Antibiotik jenis baru ditemukan dari persaingan bakteri hidung

Sumber gambar, Getty
Jenis baru antibiotik telah ditemukan setelah para ilmuwan di University of Tubingen, Jerman, mempelajari persaingan bakteri di hidung manusia.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature mengungkap bahwa obat yang dihasilkan dalam persaingan itu, lugdunin, dapat mengobati infeksi bakteri kebal antibiotik atau ‘superbug’.
Para peneliti menyebut tubuh manusia sumber obat-obatan baru yang belum dimanfaatkan.
- <link type="page"><caption> Bakteri super akan "membunuh setiap tiga detik"</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160519_majalah_bakteri_superbug" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Apa saja yang ada di bawah kuku kita?</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/vert_fut/2016/07/160724_vert_fut_kuku" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Apakah menonton TV berjam-jam dapat membunuh?</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2016/07/160726_majalah_televisi_darah" platform="highweb"/></link>
Tubuh kita memang tidak tampak seperti medan perang; namun, pada tingkat mikroskopik, persaingan untuk mendapatkan tempat dan makanan terus berlangsung antara spesies bakteri.
Para ilmuwan telah lama memperkirakan, salah satu senjata yang digunakan bakteri untuk berperang ialah antibiotik.
Salah satu kuman yang sering menginvasi hidung ialah Staphylococcus aureus, termasuk galur ‘superbug’ yang ditakuti, MRSA.
Mereka ditemukan dalam hidung 30% orang.
Gen krusial
Kenapa tidak semua orang? Saintis menemukan bahwa orang dengan bakteri saingan Staphylococcus lugdunensis di lubang hidung mereka cenderung tidak memiliki S. Aureus.

Sumber gambar, Science Photo Library
Para peneliti di University of Tubingen menggunakan berbagai galurbakteri S. lugdunensis hasil modifikasi genetik untuk menemukan potongan kode genetik krusial yang memungkinkannya memenangkan pertarungan supaya bisa hidup di antara rambut hidung Anda.
Mereka akhirnya menemukan satu gen krusial yang mengandung instruksi untuk membangun antibiotik baru, yang mereka namakan lugdunin.
Uji coba pada tikus menunjukkan lugdunin dapat mengobati infeksi ‘superbug’ pada kulit termasuk MRSA dan Enterococcus."
Salah satu peneliti, Dr. Bernhard Kismer, mengatakan, “Beberapa hewan uji benar-benar bersih, tak terdeteksi satupun sel bakteri.
“Hewan uji lainnya mengalami pengurangan jumlah sel, namun masih memiliki beberapa bakteri dan kami juga menemukan senyawa itu (lugdunin) menembus jaringan dan bekerja di lapisan kulit yang lebih dalam."
Butuh bertahun-tahun uji coba sebelum lugdunin dapat diterapkan pada pasien dan obat ini mungkin tak akan terbukti sukses.
Namun kebutuhan akan antibiotik baru begitu mendesak, seiring dokter menghadapi tantangan yang terus berkembang berupa infeksi yang kebal terhadap obat dan bisa jadi tak terobati.









