Kontingen Indonesia tiba di London

Kontingen utama Indonesia untuk Olimpiade London 2012 yang terdiri dari 44 atlet dan ofisial tiba di Bandar Udara Heathrow pada Senin, 23 Juli.
Mereka tiba di bandar udara terbesar Inggris dalam dua penerbangan.
Kedatangan mereka disambul oleh Duta Besar RI untuk Inggris Raya, Hamzah Tayeb, dan sekelompok mahasiswa Indonesia yang mengibarkan bendera merah putih ukuran kecil.
Indonesia mentargetkan tradisi medali emas, kali ini diharapkan dari cabang bulutangkis untuk pasangan ganda campuran Liliyana Natsir/Tantowi Ahmad.
"Tapi mereka undiannya langsung menghadapi pemain peringkat atas, bagaimanapun peringkat yang di atas itu sudah mereka kalahkan," kata Ketua Kontingen Indonesia Erick Thohir kepada BBC Indonesia di Bandara Heathrow.
Saat ini Liliyana/Tantowi berada di peringkat tiga dunia, di bawah peringkat satu asal Cina Zhang Nan/Zhao Yunlei dan peringkat dua, Xu Chen/Ma Jin, yang juga berasal dari Cina.
Tetap optimis
Bagaimanapun Liliyana dan Tantowi sendiri mengaku tetap otimpis dan akan berupaya semaksimal mungkin.
"Kami tidak terlalu memikirkan beban itu dan akan bermain sebaik mungkin saja," kata Liliyana.
Saat ini pasangan ganda campuran Liliyana/Tantowi berada di peringkat tiga dunia.
"Ya kalau Olimpiade semua pemain berat, jadi kita main maksimal saja," tutur Tantowi.
Kontingen Indonesia langsung diangkut dengan bus ke perkampungan atlet di Olympic Park, London timur.
Pada pukul 1900 waktu London akan diadakan upacara pengibaran bendera Indonesia di perkampungan atlet.
Cari pengalaman

Atlet termuda Indonesia di Olimpiade 2012, Diaz Kusumawardani, dari cabang menembak mengaku lebih mencari pengalaman.
Masih usia 16 tahun, Diaz praktis baru turun dalam kejuaraan internasional di olimpiade setelah menggeluti cabang ini tiga tahun lalu.
"Saya akan berusaha sebaik mungin. Ini pengalaman berharga buat saya," tutur Diaz yang akan turun di nomor senapan angin.
Pelatihnya, Maolan, mengatakan bahwa keikutsertaan Diaz lebih merupakan strategi jangan panjang.
"Dia baru 16 tahun, jadi kita melihat sebagai investasi karena cabang menembak ini tidak perlu fisik yang tinggi dan besar, jadi ada peluang untuk berprestasi," tutur Maolan.
Sedangkan perenang muda Indonesia, I Gede Siman, berharap bisa memperbaiki catatan waktunya di ajang olimpiade.
"Sekarang catatan saya 55,5 detik dan kalau untuk delapan besar itu rata-rata 54 detik, jadi saya berharap bisa mempertajam waktu," tutur perenang 100 meter gaya punggung tersebut.









