Revolusi sepak bola Belgia

Sumber gambar, AFP
Setelah satu dekade gagal tampil di ajang piala dunia, timnas Belgia muncul kembali di Piala Dunia 2014 Brasil dengan ditaburi pemain yang dijuluki 'generasi emas'.
Laga perdana Belgia melawan Aljazair di Grup H, Selasa (17/06) malam WIB, merupakan pembuktian status kuda hitam yang disematkan kepada anak asuh Marc Wilmots.
Selama kualifikasi Zona Eropa, Setan Merah -julukan timnas Belgia- tidak terkalahkan dalam 10 partai dengan delapan kali kemenangan dan dua hasil seri.
Layak saja jika Eden Hazard dan kawan-kawan kemudian lebih diunggulkan oleh para analis sepak bola sebagai tim terkuat di Grup H di atas Rusia, Aljazair dan Korea Selatan.
Walaupun kompetisi liga profesional negara itu relatif tidak dikenal, sebagian besar skuad Belgia telah memperkuat klub-klub elit Eropa, mulai Inggris, Spanyol, Italia hingga Jerman.
Kemunculan kembali Belgia sebagai kuda hitam dalam Piala Dunia Brasil, tentu saja, cukup mencengangkan, karena praktis dalam sepuluh tahun terakhir, mereka gagal bersaing di ajang piala eropa dan piala dunia.
Terakhir kali Belgia tampil sebagai skuad yang cemerlang pada tahun 1980-an ketika Enzo Scifo, Franky Vercautern dan Jan Ceulemans berhasil mencapai semi final Piala Dunia 1986.

Sumber gambar, Getty
Setelah masa keemasan itu, prestasi mereka melorot. Di Piala Eropa 2000, sebagai tuan rumah, mereka gagal total, sementara di Piala Dunia 1998, Belgia kalah bersaing dengan Belanda dan Meksiko di babak penyisihan.
Revolusioner
Tapi, bagaimana Belgia akhirnya mampu membangun 'generasi emas' dan menjadi tim yang ditakuti?
Mantan direktur tim teknis timnas Belgia, Michel Sablon, mengatakan, dia melakukan pendekatan "revolusioner" untuk memmbentuk timnas Belgia yang tampil di Piala Dunia Brasil.
Sablon telah terlibat dalam persepakbolaan Belgia ketika negara itu melahirkan pemain-pemain top pada tahun 1980-an.
Dia menuliskan rencananya pada September 2006 untuk apa yang disebutnya sebagai "revolusi sepak bola Belgia".

Sumber gambar, AFP
Pertama, dia mempopulerkan formasi permainan 4-3-3 ke semua klub, sekolah sepak bola, pelatih muda di seluruh Belgia, seperti yang dia saksikan di sekolah sepakbola di Prancis, jerman dan Belanda.
"Ini tidak mudah untuk memberitahu mereka agar menghentikan gaya permainan mereka yang sudah dipraktekkan bertahun-tahun," kata Michel Sablon, mantan direktur teknis Belgia, kepada wartawan BBC Sport, Ben Smith.
Pembinaan usia muda
Kedua, dia menekankan pentingnya pembinaan dan pengembangan pemain usia muda, dan melarang mereka terlibat dalam liga domestik. Sablon melakukan studi dengan menonton rekaman video 1.500 laga pemain usia muda.
Ketiga, Sablon juga membuat aturan melarang pemain usia muda yang sudah memperkuat U-19 tidak boleh kembali memperkuat U-17. "Begitu mereka melangkah ke tingkatan di atasnya, maka mereka harus terus meningkatkan kemampuannya, dan tidak kembali ke awal," jelasnya.
Pada tahun 2009, tiga tahun setelah rencana itu dibentuk, hasil pembinaan tim usia muda Belgia mulai membaik.
Menurut Sablon, para pemain usia muda terbaik hasil pembinaan itu kembali dilatih secara intensif dengan didanai pemerintah. Mereka juga diminta menyebarkan ilmunya ketika kembali ke klub asalnya.
Sistem seperti ini telah menghasilkan pemain seperti Dries Mertens yang kini memperkuat Napoli, penyerang Zenit St Petersburg, Axel Witsel, serta gelandang Tottenham Hotspur, Mousa Dembele dan kiper Liverpool, Simon Mignolet.

Sumber gambar, Reuters
Klub elit Eropa
Keberhasilan sistem pembinaan usia muda ini kemudian ditandai kehadiran pemain-pemain muda Belgia yang bermain di klub-kulb elit Eropa.
Enam tahun yang lalu, Vincent Kompany adalah salah satu dari dua pemain Belgia yang bermain di Liga Primer Inggris. Lainnya adalah Carl Hoefkens, bek sayap, yang berperan membantu West Brom promosi ke liga primer di musim lalu.
Kini, daftar pemain Belgia yang merumput di liga-liga elit Eropa, makin panjang, seperti sosok penyerang Adnan Januzaj di Manchester United dan Eden Hazard yang kini menjadi ikon Chelsea.

Sumber gambar, AFP
Bagaimanapun, di atas kertas, timnas Belgia saat ini memiliki kemampuan untuk bersaing dengan timnas manapun di Piala Dunia Brasil. Tapi tentu saja, kemampuan ini belum teruji.
Laga Belgia melawan Aljazair di Grup H, Selasa (17/06) malam nanti, adalah ajang pembuktian pelatih Marc Wilmots bersama anak asuhnya yang dijuluki 'Generasi emas'.









