Piala Dunia 2022: 'Hak asasi manusia berlaku universal' - asosiasi sepak bola Eropa kritik FIFA yang meminta peserta Piala Dunia Qatar 'fokus pada sepak bola'

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Laura Scott
- Peranan, BBC Sport
Sepuluh asosiasi sepak bola Eropa, termasuk Inggris dan Wales, mengatakan "hak asasi manusia bersifat universal dan berlaku di mana saja".
Ini menanggapi sikap FIFA yang sebelumnya meminta negara-negara yang berlaga di Piala Dunia Qatar agar "fokus pada sepak bola".
Asosiasi sepak bola dunia itu menulis surat kepada 32 tim yang berpartisipasi dalam Piala Dunia, merespons rencana protes damai beberapa pemain yang akan digelar pada 20 November.
Tuan rumah Qatar dikritik karena sikapnya terhadap hubungan sesama jenis, catatan hak asasi manusia, dan perlakuannya terhadap pekerja migran.
Surat FIFA lantas dikritik oleh Human Rights Watch, Amnesty International dan aktivis LGBT+ di Inggris dan Wales.
Seperti apa sikap UEFA?
Sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh anggota Kelompok Kerja UEFA bidang hak asasi manusia dan hak-hak buruh mengatakan akan "terus menekan" FIFA untuk menjawab isu-isu luar biasa seputar pekerja migran.
Meskipun, di sisi lain UEFA juga mengapresiasi upaya Qatar untuk mengatasi isu tersebut.
"Kami mengakui, dan menyambut baik, seperti yang telah kami lakukan di masa lalu, bahwa kemajuan signifikan telah dibuat oleh Qatar, khususnya terkait dengan hak-hak pekerja migran, dengan dampak perubahan legislatif yang ditunjukkan dalam laporan terbaru Organisasi Buruh Internasional," kata pernyataan itu.
"Kami menyambut baik jaminan yang diberikan oleh Pemerintah Qatar dan FIFA mengenai keselamatan, keamanan, dan penyertaan semua penggemar yang melakukan perjalanan ke Piala Dunia, termasuk penggemar LGBTQ+.
"Kami juga menyadari bahwa setiap negara memiliki masalah dan tantangan dan kami setuju dengan FIFA bahwa keragaman adalah kekuatan.

Sumber gambar, Getty Images
"Namun, merangkul keragaman dan toleransi juga berarti mendukung hak asasi manusia. Hak asasi manusia bersifat universal dan berlaku di mana saja."
Dalam berbagai kesempatan, Menteri Luar Negeri Qatar mengatakan kritik terhadap negaranya sebagai tuan rumah Piala Dunia "tidak mewakili seluruh dunia".
Surat FIFA, yang ditandatangani oleh presidennya Gianni Infantino dan sekretaris jenderal Fatma Samoura, mendesak agar sepak bola tidak "diseret" ke dalam "pertempuran" ideologis atau politik.
Sepak bola juga seharusnya jangan "memberikan pelajaran moral", kata FIFA.
Bagaimana sikap Asosiasi Sepak bola Inggris?
Asosiasi sepak bola Inggris mendukung seruan agar kompensasi Qatar memberikan kompensasi untuk "cedera atau kematian apa pun yang terkait dengan proyek konstruksi apa pun" yang berhubungan dengan Piala Dunia.
"Kami akan terus mendukung momentum untuk perubahan positif dan progresif dan terus mengadvokasi hasil yang konklusif dan pembaruan pada dua masalah utama yang telah kami diskusikan dengan FIFA untuk waktu yang lama," lanjut pernyataan Kelompok Kerja UEFA.
"FIFA telah berulang kali berkomitmen untuk memberikan jawaban konkret tentang masalah ini - dana kompensasi untuk pekerja migran, dan konsep pusat pekerja migran yang akan dibuat di Doha - dan kami akan terus mendesak agar ini diberikan.

