You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Final All England, Kevin/Marcus: 'Kami ingin tebus kesalahan tahun lalu, akan berikan yang terbaik'
- Penulis, Mohamad Susilo
- Peranan, BBC News Indonesia
Ganda putra nomor satu dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, mengatakan ingin menebus kekalahan tahun lalu, ketika terjun di babak final All England di Birmingham, Inggris, hari Minggu (15/03) ini.
"Pasti kami ingin bayar kesalahan di tahun kemarin, tapi kami tidak mau berlebihan juga. Kami sudah (masuk ke babak) final, kami akan berikan yang terbaik," kata Kevin menjawab pertanyaan wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo, setelah memastikan diri lolos ke laga puncak ganda putra, hari Sabtu (14/03).
Tahun lalu, Kevin/Marcus, tersingkir di babak awal, padahal mereka datang sebagai juara bertahan.
Setahun sebelumnya mereka juga juara.
Kekalahan di babak awal All England 2019, membuat Kevin/Marcus urung mencatat hattrick juara tiga kali berturut-turut.
Tiket ke final All England 2020 dikantongi setelah mereka mengalahkan pasangan Taiwan, Lee Yang/Wang Chi-Lin, dua set langsung 21-18 21-13.
Pertandingan ini berlangsung ketat baik di set pertama maupun di paruh pertama set kedua.
Kesalahan sendiri yang dibuat Kevin/Marcus, seperti bola menyangkut di net atau penempatan bola yang kurang akurat membuat pasangan Taiwan efektif meraih poin.
Tenang dan fokus
Tapi ketenangan dan konsentrasi yang tinggi membuat Kevin/Marcus bisa unggul dan sukses mencapai poin 21.
“Kami langsung siap dari awal, kami tak mau lengah dan kami bisa menekan lawan,” kata Kevin.
“Walaupun set kedua lawan sempat unggul, tapi tetap optimistis kalau kami bisa membalikkan keadaan,” imbuh Kevin.
Di babak final, Kevin/Marcus, menghadapi pasangan Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe, yang menyingkirkan juara tahun 2016 asal Rusia, Vladimir Ivanov/Ivan Sozonov 21-16 21-15.
Sebelum mengalahkan Ivanov/Sozonov, Endo/Watanabe menundukkan juara bertahan dan unggulan kedua dari Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dalam laga dua set.
Pelatih ganda putra, Herry Pierngadi mengatakan Ahsan/Hendra tidak bermain maksimal karena ada masalah dengan otot tangan, yang membuat serangan tidak bisa dilancarkan secara maksimal.
Herry mengatakan kekuatan tangan duo ini sedikit menurun.
"Selain itu juga karena faktor usia, karena pasangan ini kan sudah senior."
Marcus saat ditanya tentang lawan di final mengatakan, “Lawan siapa saja kami harus siap. Kami siap lakukan yang terbaik dan enjoy the game.”
Praveen/Melati juga ke final
Selain Kevin/Marcus, pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti juga maju ke final.
Praveen/Melati lolos ke partai puncak setelah mengalahkan jagoan tuan rumah, Marcus Ellis/Lauren Smith dalam pertandingan tiga set 21-15 21-23 21-11 dalam waktu satu jam delapan menit.
Praveen/Melati nyaris menang dua set langsung karena sudah unggul 20-17. Satu poin lagi dan tiket ke final akan diamankan.
Namun Ellis/Smith tak mau menyerah. Mereka mengejar ketertinggalan menjadi 20-20 dan bahkan menutup set ini dengan 23-21, memaksa laga dilanjutkan ke set ketiga sekaligus membuka lebar-lebar menuju babak final.
Harapan tak menjadi kenyataan karena Praveen/Melati kali ini membuktikan diri lebih baik.
Pasangan ini melesat dan menutup set penentuan dengan 21-11.
Melati mengatakan kemenangan di semi-final ini tak lepas dari komunikasi antara dirinya dan Praveen.
Selain itu, ia dan Praveen juga mencoba untuk tak terlalu memikirkan kekalahan di set kedua.
Bagi Melati, ini adalah final pertama di All England.
Bagi Praveen ini adalah yang kedua, setelah ia bersama Debby Susanto masuk final pada 2016 dan keluar sebagai juara.
Di babak final, Praveen/Melati akan menghadapi unggulan ketiga dari Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai.
Meski pasangan Thailand lebih diunggulkan, Taerattanachai mengatakan tak menganggap enteng Praveen/Melati.
"Kami pernah bertanding melawan Praveen/Melati ... kami pernah menang, (tapi) juga pernah kalah. Kami tak terlalu memikirkan siapa lawan kami di final. Yang penting kami bermain sebaik mungkin," kata Taerattanachai.