Bila mobil tak lagi kencang

Sumber gambar, AP
Ingatlah kembali akan insiden terjadi di GP Malaysia seminggu yang lalu yang melibatkan tiga pembalap ini: juara F1 Sebastian Vettel, Jenson Button dan Narain Karthikeyan.
Sebetulnya dua insiden yang terpisah. Yang pertama Button menabrak Karthikeyan ketika hendak mendahului di sebuah belokan. Tak lama kemudian ganti Vettel yang menabrak Karthikeyan di lintasan lurus.
Button seperti biasa bereaksi dengan sangat kalem. Dan usai balapan, pembalap McLaren mengaku bersalah dan terburu nafsu untuk mendahului padahal celah yang tersedia untuk mendahului Karthikeyan terlalu kecil dan sempit.
Vettel lain cerita. Walau mobilnya bertabrakan dengan Karthikeyan namun ia bisa mendahului pembalap India itu. Namun orang langsung terpana tak percaya melihat Vettel yang mengacungkan jari tengah kepada pembalap dari HRT itu.
Sempat muncul pendapat di kalangan F1 agar menghukum tindakan Vettel itu.
Tak cukup, pembalap Red Bull dalam sebuah wawancara usai lomba menyebut Karthikeyan pembalap papan bawah yang goblok.
Tidak menerima kekalahan

Sumber gambar, Reuters
Di Jerman dalam wawancara lain ia menyebut Karthikeyan dengan mentimun yang dalam konotasi di Jerman ditujukan untuk pengemudi yang buruk di jalanan.
Dalam insiden antara Vettel dan Karthikeyan, pembalap India itu memang mendapat hukuman karena seperti tidak memberi ruang bagi pembalap yang sudah terlalu jauh posisinya dalam balapan untuk mendahuluinya.
Tetapi ternyata persoalannya tidaklah segamblang itu. Seorang tokoh F1 menyebutkan kesalahan justru tidak bisa ditimpakan kepada Karthikeyan.
''Itu total kesalahan Vettel. Ialah yang harus memberi tempat bagi Karthikeyan untuk menepi. Yang harus ia lakukan adalah menunggu beberapa sentimeter saja, tetapi ia malah memotong Karthikeyan. Jelas bahwa ia frustasi dan itu merugikan dirinya sendiri.''
Publik di Jerman walau banyak membicarakan tingkah Vettel ini banyak yang mengaku tidak terkejut.
Vettel, kata banyak orang Jerman, memang tidak tahu menerima kekalahan dengan besar hati.
Faktor mobil
Selama dua tahun ini, terutama tahun 2011, Vettel menjadi juara dunia dengan dominasi total. Bukan hanya karena kemampuan Vettel yang prima tetapi juga karena mobil Red Bull diakui pesaingnya sangat luar biasa.
Tetapi tahun ini mobil Red Bull tidak sekuat sebelumnya. Para pengamat menyebut McLaren, Mercedez dan bahkan Lotus memiliki mobil yang sama kuat kalau tidak dikatakan lebih bagus.
Vettel pasti merasakan hal itu ketika GP Australia yang membuka musim balap tahun ini di gelar tiga minggu lalu.
Dominasi yang seperti menjadi haknya seperti menguap begitu saja. McLaren mendominasi posisi start satu dua.
Kalau orang mengira, atau Vettel menganggap, itu sebagai kebetulan, maka keraguan menjadi hilang ketika lagi-lagi McLaren memegang posisi satu dua di GP Malaysia.
Vettel tahu ia perlu menjaga agar tidak terlalu ketinggalan angka dari duo pembalap McLaren kalau ingin mempertahankan gelarnya.
Mobil Red Bull bisa diperbaiki seiring waktu untuk pada akhirnya bisa bersaing dengan McLaren. Itulah sebabnya ia tidak ingin tertinggal terlalu jauh dari duo McLaren di awal-awal musim.
Ujian
Ia bisa dikatakan beruntung menyelip di antara dua pembalap McLaren, Button dan Lewis Hamilton, di GP Australia. Hamilton yang memulai lomba dari posisi terdepan salah strategi dan terpuruk di posisi tiga.
Di GP Malaysia ia melihat kesempatan untuk sekali lagi melakukan apa yang terjadi di Australia seminggu sebelumnya. Tapi kali ini ia terlalu bernafsu dan Karthikeyan tak beruntung ada di depannya. Terjadilah apa yang terjadi.
Sebetulnya kecelakaan semacam ini simtomatik pada Vettel. Tahun 2010 saat menjadi juara untuk pertama kalinya, hampir saja ia gagal karena berulang kali mengalami kecelakaan.
Kalau bukan karena superiotas mobil Red Bull, ia niscaya kalah.
Ketika itu ia tenang, yakin dan percaya diri.
Kini dengan mobil yang tidak terlalu kuat dibanding yang lain, ia secara mental diuji. Untuk sementara harus dikatakan, ia gagal.