Sumber gambar, JEWEL SAMAD/AFP
"Kami percaya pada kekuatan sepak bola untuk memberikan kontribusi positif dan kredibel lebih lanjut untuk perubahan berkelanjutan yang progresif di dunia."
Pada Sabtu, para penggemar sepak bola melakukan aksi protes di pertandingan Bundesliga di Jerman.
Jawaban Qatar atas kritik terhadap negaranya
Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani mengatakan kritik terhadap negaranya sebagai tuan rumah Piala Dunia adalah "kemunafikan", sementara seruan untuk boikot "dilakukan oleh sejumlah kecil orang, paling banyak di 10 negara, yang sama sekali tidak mewakili seluruh dunia".
Dan dalam sebuah wawancara dengan Sky pada hari Minggu, ia menambahkan orang-orang "tidak dapat menerima negara kecil dari Timur Tengah" yang menjadi tuan rumah Piala Dunia.
"Protes dari jauh bukanlah solusi," katanya.
Baca Juga:
- Tragedi Kanjuruhan: Pembenahan sepak bola perlu dibarengi 'perombakan' PSSI - 'Jangan hanya revitalisasi stadion'
- Tragedi Kanjuruhan: Komnas HAM temukan 'pelanggaran pidana' - 'Harus ada pertanggungjawaban hukum terhadap meninggalnya 135 orang'
- Tragedi Kanjuruhan: Korban meninggal dunia bertambah menjadi 135 orang
Apa isi surat FIFA?
Surat yang ditandatangani oleh presiden FIFA Gianni Infantino dan Sekretaris Jenderal Fatma Samoura dan dilihat oleh BBC, berbunyi, "Kami tahu sepak bola tidak hidup dalam ruang hampa dan kami sama-sama menyadari bahwa ada banyak tantangan dan kesulitan yang bersifat politik di sekitar dunia.
"Tapi tolong jangan biarkan sepak bola terseret ke dalam setiap pertarungan ideologis atau politik yang ada.
Infantino menambahkan, "Di FIFA, kami berupaya menghormati semua pendapat dan keyakinan, tanpa membagikan pelajaran moral ke seluruh dunia. Tidak ada satu orang atau budaya atau bangsa yang "lebih baik" dari yang lain. Prinsip ini adalah batu fondasi sikap saling menghormati dan non-diskriminatif.
"Dan ini juga salah satu nilai inti sepak bola. Jadi, tolong ingat itu semua dan biarkan sepak bola menjadi pusat perhatian.
"Kami memiliki acara dan kesempatan unik untuk menyambut dan merangkul semua orang, tanpa memandang asal, latar belakang, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, atau kebangsaan."
Rencana protes
Tuan rumah Qatar telah dikritik karena sikap kerajaan itu terhadap hubungan sesama jenis, catatan hak asasi manusianya, dan perlakuannya terhadap pekerja migran.
Kritik tak berhenti di situ. Beberapa pemain bahkan berencana menggelar protes damai selama putaran final Piala Dunia berlangsung sejak 20 November mendatang.

Sumber gambar, EPA
Harry Kane dari Inggris dan sembilan kapten tim Eropa lainnya akan mengenakan pita lengan 'One Love'.
Tim nasional Denmark menyatakan bakal memakai kaus "yang tidak mencolok" untuk memprotes Qatar. Hummel selaku penyedia kaus timnas Denmark mengatakan "tidak ingin terlihat" mencolok dalam turnamen yang diklaim "telah menelan ribuan nyawa".
Kemudian, timnas Australia telah merilis sebuah video yang mendesak Qatar untuk menghapus undang-undang tentang hubungan sesama jenis.
Paris, dan kota-kota Prancis lainnya, menolak untuk menayangkan pertandingan Piala Dunia Qatar di tempat umum, meskipun Prancis merupakan juara bertahan.
'Coba membantu sebanyak yang kami mampu'
Saat berbicara pekan ini, manajer Liverpool Jurgen Klopp mengatakan "tidak adil" untuk mengharapkan pemain membuat pernyataan politik atau protes di turnamen.
Gelandang timnas Inggris Jordan Henderson mengatakan kepada BBC Radio 5 live Breakfast, "Banyak pertanyaan ditujukan kepada pemain mengenai apakah seharusnya Piala Dunia dimainkan di sana dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu, tetapi para pemain tidak memutuskan di mana Piala Dunia dimainkan.

