Geliat bisnis travel, siapapun kini bisa jalan-jalan ke mana pun

Sumber gambar, Ainul Yaqin
- Penulis, Rafki Hidayat
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Jika menilik media sosial, sangat banyak netizen lokal yang mengunggah foto mereka saat jalan-jalan. Belakangan, berwisata telah menjadi gaya hidup di Indonesia. Sebuah kebiasaan yang ternyata membuka peluang bisnis bagi biro perjalanan besar dan penyedia jasa travel yang lebih ‘independen’.
Di sebuah sore yang gerimis, saya mengunjungi salah seorang teman yang tinggal di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Hari itu, dia sedang mengemas barang-barangnya ke dalam sebuah koper dan ransel. Keningnya pun dipenuhi bulir-bulir keringat.
“Iya, capek nih, selain packing barang, harus lihat-lihat peta terus kan,” tutur Fausta Christy Advent.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Advent tengah bersiap jalan-jalan selama 10 hari ke Turki, negara yang terletak di antara dua benua, Asia dan Eropa.
Dia cukup khawatir dengan perjalanannya kali itu. "Karena sudah lama kan, nggak ke luar negeri”. Terakhir kali Advent melakukan perjalanan lintas benua, ke Amerika Serikat, 2009 lalu, ketika masih mahasiswi.
Namun, meski kesibukan dunia kerja membuat Advent tidak bisa ‘berjalan jauh’, perempuan yang berkarir di bisnis e-commerce ini rutin berjalan-jalan di dalam negeri, setidaknya empat hingga lima kali pertahun.

Sumber gambar, Advent Fausta
Saya tergelitik bertanya, mengapa jalan-jalan penting baginya?
“Karena ingin refreshing, terus sekarang banyak fasilitas yang bisa kita gunakan, misalnya tiket promo. Terus yang jelas karena untuk pengalaman juga. Kita nggak selamanya melihat yang sama setiap hari. Harus lihat sesuatu yang baru biar pengetahuan bertambah,” tuturnya.
Hasrat untuk berwisata juga didorong banyaknya informasi yang beredar di media sosial, “terutama di Instagram dan Twitter, kita sekarang jadi tahu banyak sekali lokasi-lokasi baru dan unik”.
Gaya hidup
Advent tidak sendiri. Jalan-jalan kini seakan telah menjadi candu di negeri ini.
Salah satunya terlihat dari ramainya acara-acara pameran wisata, seperti yang saya datangi ini, Destination Europe : pameran perjalanan dan kebudayaan Eropa.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Dari dua orang pengunjung, Nabil dan Eva, saya mengetahui bahwa peran sosial media tidak hanya sebagai pemberi informasi lokasi wisata baru.
Menurut Eva, yang dalam setahun terakhir telah berwisata ke tujuh negara, di antaranya Australia, Vietnam, dan Thailand, keberadaan sosial media telah “membuat orang berlomba-lomba untuk menunjukkan eksistensi lewat unggahan foto”.
Apalagi, tambah Nabil, orang-orang “saat ini lebih ingin hidup ‘senang’. Ngapain ngoyo-ngoyo hidupnya, hidup cuma sekali”.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Jalan-jalan menjadi gaya hidup, tidak bisa ditampik juga karena populasi kelas menengah Indonesia yang meningkat. Menurut data Bank Dunia, kelas menengah Indonesia – mereka yang memiliki penghasilan antara Rp4 juta hingga Rp6 juta per bulan – jumlahnya telah mencapai 150 juta orang pada 2015, atau lebih dari separuh populasi Indonesia.
Kondisi ini menjadi peluang menggiurkan bagi bisnis travel.
Misalnya biro perjalanan ATS Vacations, yang fokus menawarkan paket jalan-jalan ke luar negeri. Konsultan Perjalanan ATS, Raymond Wibowo, mengaku semangat jalan-jalan yang sedang menggeliat di masyarakat, telah membuat bisnisnya tumbuh 30% per tahun.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Yang perlu dilakukanbiro travel, menurut Raymond, hanyalah mencari tahu, apa lokasi wisata yang saat ini paling digemari.
"Yang favorit itu sekarang Jepang dan Korea. Kalau Korea, karena girlband-boyband, dan drama-dramanya sudah mendunia, booming sekali sekarang orang yang ingin ke Korea. Tergila-gila romantisnya. Itu salah satu daya tarik juga. Sementara kalau Jepang, karena teknologinya dan karena paling aman di Asia."

Sumber gambar, Rafki Hidayat
Namun, dia mengakui, menggunakan paket travelnya, tidak berarti harga akan lebih murah.
Misalnya, jika perjalanan ke Korea Selatan selama delapan hari membutuhkan lebih Rp12 juta dengan menggunakan paket travel dari biro perjalanan, seorang backpacker, dengan rute dan hari sama, bisa menghabiskan sekitar Rp10 juta saja.
"Kalau backpacker kan ekonomis, irit banget. Kalau kita lebih mainstream, hotelnya masih enak dinikmati, dan di kawasan metropolitan. Makanannya juga oke," pungkas Raymond.
Bisnis travel ‘indie’
Menjawab hal-hal yang belum dipenuhi biro perjalanan besar, beberapa waktu terakhir berjamuran muncul penyedia jasa travel yang lebih ‘independen’.
Mereka, yang kebanyakan adalah perorangan dengan tim kecil, menawarkan jasa open-trip di internet, terutama lewat media sosial Twitter dan Instagram, yang memang kerap menjadi referensi bagi wisatawan.
Salah satunya adalah "Tukang Jalan" yang dibentuk Dwie Prasetyo.

