Semarak mendukung Setan Merah di Brussel

- Penulis, Ging Ginanjar
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia di Brussel
Seluruh Belgia diliputi suasana berbeda hari-hari ini, seperti dalam susana pesta sepanjang waktu: bersemangat, penuh suka cita.
Negeri berpenduduk kurang dari 12 juta ini memang sedang dilanda 'pesta' Piala Dunia 2014.
Kerajaan kecil ini bagai bagai diguyur hujan adrenalin. Motif hitam, kuning, dan merah, yang merupakan warna bendera Belgia terlihat di mana-mana dalam berbagai bentuk.
Bendera dipasang di jendela-jendela dan teras-teras apartemen, stiker dan 'sarung' spion mobil, bandana, rumbai-rumbai, topi, pernak-perik yang dikenakan tua muda, laki perempuan.
Sebagian bis dan trem dicat khusus dengan warna hitam kuning merah, warna bendera Belgia.
Terompet sudah mulai terdengar ditiup dari mobil-mobil yang dihiasi atribut Setan Merah, julukan Tim Nasional Belgia.
Demam nonton bareng
Suasananya berbeda sama sekali dengan Piala Dunia sebelumnya.
Empat tahun lalu, saat final Piala Dunia 2010, saya berkeliling ibukota Brussel untuk mencari layar raksasa nonton bareng atau nobar pertandingan final Belanda lawan Spanyol. Hasilnya sia-sia.
Kali ini berbeda sama sekali. Layar raksasa nobar terpancang di berbagai wilayah.
Boleh dibilang hampir di setiap lapangan terdapat layar raksasa.
Berbagai acara yang diselenggaraan menjelang pertandingan lengkap dengan musik, makan-makan, minum-minum. Juga ada persiapan untuk pesta seusai pertandingan dengan pentas musik, makan dan minum lagi, dan berjoget.
“Ya maklumlah, baru kali ini Belgia kembali masuk putaran final lagi, jadi kita gembira sekali,” kata Alain, seorang warga Ixelles, kawasan selatan Brussel.
Lebih-lebih menjelang pertandingan pertama, Selasa 1 Juni, "Saya deg-degan juga, namanya juga pertandingan pertama. Tapi cukup yakin, karena lawannya kan Aljazair —bukan tim besar.
Tragedi Heysel

Alain berencana untuk bergabung bersama ribuan orang lain di stadion Raja Baudouin, di Heysel, utara Brusel.
Ini kandang Les Diables Rouges, atau Rode Duivels dalam bahasa Prancis dan Belanda untuk Setan Merah, julukan tim nasional Belgia.
Anda benar, ini memang lokasi Tragedi Heysel.
Di stadion ini 29 Mei 1985, saat pertandingan final Piala Champion Liverpool vs Juventus, terjadi kerusuhan supporter yang menewaskan 39 orang, sebagian besar pendukung Juventus.
Akibat peristiwa yang dikenal sebagai hari paling kelam dalam sejarah kompetisi Eropa itu, klub-klub Inggris dikucilkan dari kompetisi Eropa hingga 1991.
Khusus Liverpool -yang sebagaian pendukungnya dinyatakan sebegai pemicu perkara- mendapat setahun tambahan pengucilan serta tambahan pengucilan.
Hampi 30 tahun berlalu, tragedi akan selalu diingat namun sudah dilewati.
Stadion Heysel sudah dirombak.
Prakarsa masyarakat
Pelataran stadion berkapasitas 60.000 tempat duduk akan menjadi pusat nobar terbesar selama Piala Dunia 2014, khususnya jika Setan Merah bertanding.
Stadion mulai dibuka pukul 15:00 waktu Belgia dan menjelang pertandingan, publik akan disuguhi berbagai jenis pertunjukan musik.
Semuanya gratis, kecuali minuman dan dan jajanan kecil di kios-kios dadakan.
Pelataran stadion Heysel merupakan satu saja dari puluhan tempat nobar berlayar raksasa .
Layar-layar raksasa tempat nobar, digelar oleh seluruh commune atau setingkat pemerintah 'kecamatan' di kawasan Brussel yang berjumlah 19. Tetapi acara nobar dengan layar raksasa bukan melulu monopoli pemerintah-pemerintah lokal.
Berbagai kelompok masyarakat tak mau ketinggalan mengambil prakarsa.
Selain di lapangan-lapangan, juga di tempat-tempat pertemuan dan gedung pertunjukan.

