Tragedi Kanjuruhan: Dapatkah Indonesia belajar dari masa kelam persepakbolaan Inggris?

Sumber gambar, PA Media
Pada 1980-an, sepak bola Inggris dinodai oleh aksi kekerasan hooligan dan banyak stadion berada dalam kondisi memprihatinkan.
Kombinasi inilah yang menyebabkan malapetaka besar di tiga stadion. Akan tetapi, tragedi-tragedi tersebut justru mendorong berbagai pemangku kepentingan untuk mengubah tata kelola pertandingan dan penonton.
Apakah pelajaran dari tiga tragedi besar di Inggris membantu pemerintah Indonesia menciptakan transformasi tata kelola persepakbolaan pascatragedi di Stadion Kanjuruhan yang menyebabkan setidaknya 132 orang meninggal dunia?
Transformasi
"Kami tidak dalam posisi menguliahi siapapun. Sepak bola kami punya sejarah tragedi-tragedi, meskipun kami mengalami transformasi sejak Hillsborough."
Pernyataan itu diucapkan David Conn, jurnalis dan penulis pemenang beragam penghargaan, saat merujuk rangkaian kejadian pada 15 April 1989.
Kala itu, sebanyak 95 pendukung Liverpool FC meninggal dunia dalam tragedi Stadion Hillsborough di Sheffield (dua pendukung lainnya belakangan meninggal dunia setelah mengalami cedera parah).
Baca juga:

Empat tahun sebelumnya—hanya berjarak dua pekan antara satu tragedi dengan tragedi lainnya—sebanyak 56 orang meninggal dalam kebakaran di Stadion Bradford City dan sebanyak 39 orang meninggal di Stadion Heysel, Brussels, akibat huru-hara dalam pertandingan final Piala Eropa antara Liverpool FC dan Juventus.
Dari tiga tragedi itu, Hillsborough menjadi pendorong revolusi tata kelola pertandingan sepak bola, tidak hanya di Inggris, tapi juga di seluruh dunia.
'Kegagalan ekosistem'
Hasil laporan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) bentukan pemerintah Indonesia yang dirilis pada 14 Oktober menyebut penggunaan gas air mata oleh kepolisian di Stadion Kanjuruhan merupakan faktor penyebab kematian banyak penonton di stadion tersebut.
Namun, jari telunjuk juga mengarah kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
TGIPF secara khusus menyoroti PSSI dan pimpinan liga sepak bola Indonesia yang disebut "cenderung mengabaikan berbagai peraturan dan standar yang sudah dibuat sebelumnya, serta saling melempar tanggungjawab pada pihak lain."
Baca juga:
- Tragedi Kanjuruhan: PSSI disebut melakukan 'pembiaran' atas pelanggaran regulasi keselamatan dan keamanan kompetisi
- Trauma penyintas Tragedi Kanjuruhan: 'Terinjak-injak, sesak napas, pingsan - saya pasrah, kalau mati di sini tak apa-apa'
- Kisah pilu di Pintu 13 dan 14 Stadion Kanjuruhan: 'Seperti kuburan massal, banyak anak kecil meninggal'

Sumber gambar, Getty Images
"Tragedi Kanjuruhan adalah hasil 'kegagalan ekosistem' yang mencerminkan betapa buruknya tata kelola persepakbolaan dan olahraga secara umum di Indonesia," kata Amal Ganesha selaku Direktur Ganesport Institute -lembaga yang bergerak di bidang manajemen dan kebijakan olahraga-kepada BBC.
"Memperbaiki masalah semacam ini sangat kompleks dan diperlukan kemauan politik yang kuat," tambahnya.
Amal Ganesha meyakini Indonesia semestinya belajar dari cara pemerintah Inggris merespons Tragedi Hillsborough.
Melalui hasil penyelidikan menyeluruh yang dikenal dengan Taylor Report, pemerintah Inggris menciptakan aturan baru yang mencakup berbagai aspek perilaku penonton sepak bola, termasuk hukuman berat bagi penonton yang terlibat dalam huru-hara.
Langkah pencegahan sejatinya sudah ada dalam sepak bola Indonesia. Ketika Arema FC menjamu rivalnya, Persebaya Surabaya, para pendukung Persebaya dilarang menghadiri pertandingan di Stadion Kanjuruhan.
Namun, kemenangan 3-2 Persebaya memicu ketidakpuasan sebagian pendukung Arema. Mereka turun ke lapangan yang kemudian direspons oleh aparat dengan tindakan represif.
Amal Ganesha menilai langkah-langkah itu terbukti tidak cukup.
"Inilah waktu yang tepat untuk membuat reformasi signifikan, idealnya dipimpin pemerintah," ujarnya.
'Stadion tidak perlu mewah'
Pada masa Tragedi Hillsborough, stadion-stadion sepak bola di Inggris banyak yang sudah tua dan perlu direnovasi. Banyak stadion bahkan menyediakan tribun berdiri untuk para penonton.
Sejumlah insiden yang dipicu perilaku buruk penonton pun membuat banyak klub mendirikan pagar pengamanan agar penonton tidak masuk ke lapangan.
Setelah Tragedi Hillsborough, hal itu justru sangat tidak dianjurkan dalam rekomendasi Taylor Report.
Salah satu rekomendasi utama laporan tersebut adalah pagar pengamanan harus ditiadakan dan semua stadion besar mesti mengakomodasi penonton dengan tempat duduk. Tiada lagi tribun berdiri. Inilah yang kemudian ditiru banyak negara.
Jerome Wirawan, editor BBC News Indonesia, mengatakan perubahan semacam itu belum sampai di Indonesia.
"Liga-liga sepak bola di Inggris, Jerman, Belanda, dan negara lain telah berbenah sejak 1980-an demi faktor keselamatan setelah Tragedi Heysel dan Hillsborough," ujarnya.
"Namun, situasi di Indonesia masih sama seperti pada akhir 1980-an dan awal 1990-an," tambahnya.

