You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
All England: Teknik bulu tangkis 'istimewa, tak ada dalam buku teks badminton' antarkan Kevin Sanjaya jadi yang terbaik di dunia
- Penulis, Mohamad Susilo dan Dwiki Marta
- Peranan, BBC News Indonesia
Teknik permainan bulu tangkis pemain ganda putra Indonesia, Kevin Sanjaya, dinilai tidak biasa.
Dan inilah salah satu faktor yang membuatnya menjadi salah satu pemain terbaik di dunia.
Lawan menggambarkannya sebagai "pukulan magis", sementara klub yang membinanya mengatakan Kevin bisa dengan jitu bisa menebak bola-bola dari lawan.
Melihat Kevin bertanding di lapangan, lawan dan juga penonton memang sering dibuat terheran-heran.
Misalnya, bola yang bagi kebanyakan pemain sulit diterima atau dikembalikan, bagi Kevin bola itu bisa dikembalikan.
Ia bisa menerima bola nyaris dalam posisi apa saja, termasuk ketika tengah berada di depan net, yang bagi sebagian pemain dianggap sebagai posisi yang tanggung.
Namun bagi Kevin, ia bisa menundukkan badan dan mengembalikan bola dengan baik. Pemain ganda Denmark, Mathias Boe, mengatakan hanya Kevin yang piawai mengembalikan bola dengan posisi badan seperti ini.
Juga, bagaimana Kevin keluar lapangan ketika reli masih berlangsung, mengganti raket, kembali lagi ke lapangan, meneruskan reli dan meraih poin.
"Kevin itu kalau bermain tak pernah susah. Maksudnya, dia tidak pontang-panting mengejar bola, dia tidak lari ke sana ke mari cari bola, dia bisa memperkirakan arah bola," kata Yoppy Rosimin, ketua Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum Kudus, Jawa Tengah, klub yang melatih Kevin.
Sepuluh tahun untuk menempa Kevin
Yoppy menyebut Kevin sebagai pemain dengan bakat yang "luar biasa".
Ia lantas menuturkan bagaimana Kevin dulu ditemukan oleh Fung Permadi, mantan pemain nasional yang bekerja sebagai pelatih di PB Djarum.
"Fung mengatakan ada pemain yang dari segi postur tidak menguntungkan, tapi punya permainan yang istimewa," kata Yoppy.
Atas masukan Fung dan setelah diadakan diskusi di antara pelatih, akhirnya Kevin diterima pada 2007.
Perlu waktu 10 tahun untuk menempa Kevin sebelum ia masuk di jajaran pemain elite dunia, antara lain ditandai dengan menjuarai turnamen bulu tangkis tertua dan paling bergengsi di dunia, All England, pada 2017, bersama pasangannya, Marcus Fernaldi Gideon.
"Setiap orang kelabakan menghadapi Kevin. Permainannya sangat tinggi dan bisa memprediki pengembalian lawan. Jadi ketika ia serve misalnya ia langsung menuju ke posisi di mana bola akan dikembalikan oleh lawan. Setelah itu ia langsung menyambar bola," kata Yoppy.
"Lawan tak bisa bereaksi, hanya terperangah. Nah, kemampuan seperti ini tak bisa diprogram. Ini bawaan dari lahir," kata Yoppy.
Penjelasan dan penuturan Yoppy soal Kevin Sanjaya ini menjadi kabar gembira tapi juga kabar buruk bagi Indonesia, yang mematok target mempertahanakan tradisi medali emas di Olimpiade, sejak cabang olahraga ini dipertandingan di Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol.
Berita gembira karena dengan talenta "yang super istimewa, yang pukulannya tak ada di buku teks bulu tangkis", meminjam istilah Yoppy, Indonesia bisa berharap gelar juara dan medali akan disumbangkan oleh Kevin di berbagai turnamen dan pesta olahraga.
Paduan bakat dan kemauan
Namun, ini juga menjadi kabar buruk.
Bagi Yoppy, atlet seperti Kevin lahir dari alam, ia tak dilahirkan atau dicetak melalui program latihan.
"Kita hanya bisa memberikan fasilitas, kalau talentanya mumpuni, ia akan langsung mengorbit. Metode pembinaan kita sama untuk semua atlet, namun tak semuanya akan muncul sebagai pemain hebat," kata Yoppy.
"Pemain hebat tak bisa dicetak setiap tahun. Kalau ada yang bisa mencetak atlet hebat setiap tahun, saya akan berguru kepadanya," kata Yoppy.
Fakta menunjukkan bersama Marcus Fernaldi Gideon, Kevin adalah satu dari sedikit pemain Indonesia yang paling konsisten dalam tiga tahun terakhir.