Di Bozar, pusat kesenian kontemporer Belgia, acara nobar malah digabung dengan rangkaian acara Representasi Perempuan dalam Seni dan Media, yang antara lain terdiri dari diskusi dan pameran.
Peluang bisnis
Anais, seorang mahasiswi Universite Libre de Bruxelles (ULB) yang antusias, jadi sedikit bingung.
Sejak awal Selasa (17/06), ia sudah mengenakan rumbai-rumbai warna Belgia dan menghias wajahnya dengan warna hitam kuning merah.
“Tadinya saya mau ke Forest National sama teman-teman, tapi tertarik juga dengan acara di Bozar. Jadi nanti bagaimana mood-nya nanti. Kalau belum banyak minum bir akan ke Bozar, kalau sudah lebih banyak, ya ke Forest,” katanya sambil tertawa besar.
Yang dimaksud adalah Forest National, sebuah gedung serba guna raksasa, seperti Istora Senayan, yang biasa digunakan untuk acara olah raga ruang tertutup, juga konser-konser besar.
Di Forest ini, dalam setiap pertandingan Belgia di PD 2014 akan berlangsung Dance With The Devils.
Nonton bareng yang dilengkapi acara anak-anak muda dengan pertunjukkan musik sejumlah musikus terkenal Belgia.
Yang agak berbeda, di sini tidak gratis, melainkan dikenakan karcis masuk, sebesar EUR 7,5 hingga 13,5 atau sekitar Rp115.000 hingga Rp200.000.
Dimulai sejak pukul 16:00 dengan pertunjukkan musik, lalu nobar pertandingan Belgia-Aljazair untuk ditutup dengan joget hingga larut malam.
Dance With The Devils diselenggarakan serentak di tiga kota. Selain Forest di Brussel, juga berlanbgsung di Sportpaleis Antwerpen, kawasan yang berbahsa Belanda, dan di Spiroudome, Waterloo (kawasan yang berbahasa Prancis).
Yang pasti juga penuh dengan fans Setan Merah, tentu adalah kafe-kafe dengan televisi layar lebar dalam ruangan lebih kecil di seluruh penjuru kota di seluruh wilayah Belgia
Tentu yang paling diserbu pastilah Good Kompany. Kafe di kawasan turistik, Grand Place, ini belum lama dibuka dan pemiliknya adalah Vincent Kompany, kapten Setan Merah yang main klub Manchester City.
Politik sepak bola?
Belgia belakangan ini dilanda kekisruhan politik identitas, dengan ketegangan antara kawasan berbahasa Belanda di utara dan kawasan berbahasa Prancis di selatan.
Pasca Pemilu beberapa pekan lalu, Ketua NV-A -partai pemenang pemilu yang menginginkan pemisahan Belgia- Bart de Wever menjalankan upaya membentuk pemerinah Belgia yang baru.
Tapi suasana pascapemilu tersebut -yang sempat diwarnai wacana tentang pembelahan Belgia jadi dua negara Flander atau Vlaams dan Wallonie- seperti sudah terlupakan.
"Ah, itu urusan politikus yang berpandangan sempit," kata Leonard, seorang warga Scharbeek.
"Kita, rakyat, mending merayakan saja kehebatan tim kita, Setan Merah," kata pria yang berencana untuk nobar bersama teman-temannya di Stadion Raja Baudouin.
Yang harus dirayakan, tambah Leonard lagi, bukan sekadar lolosnya Belgia ke putaran final tapi juga kekuatan yang layak dibanggaka.
"Dua tahun lalu, sakit rasanya, kita tak lolos Euro 2012," tutur Leonard sambil menambahkan Setan Merah bukan saja lolos grup namun sangat diperhitungkan sebagai kuda hitam yang bisa mengalahkan siapa saja.
Bagaimanapun Leo menyadari peluang mereka kecil untuk menjadi juara dunia di Brasil 2014.
"Tapi Setan Merah akan bisa setidaknya mencapai semifinal, saya kira," sambil mengenang prestasi terbaik mereka sejauh ini sebaai semifinalis di Piala Dunia Meksiko 1986.
Jika Leonard benar maka dia, Anais, Alain, dan ratusan ribu warga Belgia -yang tak ikut ke Brasil- akan berpesta panjang dan siapa tahu keterusan sampai 13 Juli, ketika pertandingan final digelar.









