Bukan hanya Paris: Ketika orang-orang membagi berita teror di Kenya

#TrenSosial: Berita yang paling banyak dibaca dalam situs BBC News pada Minggu (15/11) adalah tentang serangan teror - tetapi bukan di Paris.
Sekitar tujuh juta orang mengklik berita berjudul "Serangan di universitas Kenya menewaskan 147", sebuah artikel tentang <link type="page"><caption> serangan di Universitas Garissa</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/04/150402_serangan_universitas_kenya" platform="highweb"/></link> oleh militan Somalia, al-Shabab, yang terjadi pada April 2015.
Lebih dari tiga perempat klik datang dari media sosial, bukan dari laman utama situs BBC News.
Di dunia media sosial yang penuh dengan kekinian, tampaknya orang-orang membagikan berita itu ke teman-temannya tanpa menyadari bahwa berita itu sudah usang. Mereka berpikir bahwa serangan di Kenya baru saja terjadi.
Namun, ada pula, sebagian orang dengan sadar membagi berita usang itu untuk mengukuhkan opini mereka.

Sumber gambar, AP
Mereka mengkritik media barat yang dianggap gagal dalam pemberitaan tentang pembantaian di Kenya: bahwa serangan di universitas Kenya tidak diberitakan sebesar kejadian Paris. (Lainnya, berkomentar bahwa mereka melihat ironi karena artikel BBC-lah yang dipakai untuk mengukuhkan opini itu).
Jadi siapa saja yang tertarik dengan berita Garissa setelah serangan Paris? Perhatian besar itu utamanya tidak didorong dari Kenya, melainkan dari Amerika Utara dan Inggris.
Secara total, berita itu dilihat 10 juta kali dalam dua hari - empat kali lebih besar dibandingkan jumlah page view saat berita muncul bulan April.
Sementara itu, di Twitter, <link type="page"><caption> percakapan tentang tragedi dan bencana di luar Paris juga ramai dibicarakan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151116_trensosial_paris_reaction" platform="highweb"/></link>. Tagar "Pray For the World" atau "Doa untuk Dunia" telah digunakan lebih dari 400.000 kali pada Jumat.
Banyak orang mencoba memperluas cakupan percakapan dengan tidak melulu terpaku pada serangan Paris. Mereka menggunakannya untuk menunjukan serangan lain dengan jumlah korban yang tak kalah banyaknya di Meksiko dan Baghdad.
Tagar "Pray for Lebanon" - yang merujuk pada bom bunuh diri di Beirut yang menewaskan 41 orang digunakan lebih dari 800.000 kali di Twitter. Lebih dari 1,6 juta orang juga menggunakan "Pray for Japan" yang mengalami gempa bawah tanah hebat, namun tidak ada yang terluka atau tewas dalam kejadian itu.
Banyak juga yang mengkritik Facebook yang memiliki standar ganda ketika menawarkan fitur bendera Prancis di foto profil mereka. Jejaring ini dulu pernah menawarkan fitur yang sama termasuk bendera pelangi setelah Amerka mensahkan perkawinan sesama jenis.
Mengapa negara lain tidak diperlakukan sama ketika tragedi terjadi? Begitu kritik yang banyak muncul. Namun sayangnya, Facebook enggan berkomentar kepada BBC Trending.









