terhadap cara kita bekerja.
Jika kita semua benar-benar dipengaruhi oleh kebisingan, maka tren kantor terbuka yang modern memiliki konsep yang cacat.
Kita mungkin berbeda dalam preferensi - tetapi sistem biologi kita bersifat universal.
"Saya pikir penting untuk menyadari bahwa tidak semua orang bekerja dengan baik di lingkungan kantor terbuka yang bising," kata Courtney von Hippel, seorang psikolog di University of Queensland.
Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini Why office noise bothers some people more than othersdi laman BBC Worklife.











