Studi terbaru: 63% pembeli kembalikan baju hasil belanja online

Hampir dua pertiga dari seluruh pemesan pakaian perempuan secara daring mengembalikan lagi barang belanjaan mereka setidaknya satu buah dalam enam bulan terakhir.
Angka-angka tersebut diperoleh para peneliti dengan menanyai lebih dari 1.000 pelaku belanja online. Hasilnya, sebanyak 63% konsumen mengembalikan baju-baju perempuan pesanannya.
Para pelaku belanja online yang "selalu mengembalikan” barang-barang tersebut disalahkan karena naiknya harga-harga penjualan.
Para pengecer mengatakan pengembalian gratis merupakan bagian penting dari bisnis mereka, tetapi mereka harus mengganti biaya-biaya itu atau mereka akan merugi.
Analis konsumen, Savvy Marketing, yang mewawancarai para konsumen online dalam enam bulan sampai Mei 2016, juga menemukan sebanyak 56% mengembalikan sedikitnya satu barang yang sudah dibeli.
Revolusi telepon pintar
Penelitian ini menunjukkan jumlah anak-anak muda usia antara 18 sampai 24 tahun yang berbelanja online mencapai dua kali lipat dibandingkan orang tua mereka. Anak-anak muda tersebut menggunakan ponsel saat berbelanja online.
"Revolusi ponsel pintar membuat kita terasa dekat ke pusat perbelanjaan. Kedekatan serta kemampuan untuk membeli barang-barang kapanpun Anda ingin, benar-benar penting untuk generasi tersebut," kata Catherine Shuttleworth, dari Savvy Marketing.

Seorang mahasiswi, Emily Murray adalah salah satu pembeli generasi baru.
Dia mengatakan banyak membeli barang-barang melalui situs belanja online, terutama untuk kesempatan saat dirinya tidak ingin fotonya "muncul berulang kali dengan gaun yang sama di Facebook."
Dia mengatakan "hampir mustahil" untuk mengetahui pakaian mana yang cocok, jadi dia memesan ukuran yang berbeda.
"Saya akhirnya mengembalikan lagi setengah dari pakaian-pakaian yang saya pesan dan bahkan mungkin lebih," katanya.
Seukuran lapangan bola
Barang-barang yang dikembalikan lalu disalurkan ke perusahaan-perusahaan logistik yang menangani barang-barang pengembalian milik pengecer-pengecer besar.
Tony Mannix, CEO Clipper, mengatakan merk-merk tertentu yang dia tangani tidak ingin mengurus barang pengembalian dalam jumlah tertentu. Imbasnya, Mannix yang kemudian harus menyimpan barang-barang pengembalian tersebut. Jumlahnya, kata Mannix, cukup untuk menutupi "empat puluh lapangan sepak bola liga primer".
Reporter program You and Yours yang disiarkan BBC Radio 4 di Inggris, Samantha Fenwick, mengunjungi salah satu tempat penyimpanan barang-barang pengembalian di sebuah lokasi rahasia di Yorkshire. Dia mengatakan sebagian pakaian yang dikembalikan tidak dalam kondisi yang bagus.
Dia menggambarkan terdapat noda lipstik pada pakaian-pakaian tersebut atau tanda-tanda bekas dipakai.
Pengecekan dengan cara mengendus
Mannix mengatakan sekitar 5% dari pakaian-pakaian barang-barang pengembalian “dibuang.”
"Pengecekan pertama yang kita lakukan adalah tes mengendus karena baju baru tercium seperti baju baru," katanya sambil menjelaskan pemeriksaan yang mereka gunakan untuk melihat apakah pakaian telah dicuci atau dipakai.
Pemborosan semacam itu menjadi masalah besar bagi para pengecer.
Penelitian terbaru dari Barclaycard menunjukkan bahwa biaya operasional satu dari lima bisnis online meningkat untuk menutupi dana pengelolaan dan pengolahan barang-barang yang dikembalikan para pelanggan.
Secara hukum, para pengecer harus menawarkan kepada para pelanggan opsi untuk mengembalikan barang yang sudah dibeli secara online dalam waktu 14 hari.
Setelah pembeli memberitahukan kepada pihak pengecer, mereka masih memiliki 14 hari untuk mengembalikan barang. Uang pembelian lalu harus ditransfer dalam waktu 14 hari setelah pengecer mendapatkan barang tersebut kembali.
Sikap baru

Biasanya para pembeli dari kalangan anak-anak muda mengambil tawaran tersebut dan mereka tidak menyebutkan alasan pengembalian barang itu, meskipun pihak pengecer seringkali menanyakan alasan dikembalikannya barang-barang tersebut.
Lee Bloor, dari pengecer pakaian online merk Lavish Alice, mengatakan ledakan penjualan dengan e-commerce membuat para pembeli kini memiliki hubungan yang berbeda dengan pakaian dibandingkan dengan ketika mereka pergi ke sebuah toko.
"Anda bisa mencobanya, Anda bisa menyentuhnya, Anda bisa merasakannya, Anda bisa melihat bagaimana pakaian itu pas di tubuh anda saat di ruang ganti dan saat Anda sudah membelinya, Anda mungkin akan tetap memegangnya.
"Saat ini kita melihat tren konsumen yang membeli beberapa ukuran dari produk yang sama sehingga mereka menggunakan kamar tidur mereka sebagai ruang untuk ganti pakaian," tambahnya.
Berurusan dengan semua barang-barang yang dikembalikan menjadi tantangan bisnis, tapi Emily Murray tidak menyesal dengan kebiasaan belanjanya.
Dia mengatakan dirinya sudah banyak menghabiskan uang di situs belanja online.
"Mereka tidak seharusnya mengiklankan barang yang dikembalikan bebas biaya dan pengiriman gratis jika itu menjadi masalah bagi mereka," katanya.