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Awalnya terbentuk lima tahun lalu. Saya kebetulan habis putus cinta, lalu lari pergi jalan-jalan. Kemudian ada teman yang ngajakin untuk buat EO (event organizer) untuk jalan-jalan. Lalu, saya kebablasan."
Menurutnya, saat itu orang-orang yang menyediakan jasa perjalanan “masih jarang sekali”. Padahal “destinasi-destinasi bagus, sangat banyak”.
Berbeda dengan biro perjalanan besar, pebisnis ‘indie’ ini lebih fokus kepada destinasi wisata dalam negeri yang belum terjamah, dan disasarkan untuk para backpacker, mahasiswa dan orang yang baru memulai karier.

Sumber gambar, Tukang Jalan
Biaya jalan-jalan pun diklaim lebih murah.
"Misalnya ke Ujung Kulon tiga hari dua malam. Berangkat Jumat malam, pulang Minggu. Biaya kapal di sana mahal, di atas Rp4 juta. Kalau sendiri, sudah pasti repot. Tapi kalau sama trip kami, tinggal bayar Rp700 ribu sudah beres."
“Murah karena ramai-ramai bersama. Sesuatu yang besar, dibagi banyak orang kan jadinya murah, kalau besar dibagi ke satu orang ya mahal”.

Sumber gambar, Tukang Jalan
Ainul adalah salah seorang yang sering menggunakan jasa open-trip dari pebisnis ‘indie’ tersebut.
Dengan mereka, Ainul telah mendaki bukit-bukit penuh ilalang di Nusa Tenggara Timur, snorkeling di beningnya laut Flores, atau hanya naik kereta, menikmati berbagai air terjun di Jawa Barat.
"Banyak keuntungan pakai open-trip. Lebih praktis untuk ke tempat yang jauh dan tidak mainstream. Agendanya juga sudah diatur, kita tinggal bawa badan saja.”

Sumber gambar, Ainul Yaqin
“Kita juga bisa menginap di rumah warga. Pengalaman menarik, yang kayaknya tidak mungkin didapat jika menggunakan biro perjalanan besar”.
Menyibak destinasi wisata ‘baru’
Dengan derasnya permintaan dari konsumen, apapun pilihannya, baik dengan biro perjalanan besar atau independen, bisnis jalan-jalan diklaim tahan terhadap guncangan ekonomi.
"Saya bandingkan (pendapatan kami pada) 2014, dengan 2015 dimana saat itu, dollar naik. Tetapi ternyata pendapatan di kedua waktu, seimbang. (Dollar naik) tidak terlalu berpengaruh besar pada traveling."
Dengan terus menguatnya rupiah, dirinya yakin “tahun ini sampai tahun depan, bisnis travel bisa berkembang sangat pesat”.

Sumber gambar, Ainul Yaqin
Hal yang sama dirasakan Dwie.
"Sebulan (saya) bisa dapat Rp30 juta lah bersih.”
Lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai pegawai negeri sipil ini bahkan telah mempekerjakan 15 orang untuk menjalankan bisnisnya.
Di samping menguntungkan secara finansial, bisnis ini dinilai Dwie dapat membuat masyarakat lebih mengenal Indonesia. Berbagai destinasi yang dulu jarang didengar, kini mulai menasional. Sebut saja wisata body rafting di Green Canyon, Pangandaran.
Atau wisata sejarah situs megalitikum Gunung Padang, di Cianjur, Jawa Barat, yang disebut-sebut lebih tua daripada piramida Giza di Mesir.

Sumber gambar, Rafki Hidayat
Indonesia timur pun kini menjadi primadona. Di samping Pulau Komodo dan Raja Ampat, kini Pulau Labengki di Sulawesi Tenggara yang dijuluki Raja Ampat mini dan Kepulauan Kei di Maluku mulai diburu para traveler.
- <link type="page"><caption> Gerhana matahari total tingkatkan kunjungan turis</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160308_indonesia_gerhana_bisnis" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Tujuan wisata anak muda: Kalijodo, riwayatmu dulu</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160229_kalijodo_riwayat" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Tujuan wisata paling populer di Inggris: British Museum</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/03/160307_majalah_british_museum" platform="highweb"/></link>
"Dengan jalan-jalan, saya semakin sadar bahwa Indonesia itu luas dan kaya. Tidak sekedar Jakarta atau Bali saja. Ada kebanggaan sendiri, dari sekadar menonton berbagai lokasi wisata baru di TV, dan sekarang lihat langsung. Wah rasanya," tutur Ainul.
"Biar bisa keluar dari zona yang biasa kita lewati, nggak nyangka bisa hiking, snorkeling. Dan itu adalah pengalaman yang dibandingkan dengan beli barang mahal, lebih berharga buat aku," tutup Advent.
Bagaimana, sudahkah anda merencanakan cuti untuk liburan, atau mungkin Anda tertarik ikut serta dalam bisnis jalan-jalan?