Sumber gambar, Getty Images
David Conn, yang telah merilis beragam artikel mengenai transformasi tata kelola persepakbolaan Inggris sejak Tragedi Hillsborough, menilai stadion tidak perlu menjadi ultramodern agar penonton bisa menyaksikan pertandingan dengan aman.
"Stadion tidak perlu mewah, mengingat banyak acara besar berlangsung dengan aman di seluruh dunia. Hanya perlu aspek mendasar: jalur yang memadai bagi penonton untuk masuk dan keluar dengan aman. Jumlah penonton yang menyaksikan pertandingan juga harus dalam kategori aman," paparnya kepada BBC.
Investigasi Tragedi Stadion Kanjuruhan menemukan bahwa jumlah penonton pada 1 Oktober melebihi kapasitas.
"Jaman sekarang tidak boleh ada alasan langkah pengamanan bisa lemah dan malapetaka terjadi di stadion sepak bola," imbuh Conn.
Perubahan kebijakan polisi
Salah satu perubahan utama pascatragedi Hillsborough pada 1989 adalah cara kepolisian Inggris mengamankan pertandingan sepak bola.
Sebuah unit khusus dibentuk pada 1990. Unit ini berkoordinasi dengan klub-klub sepak bola dan kelompok pendukungnya untuk membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman dalam pertandingan sepak bola, walau sebagian besar pengamanan di dalam stadion dijalankan oleh petugas khusus alias steward yang diperkerjakan klub-klub sepak bola.
Baca juga:

Sumber gambar, Getty Images
Stadion-stadion di Inggris kemudian dilengkapi dengan kamera pemantau alias CCTV, yang membantu mengawasi alur pergerakan penonton.
Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) melarang pengunaan gas air mata untuk "mengendalikan penonton" di dalam stadion. Namun, hal ini belum sampai di Indonesia dan Tragedi Kanjuruhan bukanlah insiden pertama di negara tersebut yang melibatkan gas air mata.
Menurut Save our Soccer, sebanyak 78 orang telah meninggal dunia terkait sepak bola di Indonesia sejak 1994, sebelum Tragedi Kanjuruhan terjadi.
Aditya Pratama, seorang wartawan Indonesia yang menghadiri pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya, mengatakan gas air mata sudah pernah dilontarkan di Stadion Kanjuruhan sebelum 1 Oktober 2022.
"Saya berharap akan ada perubahan besar-besaran. Saya masih sangat emosional menyaksikan kedukaan para keluarga korban dan akan sangat sulit untuk kembali ke stadion itu," kata Aditya kepada BBC.
Stadion Kanjuruhan akan diruntuhkan
Para pejabat PSSI mengatakan pada 13 Oktober bahwa mereka akan membentuk gugus tugas dengan FIFA untuk membenahi tata kelola penonton dan pengamanan dalam pertandingan.
Aksi gugus tugas dan pelibatan FIFA ini bukan sekadar seremonial: Indonesia bakal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun depan.
Menjelang turnamen tersebut, Presiden Joko Widodo mengatakan pada Selasa (18/10) bahwa Stadion Kanjuruhan akan dirobohkan.

Sumber gambar, Getty Images
"Untuk Stadion Kanjuruhan di Malang, juga akan kita runtuhkan, dan kita bangun lagi sesuai dengan standar FIFA sebagai contoh standar stadion dengan fasilitas-fasilitas yang baik, menjamin keselamatan penonton, pemain, dan juga untuk suporter," kata Presiden Jokowi seusai bertemu Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Namun, Jerome Wirawan selaku editor BBC News Indonesia skeptis dengan rencana transformasi menyeluruh yang digaungkan Presiden Jokowi.
"Banyak pengamat sepak bola di Indonesia mengatakan Tragedi Kanjuruhan adalah wake-up call untuk persepakbolaan Indonesia. Namun, apa yang terjadi kalau semua pemangku kepentingan masih nyaman di tempat tidur dan tidak mau dibangunkan?"









