Pelatih klub sepak bola Mesir dipukuli

Sumber gambar, AP
Pelatih sepak bola klub Al-Ahly, Mesir, mengatakan ia dipukuli dan melihat sendiri para pendukung meninggal dalam kerusuhan menyusul pertandingan dengan klub Al-Masry, yang menelan 74 korban tewas.
Pelatih Al-Ahly, Manuel Jose, telah kembali ke negaranya Portugal dan menuturkan insiden di Mesir kepada situs klub sepak bola.
"Saya dipukul dan ditendang di leher, kepala dan kaki. Saya melihat para pendukung kami meninggal dan kami tidak mampu berbuat apapun," kata Jose.
Sementara asisten pelatih Pedro Barny mengatakan pihak keamanan tidak berbuat banyak dalam menangani kerusuhan.
"Apa yang terjadi merupakan bencana yang sulit digambarkan. Kami mencoba menyelamatkan sejumlah pendukung kami, namun banyak yang meninggal di depan mata kami," kata Barny.
Federasi sepak bola Mesir mengumumkan dihentikannya pertandingan semua liga di negara itu.
Sementara itu, Perdana Menteri Mesir Kamal al-Ganzouri mengumumkan hari Kamis (2/2) bahwa semua anggota dewan federasi sepak bola dipecat.
Departemen dalam negeri Mesir mengatakan korban yang meninggal, termasuk seorang polisi, dan korban yang luka-luka mencapai 248 orang, 14 diantaranya polisi.
Seruan FIFA
Presiden badan sepak bola dunia (FIFA) Sepp Blatter meminta asosiasi sepak bola Mesir untuk memberikan penjelasan tentang penyebab kerusuhan yang menyebabkan tewasnya 74 orang di Port Said.
"Saya mengerti kemarahan dan keterkejutan rakyat karena bencana itu. Hari ini adalah hari gelap bagi sepak bola dan ktia harus mengambil langkah untuk menjamin bencana seperti itu tidak terjadi lagi," kata Sepp Blatter kepada ketua asosiasi sepak bola Mesir (EFA) Samir Zaher.
"Sepak bola adalah kekuatan untuk sesuatu yang baik dan kita tidak boleh membiarkan sepak bola terganggu oleh mereka yang memiliki niat jahat," tambah Blatter.
Para aktivis Mesir menuduh polisi dan militer gagal menghentikan kerusuhan itu.
Kerusuhan bermula saat para pendukung Al-Masry menyerbu lapangan setelah kemenangan mengejutkan 3-1 atas juara liga musim pertandingan lalu, Al-Ahly.
Para pendukung Al-Masry dilengkapi dengan pisau dan pemukul serta batu mengejar para pemain dan pendukung tim lawan, Al-Ahly yang berlari ke arah keluar stadion, menurut para saksi mata.
"FIFA tetap mendukung Anda pada saat sulit seperti ini dan akan menyediakan bantuan yang diperlukan," kata Blatter.









