Apa yang terjadi dengan Saleem, anak Yaman yang fotonya mengejutkan dunia?

Keterangan video, Tahun lalu, tubuh Saleem yang bagai tengkorak buat dunia geger, bagaimana kondisinya kini?

Foto Saleem, anak usia tujuh tahun yang mengalami kelaparan di Yaman, mengejutkan dunia tahun lalu dan menjadi wajah penderitaan para warga di tengah konflik yang sekarang sudah masuk tahun ketiga.

BBC kembali berkunjung ke salah satu kawasan terparah dalam konflik di Yaman dan melihat kondisi Saleem yang saat ini.

Lebih dari 8.000 orang tewas di Yaman, termasuk 1.500 anak-anak, sejak koalisi pasukan pimpinan Arab Saudi turun tangan pada Maret 2015. Jutaan orang terpaksa mengungsi dan menyebabkan negara itu berada di ambang kelaparan.

saleem yaman
Keterangan gambar, Kondisi Saleem tahun lalu, saat usia tujuh tahun dan sangat ringkih.

Foto Saleem, dengan badan ringkih, mengejutkan dunia tahun lalu karena kondisi parah kekurangan gizi.

Saleem terbantu dengan bantuan darurat. Namun kekurangan gizi membuat pertumbuhan dan otaknya terganggu.

Ia tak bisa menjalani hidup normal dan saat ini keluarganya masih tetap kesulitan mendapatkan makanan.

"Saya makan roti dan teh, bila dapat. Terkadang saat matahari terbenam, saya hanya bisa minum teh," kata ibu Saleem.

'Hati tersayat'

Dari lebih 720 komentar dalam unggahan video tentang Saleem di Facebook BBC News - yang dibagikan sekitar 2800 kali- banyak yang mengungkapkan kesedihan atas penderitaan yang dialami anak-anak di Yaman ini.

saleem yaman
Keterangan gambar, Kondisi Saleem saat ini, pertumbuhan dan otaknya terganggu karena kurang gizi.

"Diingatkan tentang anak-anak di luar sana, yang menderita selalu membuat hati tersayat. Saya sendiri seorang ibu dan membuat saya menangis. Dunia perlu perubahan," tulis Cintia Kiss.

"Tak perlu menjadi ibu atau ayah untuk merasakan kesedihan (yang ditunjukkan dalam video ini," tulis Bence Szolnoki Chen.

Kejadian yang menimpa Saleem dan anak-anak Yaman lain mengingatkan pengguna media sosial lain Kym Gumuna, yang menulis, "Saya pernah mengalami kekuerangan gizi saat bayi. Melihat foto ini mengingatkan saya sendiri 35 tahun lalu. Saya diadopsi. Ingin rasanya mengadopsi bayi-bayi ini."

anak yaman
Keterangan gambar, Saleem bersama ibunya (kiri) yang masih tetap kesulitan mendapatkan makanan untuk keluarga.

Tahun lalu, terdapat sekitar 350.000 anak-anak yang mengalami kekurangan gizi seperti Saleem. Namun jumlah angka kurang gizi saat ini mencapai dua juta anak.

Kelaparan dan putus harapan juga dialami warga desa di pesisir Yaman yang menggantungkan hidup dengan mencari ikan.

Tetapi pergi melaut mencari ikan sangat berisiko. PBB mencatat berbagai serangan terhadap kapal nelayan.

Pihak Arab Saudi mengklaim sasaran mereka adalah kapal-kapal yang menyelundupkan senjata. Namun serangan-serangan ini menyebabkan banyak desa-desa mengalami kekurangan pangan.

Wabah kolera

anak yaman
Keterangan gambar, Saat ini terdapat sekitar 2 juta anak di Yaman yang mengalami kekurangan gizi akibat perang.

PBB mencatat Yaman sebagai krisis kemanusiaan terparah, namun dana yang diterima badan dunia ini kurang dari setengah dari yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kelaparan di seluruh negara.

Badan Kesehatan Dunia, WHO, juga mencatat wabah kolera yang mendekati angka 700.000 dan tak ada tanda-tanda mereda.

"Begitu menyebar, akan sangat, sangat sulit untuk diredam dan telah ada jumlah besar kasus dan kematian," kata Dominique Legros, dari bagian wabah penyakit WHO. "Penyakit ini menyebar seperti kebakaran hutan," tambahnya.

Wabah penyakit menyebar cepat di wilayah perang. WHO mengirimkan seorang pakar ke Bangladesh untuk mengkaji risiko wabah bagi pengungsi Rohingya yang lari dari kekerasan di Myanmar.

Di Yaman, kolera menyebabkan sekitar 2.090 kematian sejak akhir April. Jumlah kematian dapat ditekan namun penyebaran penyakit masih terus terjadi.

Risiko terkena kolera bagi anak-anak yang mengalami kekurangan gizi paling tidak tiga kali lebih tinggi karena kekebalan tubuh yang lemah.

Badan bantuan anak-anak Save the Children menyatakan kolera mudah dirawat namun perang yang menghancurkan sebagian besar sistem kesehatan dan terbatasnya pasok makanan dan obat-obatan menyebabkan anak-anak Yaman "terperangkap dalam lingkaran kelaparan dan penyakit."