Siapakah Erfan Soltani, demonstran Iran yang dilaporkan bakal dieksekusi?

Waktu membaca: 5 menit

Seorang pria yang ditangkap sehubungan dengan gelombang protes di Iran telah divonis hukuman mati dan diberitahu bahwa dia bakal dieksekusi, kata keluarganya dan sebuah kelompok hak asasi manusia.

Erfan Soltani, 26 tahun, ditangkap Kamis lalu di kota Fardis, di sebelah barat Teheran.

Beberapa hari kemudian, pihak berwenang memberi tahu keluarganya bahwa eksekusinya telah dijadwalkan pada Rabu, tanpa memberikan detail informasi tambahan, kata kelompok hak asasi manusia Kurdi yang berbasis di Norwegia, Hengaw.

Pada Rabu, Hengaw mengatakan bahwa mereka memiliki "kekhawatiran serius dan berkelanjutan tentang hak hidup Soltani", tetapi, menurut informasi yang diperoleh melalui kerabatnya, eksekusinya telah ditunda

Pihak mahkamah tertinggi Iran belum berkomentar perihal kasus Soltani atau mengumumkan eksekusi apa pun sehubungan dengan aksi protes tersebut.

Pemadaman internet yang diberlakukan oleh pemerintah juga telah mempersulit perolehan informasi tentang statusnya—dan orang lain dalam situasi yang berpotensi serupa.

Awyer Shekhi dari Hengaw mengatakan kepada BBC bahwa dia khawatir ada "banyak" kasus seperti Soltani, menyoroti skala, serta kecepatan tindakan keras yang dilakukan otoritas Iran dibanding dengan protes sebelumnya.

Pada Selasa, salah satu kerabat Soltani mengatakan kepada BBC Persia bahwa pengadilan telah menjatuhkan hukuman mati "dalam proses yang sangat cepat, hanya dalam dua hari".

Membuka usaha toko pakaian

Soltani adalah penduduk Fardis, Karaj, tempat dia mengelola sebuah toko pakaian.

Dia ditangkap "di kediaman pribadinya", kata Hengaw dalam sebuah pernyataan.

Otoritas Iran dilaporkan tidak memberikan informasi lebih lanjut kepada keluarga Soltani tentang kasusnya, dan hanya menyebutkan bahwa dia telah ditangkap sehubungan dengan gelombang unjuk rasa.

Saudara Soltani, yang berprofesi sebagai pengacara, mencoba melanjutkan kasus tersebut tetapi pihak berwenang mengatakan kepadanya bahwa tidak ada yang perlu ditindaklanjuti, kata Shekhi kepada program Today di BBC Radio 4.

"Dia hanyalah seseorang yang menentang situasi saat ini di Iran... sekarang dia menerima vonis hukuman mati karena mengungkapkan pendapatnya."

Shekhi mengatakan bahwa para tahanan yang dijatuhi hukuman mati di Iran biasanya diizinkan untuk dikunjungi terakhir kali oleh orang-orang terkasih mereka sebelum dieksekusi.

Meskipun pihak berwenang Iran telah memberi tahu keluarga bahwa mereka akan mengizinkan pertemuan dengan Erfan sebelum eksekusinya, dia belum diizinkan untuk melakukan kontak dengan keluarganya sejak penangkapannya, tambahnya.

Ada "kemungkinan besar" orang-orang lain di Iran berada dalam posisi yang sama dengan Soltani, tetapi hanya sedikit informasi tentang mereka karena pemadaman internet, menurut Shekhi.

Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan AS akan mengambil "tindakan yang sangat tegas" terhadap Iran jika mengeksekusi para demonstran—dengan mengatakan kepada warga Iran untuk "TERUS BERPROTES" dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya.

Dia juga mengatakan telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran "sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN".

Dia kemudian mengatakan bahwa pemerintahannya telah diberitahu "dari sumber yang dapat dipercaya" bahwa "pembunuhan di Iran sedang dihentikan, dan tidak ada rencana untuk eksekusi".

Pihak berwenang di Teheran memberlakukan pemadaman internet pada Kamis lalu, seiring meningkatnya protes dan pihak berwenang meningkatkan tindakan keras yang mematikan.

BBC dan sebagian besar organisasi berita internasional lainnya juga tidak dapat melaporkan dari dalam Iran, sehingga menyulitkan untuk mendapatkan dan memverifikasi informasi.

'Terburu-buru dan tidak transparan'

Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS mengatakan bahwa sejauh ini mereka telah mengkonfirmasi kematian 2.417 demonstran, 12 anak-anak, serta 10 warga sipil yang tidak terlibat, meskipun terjadi pemadaman internet.

Hampir 150 orang yang berafiliasi dengan pasukan keamanan atau pemerintah juga telah tewas, kata kelompok tersebut.

Setidaknya 18.434 demonstran telah ditangkap selama kerusuhan, menurut HRANA.

Kepala mahkamah tertinggi Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei, telah berjanji akan mengambil tindakan hukum yang cepat terhadap apa yang disebutnya sebagai "perusuh".

Menurut Mohseni-Ejei, mereka yang telah "melakukan tindakan terorisme harus diprioritaskan untuk diadili dan dihukum".

Pihak berwenang berencana untuk mengadakan persidangan terbuka bagi beberapa tokoh utama yang terlibat dalam kerusuhan baru-baru ini, dengan proses persidangan yang dapat diakses oleh media, katanya pada Rabu.

Namun, penanganan kasus Soltani oleh Iran "merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum hak asasi manusia internasional," kata pernyataan Hengaw, seraya menambahkan: "Penanganan kasus ini yang terburu-buru dan tidak transparan telah meningkatkan kekhawatiran atas penggunaan hukuman mati sebagai alat untuk menekan protes publik."

"Erfan adalah demonstran pertama yang dijatuhi hukuman mati, tetapi dia bukan yang terakhir," kata Departemen Luar Negeri AS di akun X.

Protes tersebut, yang dilaporkan telah menyebar ke lebih dari 180 kota dan desa di seluruh 31 provinsi, dipicu oleh kemarahan atas anjloknya mata uang Iran dan melonjaknya biaya hidup.

Protes tersebut dengan cepat meluas menjadi tuntutan perubahan politik dan menjadi salah satu tantangan paling serius bagi rezim ulama sejak revolusi Islam 1979.

Setidaknya 12 pria telah dieksekusi di Iran selama tiga tahun terakhir setelah dijatuhi hukuman mati terkait dengan protes "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan" pada 2022.

Kerusuhan nasional tersebut dipicu oleh kematian Mahsa Amini, perempuan muda Kurdi yang dituduh oleh polisi moral mengenakan hijab yang "tidak pantas" saat berada dalam tahanan.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan eksekusi terakhir terjadi pada 6 September, ketika Mehran Bahramian digantung di Isfahan.

Kelompok yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights, melaporkan pada saat itu bahwa pihak berwenang Iran telah menyiksa Bahramian untuk mendapatkan pengakuan dan bahwa dia tidak menerima pengadilan yang adil.

Dia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan pada Januari 2024 atas tuduhan "permusuhan terhadap Tuhan" karena diduga membunuh seorang anggota Garda Revolusi dalam protes di Semirom pada Desember 2022, kata kelompok tersebut.