Meraih untung dari pasar busana perempuan berukuran tubuh plus

Amita Irawati, kiri, pemilik dan perancang baju ukuran plus.
Keterangan gambar, Amita Irawati, kiri, pemilik dan perancang baju ukuran plus.
    • Penulis, Isyana Artharini
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Mungkin bagi perempuan berukuran tubuh standar, mencari baju bukanlah hal yang sulit. Namun untuk perempuan berukuran tubuh plus atau berbadan besar, mencari baju yang pas menjadi tantangan tersendiri. Beberapa pengusaha menjawab tantangan itu dengan menyediakan pakaian buat perempuan bertubuh besar dan meraih keuntungan.

Saat ditemui di studio yang merangkap kantor dan gudang Saiznya, Amita Irawati hanya bersama Yasmin, asistennya.

Di sanalah sehari-harinya mereka menerima pesanan pakaian ukuran besar, dari XL sampai 6L yang dia jual lewat situs online Saiznya yang didirikan Amita sejak akhir 2013 lalu.

Amita tak hanya membuat online shop tersebut, namun semua pakaian yang dijual di situ adalah rancangannya sendiri.

Sebagai seorang perempuan berukuran tubuh plus, Amita merasakan sendiri susahnya mencari pakaian yang bukan hanya cukup untuknya, tapi juga cocok dengan gaya yang ingin ia tampilkan.

  • <link type="page"><caption> Peluang bisnis katering di era daring</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/03/160327_majalah_bisnis_katering.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Mereka yang menjaga dan menghidupkan jamu sebagai gaya hidup</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160406_majalah_bisnis_jamu.shtml" platform="highweb"/></link>

"Waktu itu lagi benar-benar suka sama fashion dan susah banget mencari baju-baju di Jakarta. Adanya merk-merk mahal yang satu baju harganya 800 ribu (rupiah), itu kan nggak affordable," kata Amita.

Pilihan lainnya bagi Amita adalah belanja dari situs-situs belanja online dari luar negeri, dan harganya juga mahal. Inilah yang membuatnya bersemangat untuk membuka situs online untuk orang-orang berukuran tubuh plus seperti dirinya.

Setelah mengikuti komunitas-komunitas perempuan ukuran plus di Indonesia, Amita mulai melihat adanya potensi pasar yang cukup besar. Namun kekhawatiran sempat muncul, terutama soal gaya pakaian yang dia jual.

"Aduh, pe-de nggak ya orang-orang pakai off shoulder (menunjukkan bahu), aku bikin dress off shoulder juga. Ternyata waktu dikeluarin, responsnya cepat banget, orang-orang semua order," katanya.

Dari situ Amita meyakini sesuatu yang ingin dia sebarkan ke konsumennya.

"Orang gemuk itu nggak harus selalu pakai baju ibu-ibu yang cuma kemeja kancing atasan biasa, tapi mereka ada opsi untuk tampil lebih trendy dengan baju-baju gaya masa kini," ujarnya.

Amita membuka situs toko online Saiznya sejak 2013.

Sumber gambar, Saiznya

Keterangan gambar, Amita membuka situs toko online Saiznya sejak 2013.

Setiap bulan, pakaian yang dijual Amita bervariasi, antara 40 sampai 200 potong, atau bahkan lebih.

Yang membelinya berasal dari berbagai kota di Indonesia, dari kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, selain juga sampai Papua dan NTT.

Dan biasanya, menurut Amita, mereka yang berasal dari provinsi yang dia sebut "jauh" itu justru membeli langsung banyak, seperti lima potong dalam satu kali pembelian.

Dengan harga pakaian antara Rp130 ribu-Rp250 ribu, omzet yang didapat Amita dari penjualan baju ukuran plus pun tak mengecewakan, bisa antara Rp20juta-Rp30 juta per bulan, atau juga pernah sampai Rp40 juta-Rp50 juta per bulan.

Menurut Amita, dengan mendirikan Saiznya, dia ingin memberikan opsi bagi konsumen plus size yang selama ini minim pilihan gaya jika dibandingkan dengan pembeli baju ukuran standar.