Sumber gambar, Reuters
"FIFA memutuskan itu dan itu adalah pertanyaan yang harus mereka jawab. Bagi kami sebagai pemain, kami hanya bermain sepak bola dan mencoba bersuara dengan cara tertentu untuk membantu sebanyak yang kami mampu."
Dia menambahkan, "Kami melakukan hal-hal kecil seperti itu untuk mencoba dan menunjukkan kepada orang-orang bahwa kita semua adalah satu, kita semua inklusif dan itulah sebabnya kampanye [pita lengan kapten Harry Kane] dikemukakan.
"Jika Anda melakukan hal yang benar, itu yang paling penting. Kecuali semua orang tidak akan hadir, maka tidak peduli apa yang orang katakan, itu tidak akan pernah cukup."
Beth Mead dari timnas putri Inggris mengatakan pada hari Kamis bahwa turnamen diadakan di Qatar adalah hal yang "mengecewakan".
Mead, yang secara terbuka mengaku lesbian, tidak menganggap negara Teluk itu sebagai "tempat yang tepat" untuk menggelar turnamen tersebut.
Hal-hal kontroversal menjelang Piala Duniadi Qatar
Masalah di luar lapangan sebelum Piala Dunia digelar adalah larangan FIFA terhadap Rusia setelah negara itu menginvasi Ukraina.
Selain itu, Persatuan Sepak Bola Ukraina telah menyerukan agar Iran dilarang tampil di Piala Dunia karena "pelanggaran hak asasi manusia yang sistematis". Ukraina meyakini tindakan represif terhadap rentetan demonstrasi di negara itu "boleh jadi melanggar prinsip dan norma" FIFA.
Piala Dunia telah dipindahkan ke musim dingin untuk pertama kalinya dalam 92 tahun sejarahnya.
Qatar awalnya mengusulkan untuk menjadi tuan rumah putaran final selama musim panas di stadion tertutup ber-AC, tetapi rencana itu ditolak.
Penyelenggara Piala Dunia Qatar menyatakan "semua orang dipersilakan" untuk mengunjungi negara itu untuk menonton sepak bola, dan tidak seorang pun akan didiskriminasi.

Baca lebih lanjut soal Piala Dunia Qatar 2022

Sebanyak tujuh stadion baru telah dibangun untuk acara tersebut, termasuk bandara, jalan, dan sekitar 100 hotel.
Pemerintah Qatar mengatakan 30.000 pekerja asing telah dipekerjakan hanya untuk membangun stadion-stadion. Sebagian besar berasal dari Bangladesh, India, Nepal, dan Filipina.
Kelompok hak asasi manusia mengeluh tentang perlakuan terhadap pekerja asing di Qatar, dan jumlah pekerja migran yang meninggal di sana.
Pada Februari 2021, harian Inggris the Guardian mengatakan 6.500 pekerja migran dari India, Pakistan, Nepal, Bangladesh, dan Sri Lanka telah meninggal di Qatar sejak memenangkan tawaran Piala Dunia pada 2010.
Jumlah tersebut didasarkan pada angka yang diberikan oleh kedutaan negara-negara asal para pekerja migran di Qatar.
Namun, pemerintah Qatar mengatakan jumlah itu menyesatkan, karena tidak semua kematian yang tercatat adalah orang-orang yang bekerja pada proyek-proyek terkait Piala Dunia.
Pemerintah Qatar mengatakan catatan kecelakaan yang dimilikinya menunjukkan bahwa antara 2014 dan 2020, ada 37 kematian pekerja di lokasi pembangunan stadion Piala Dunia, hanya tiga di antaranya "terkait pekerjaan".
BBC Arabic telah mengumpulkan bukti yang menunjukkan bahwa pemerintah Qatar kurang melaporkan kematian di antara pekerja asing.
Asosiasi Sepak Bola Inggris telah mendukung seruan agar kompensasi diberikan untuk pekerja yang "cedera atau meninggal terkait proyek konstruksi apa pun" untuk Piala Dunia.












