Kenapa Swiss tetap memilih uang tunai ketimbang duit elektronik

Sumber gambar, Chris J Ratcliffe/Getty Images
- Penulis, Gillian Marr
- Peranan, BBC Capital
Ketika dunia mulai beralih ke pembayaran tanpa uang tunai, Swiss justru menerbitkan lembar uang kertas senilai Rp 13,9 juta.
Bulan lalu, Swiss meluncurkan uang kertas baru untuk disimpan di dalam dompet. Pecahan 1.000 franc berwarna ungu adalah uang terbaru yang dikeluarkan dalam rangkaian perombakan yang dilakukan Bank Nasional Swiss (SNB). Uang kertas ini berukuran sedikit lebih kecil dan menunjukkan dua tangan saling menjabat di atas bola dunia.
Dan ini bukan uang kertas biasa, melainkan salah satu yang paling berharga di dunia, nilainya sekitar 880 euro (Rp13,9 juta). Menurut angka terbaru SNB, lebih dari 48 juta uang baru ini beredar di masyarakat, mencakup sekitar 60% dari nilai semua uang kertas di Swiss.
Namun perombakan ini terjadi ketika negara-negara lain sedang perlahan-lahan menghapus uang kertas bernilai tinggi serta menurunnya penggunaan uang tunai di negara-negara Eropa, meskipun dengan laju yang berbeda-beda.

Sumber gambar, SNB Archive
Cara pembayaran dominan
Dalam diskusi tentang uang kertas baru ini pada pada awal Maret, Wakil Ketua SNB Fritz Zurbruegg menjelaskan bahwa uang tunai bagi masyarakat Swiss adalah "fenomena budaya" dan mengatakan pecahan 1.000 franc "sesuai dengan yang diinginkan masyarakat". Uang pecahan tersebut populer untuk jual-beli bernilai tinggi dan membayar tagihan di kantor pos, juga menjadi "penyimpan nilai", imbuhnya.
Di Swiss, uang tunai masih menjadi cara pembayaran yang dominan. Di sini ada asumsi bahwa setiap orang membawa uang tunai, bahkan dalam ekonomi digital yang semakin meningkat. Kebanyakan orang Swiss tidak kesulitan untuk membeli sandwich atau membayar potong rambut ketika mesin pembayaran kartu rusak.
Jika Anda harus membayar kopi dengan uang kertas 100 franc (Rp 1,3 juta), tidak perlu meminta maaf — tidak ada yang akan bertanya apakah Anda punya uang kecil. Dan untuk barang-barang yang lebih mahal, beberapa bank bahkan memungkinkan Anda untuk menarik hingga 5.000 franc (Rp 70 juta) per hari (atau 10.000 sebulan) di mesin ATM tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Membeli mobil yang harganya puluhan ribu franc dengan uang tunai juga bukan hal aneh.
Survei SNB pada tahun 2017 tentang perilaku pembayaran 2.000 warga Swiss menemukan bahwa mereka melakukan 70% transaksi mereka secara tunai. Kartu debit menyumbang 22%, diikuti oleh kartu kredit sebesar 5%. Metode inovatif seperti aplikasi pembayaran dan pembayaran kartu tanpa kontak sangat jarang dilakukan.
Di sisi lain, laporan tahun 2018 oleh Bank for International Settlements (BIS) mengatakan bahwa secara global, banyak pembayaran yang biasanya dilakukan secara tunai kini dilakukan secara elektronik. Sementara tetangga seperti Jerman tampaknya juga masih tertarik pada uang tunai, negara-negara Eropa lainnya seperti Swedia dan Belanda cepat-cepat menjauhinya.
'Uang betulan'
Lalu kenapa orang Swiss lebih suka uang tunai? Ada dua alasan sederhana — pertama, uang tunai secara luas dianggap sebagai bagian dari budaya mereka; kedua, masyarakat percaya bahwa uang tunai lebih memudahkan mereka untuk melacak pengeluaran.
Di Basel, Chris Troiani yang berusia 53 tahun membenarkan hal ini, mengatakan banyak orang yang ia kenal masih lebih merasa aman bila membawa uang tunai dalam jumlah besar di dompet mereka.
Philippe Chappuis, 44, lebih suka membayar dengan kartu atau aplikasi pembayaran seluler— tetapi untuk alasan praktis. "Saya tidak suka dompet saya diisi dengan koin," katanya. Namun ia bisa memahami mengapa orang menyukai uang tunai.
Menurut Chappuis, penggunaan suku bunga negatif SNB telah menimbulkan rasa ketidakpastian tentang bagaimana bank dapat bereaksi dan meningkatkan kekhawatiran akan uang virtual. Uang tunai lebih nyata, ujarnya: "Anda bisa yakin Anda memilikinya."
Jürgen Engler, seperti pedagang lainnya di Basel's Marketplatz, hanya menerima uang tunai. "Dua atau tiga pelanggan sebulan meminta untuk membayar dengan kartu," katanya. "Ketika saya pergi ke toko saya suka membayar dengan kartu, tetapi ketika saya pergi ke pasar atau ke restoran saya selalu membayar dengan uang sungguhan."
Namun terlepas dari popularitas uang yang sudah mengakar, penggunaan aplikasi pembayaran seluler seperti TWINT atau V Pay mulai tumbuh. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2017 menyimpulkan proporsi konsumen Swiss yang menggunakan pembayaran mobile secara kadang-kadang diperkirakan meningkat.
Jane Kettner, 29, adalah bagian dari generasi muda yang menggunakan metode pembayaran baru ini, meski ia masih merasa bahwa membayar dengan uang tunai memberinya kendali lebih besar atas pengeluarannya. "Kalau uangnya elektronik, lebih boros," katanya.