"Orang plus size itu juga mau tampil fashion forward, tapi susah, karena mungkin sekarang ya baru dikerjakan (toko-tokonya). Sekarang setiap toko punya keunikan sendiri, nggak ada yang bisa dibandingin, misalkan ada satu toko fokus dengan hijab plus size, yang satu lagi lebih yang gaya anak muda, sedangkan aku lebih yang bisa dipakai untuk kerja, untuk sehari-hari," kata Amita.

Salah satu strategi yang diterapkan Amita adalah dengan menjual lebih banyak atasan, agar perputarannya cepat, selain juga lebih mudah diproduksi daripada celana, misalnya. Yang, menurut Amita, bagi orang ukuran plus dengan tubuh yang beragam, akan lebih sulit membuat pola umum ukurannya jika dibandingkan dengan pola umum celana bagi orang berukuran standar.

Tantangan lain bagi Amita adalah untuk memberi masukan pada penjahit soal aksesoris dan cara memotong pola yang berbeda dari kebiasaan mereka menjahit baju bagi orang berukuran 'standar'.

Hal yang sama juga diakui oleh Desita Adelia dari Ella es Bonita.

"Banyak pertimbangannya pada saat ngeluarin desain, kelihatan gendut nggak sih pakai baju kayak gini. Kedua, modelnya sudah oke, potongan sudah oke, lalu mau dipakein bahan seperti gimana?" kata Desita.

Ada lebih banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dalam memproduksi baju ukuran plus dibanding baju ukuran 'standar'.

Sumber gambar, Ella es Bonita

Keterangan gambar, Ada lebih banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dalam memproduksi baju ukuran plus dibanding baju ukuran 'standar'.

Pertimbangannya, bagi Desita, ketika suatu desain pakaian bagi orang berukuran standar cocok untuk memakai bahan satin, namun pada baju ukuran plus, Desita harus mempertimbangkan kemungkinan bahan tersebut bisa membuat orang berkeringat atau memunculkan lemak di tubuh pemakainya, sehingga harus ada bahan atau material pengganti yang dipakai.

"Warna juga, aduh. Kalau orang ukuran normal, mereka pakai warna apaan aja, oke, tapi kalau orang plus size, mereka punya banyak pertimbangan untuk pakai warna," tambahnya.

Sehingga bagi Desita, kesulitan menggarap pasar pakaian bagi perempuan bertubuh besar bukan hanya soal teknis, tapi juga pada pola pikir konsumen yang berbeda dari perempuan pembeli pakaian berukuran tubuh standar.

"Kalau orang ukuran tubuh standar, mikirnya nggak panjang-panjang, ada seleb pakai baju ini, mereka ikut beli, pakai, selesai. Tapi kalau kita (plus size), 'cocok nggak ya, lemak yang di bagian pinggul kelihatan nggak ya', gitu lho."

Meski begitu, terlepas dari kesulitan-kesulitan tersebut dan sebenarnya pasar perempuan ukuran plus size yang sebenarnya tak seluas konsumen berukuran standar, Desita masih menganggap pangsa ini menguntungkan.

Ella es Bonita yang didirikan Desita bersama suaminya, Suherman, pada 2014 lalu pun setiap minggu sedikitnya mengeluarkan empat koleksi baru untuk dijual.

Yang terpenting bagi Desita adalah membedakan diri.

"Dari cara jualannya, taste-nya, strateginya, desainnya. Nggak semua lho orang mencari yang murah, kan ada juga pasar yang, 'mana nih, bosan sama yang sudah ada'. Pebisnis pasti punya ambisi untuk memonopoli, tapi jangan pernah berpikir menguasai pasar dengan membuat harga semurah-murahnya," ujar Desita.

Dengan strategi ini, Ella es Bonita, bisa menjual sampai 800 potong pakaian per bulan lewat situs online mereka. Dan dengan rata-rata harga pakaian Rp75 ribu, omzet mereka bisa mencapai Rp200 juta.