Sementara di sisi lain, negara-negara seperti India dan Jepang semakin menggeliat, belum lagi musuh-musuh tradisional seperti Denmark, China, Malaysia, dan Korea Selatan.
Jepang patut mendapat perhatian karena kekuatan mereka nyaris merata dalam tiga atau empat tahun terakhir.
Di tunggal putra mereka punya Kento Momota, yang saat ini menempati peringkat satu dunia, sementara di tunggal putri ada Nozomi Okuhara dan Akane Yamaguchi di sepuluh besar dunia.
Di ganda putri, tiga teratas semuanya diisi oleh pemain-pemain Jepang. Di ganda putra, peringkat tiga dan lima dunia diisi pasangan Jepang. Di ganda campuran, mereka juga menempatkan pasangan yang berada di posisi tiga dunia.
Mengapa Jepang saat ini begitu digdaya?
Yoppy mengatakan keberhasilan Jepang dewasa ini tak lepas dari pembinaan yang dilakukan sejak 15-20 tahun yang lalu. "Ketika itu, mereka mendatangkan pelatih dari Indonesia. Alumni kita banyak di sana," kata Yoppy.
Di luar faktor bibit pemain yang memang unggul, ia menyebut faktor lingkungan yang membuat pemain-pemain Jepang menjadi atlet-atlet andal.
"Lingkungan ikut membentuk ... fighting spirit (daya juang) tangguh. Kita lebih punya seni, tapi belum tentu stabil, kadang bagus, kadang nggak," kata Yoppy.
Susy Susanti, peraih medali emas Olimpiade, mengatakan ia setuju bahwa bakat berperan penting dalam mengantarkan kesuksesan seorang atlet, namun bakat saja tidal cukup.
"Harus ada kemauan. Seseorang boleh punya bakat alami yang luar biasa, tapi kalau tak ada kemauan, tak ada motivasi, tidak mau kerja keras, akan sangat sulit baginya untuk menjadi juara," kata Susy.
"Tapi, kemauan saja tanpa didukung oleh bakat, juga sulit untuk menjadi juara," tegasnya.
Menyiapkan dan mencetak atlet-atlet baru antara lain menjadi tanggung jawab perkumpulan bulu tangkis (PB). Di PB Djarum misalnya berkumpul anak-anak yang diambil dari berbagai daerah yang disiapkan untuk menjadi atlet andal di masa depan.
Siapkan atlet-atlet muda
Salah satu di antaranya adalah Aurelia Salsabila, 15 tahun, pemain muda dari Surabaya, Jawa Timur.
"Latihannya berat, tapi ya harus dijalani...," kata Salsabila. Bersama para pemain muda lain, ia latihan pagi dan sore, sementara siang ia bersekolah.
Mereka juga jauh dari keluarga, seperti dituturkan Nurul Tetra Junia Matondang, 12 tahun asal Medan, Sumatera Utara.
"Malam-malam kadang rindu orang tua," kata Nurul.
Afiq Dzakwan Arief, 12 tahun, dari Makassar, Sulawesi Selatan, mengatakan kangen keluarga adalah salah satu tantangan terbesar dalam menjalani latihan sebagai atlet bulu tangkis.
"Perlu kerja keras agar bisa pemain-pemain hebat," kata Afiq yang bercita-cita menjadi juara dunia ini.
Ada juga Muhammad Azahru Kasra, 17 tahun, dari Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang mengidolakan Kento Momota.
"Cara bermainnya bagus dan sangat tenang di lapangan," kata pemain yang biasa disapa Aas ini.
Latihan keras saja tak menjamin untuk menjadi atlet hebat.
Bagi Ellen Angelinawaty, yang pernah memperkuat tim Piala Uber dan juara Indonesia Open 2001, seorang atlet harus siap segalanya.
"Ya siap sakit, siap tahan mental, seluruh tenaga dan jiwa raganya ditumpahkan di situ," kata Ellen.
Mantan pemain tunggal putra, Hastomo Arbi, melihat anak-anak zaman sekarang "kurang gigih".
"Mereka kurang gigih, baik ketika latihan maupun saat bertanding di lapangan ... mungkin kurang berani capek," katanya.
Rexy Mainaky, pemain ganda putra peraih medali emas Olimpiade 1996, berbagi rahasia untuk menjadi atlet elite dunia.
"Yang terpenting adalah ada keyakinan di dalam diri sendiri bahwa latihan-latihan ini akan mengantarkannya menjadi juara ... ada rasa yakin di situ, ada believe," kata Rexy.
"Kalau hanya sekedar latihan, atau ada perasaan ragu-ragu, ya latihan itu tidak akan menjadikan seseorang menjadi juara," katanya.