Sumber gambar, FABRICE COFFRINI/Getty Images
Poin ini ditegaskan kembali oleh Miguel Brendl, psikolog dan profesor pemasaran di University of Basel. "Kebanyakan orang merasa bahwa membelanjakan franc virtual terkesan seolah-olah Anda mengeluarkan lebih sedikit daripada saat membelanjakan franc fisik; tetapi bahkan jika ini benar, dan mungkin saja benar, ini tidak cukup untuk menjelaskan mengapa masyarakat lebih menyukai uang tunai," komentarnya.
Ada juga faktor identitas: Swiss lebih menyukai uang tunai sebagian karena cara mereka melihat diri mereka sendiri. Swiss adalah negara yang menghargai privasi dan tidak suka diberitahu apa yang harus dilakukan. Mereka menganggap diri mereka berbeda dengan para tetangga mereka di Eropa dan menjaga tradisi-tradisi yang membedakan mereka, seperti bahasa, sistem politik, dan mata uang.
Negara-negara tetangga menunjukkan bahwa uang kertas bernilai tinggi membantu para penjahat melakukan pencucian uang: 17 dari 19 bank sentral zona euro telah sepakat untuk berhenti memproduksi uang kertas 500 euro demi membantu mengurangi kejahatan, dan Bundesbank Jerman dan Bank Nasional Austria akan segera menyusul.

Sumber gambar, Sean Gallup/Getty Images
Uang kertas pecahan besar juga memudahkan penarikan uang dalam jumlah besar dari rekening bank, khususnya menjelang akhir tahun ketika Swiss harus melaporkan kekayaan mereka kepada bank. Fritz Zurbruegg menampik gagasan bahwa uang kertas 1.000 franc lebih sering digunakan oleh penjahat, namun mengakui bahwa meningkatnya permintaan uang tunai pada masa Natal bisa juga dikarenakan "faktor-faktor lain seperti kemungkinan penggelapan pajak".
'Privasi dan kenyamanan'
Patrick Comboeuf dari Institute of Digital Business di HWZ University of Applied Sciences di Zurich dan anggota dewan Fintechrockers, sebuah think tank yang dibuat oleh berbagai kelompok aktivis, percaya bahwa Swiss akan beralih dari uang tunai pada waktunya.
"Pemicu terbesar menuju adopsi pembayaran cashless yang lebih efisien adalah pengalaman terbaik yang dirasakan pengguna. Sayangnya, ini juga yang paling diabaikan dalam konsep apa pun yang tersedia di Swiss saat ini," menurutnya.
Namun ia percaya bahwa era digital mengalihkan kekuatan dari industri jasa keuangan ke konsumen, berujung pada fokus yang lebih besar pada layanan pelanggan.
Teknologi mata uang kripto (cryptocurrency) dan blockchain tetap menjadi topik hangat bagi perusahaan baru maupun perusahaan yang sudah mapan di Swiss, dan sebuah penelitian baru-baru ini oleh Universitas Lucerne menemukan bahwa pertumbuhan fintech Swiss meningkat secara signifikan pada tahun 2018 baik dalam hal jumlah perusahaan maupun modal ventura yang diinvestasikan.
Jonathan Rea, CEO Foinder, sebuah konsultan bisnis yang berbasis di Swiss, percaya bahwa adopsi mata uang kripto secara massal sebagai pengganti transaksi sehari-hari akan terjadi setidaknya satu dekade lagi.
"Kapan adopsi massal bisa terjadi, tergantung pada pertukaran antara privasi, kenyamanan, identitas diri, dan nilai tunai yang dirasakan sebagai perlindungan terhadap utang," ujarnya.
Sementara ini, banyak orang Swiss masih menghargai anonimitas dan kebebasan yang diberikan uang tunai kepada mereka. Uang kertas yang baru dirilis, singkatnya, adalah barang cantik — jika Anda bisa menyimpannya di dompet cukup lama.

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Why the Swiss still love cash di laman BBC Capital










