Willem Sigar, pendaki maraton yang taklukkan gunung Indonesia

Waktu membaca: 2 menit

Hampir 40 tahun hidupnya dihabiskan dengan mendaki gunung, namun Willem Sigar Tasiam yang kini berusia 58 tahun mengaku ingin terus mendaki lagi dan lagi hingga fisiknya tak lagi mampu.

"Betul bapak naik sendiri? dan betul bapak naik jam tiga (pagi)?" tanya seorang petugas pos penjaga di Gunung Cikuray, Jawa Barat pada Willem.

Saat itu sudah pukul 8 pagi, dan Willem yang baru turun dari puncak melapor di pos jaga.

  • <link type="page"><caption> Pria Nepal menangkan lomba maraton 'tertinggi di dunia'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160530_majalah_nepal_maraton.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Hutan pinus yang digandrungi pengguna media sosial</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/06/160603_galeri_trensos_hutan_pinus.shtml" platform="highweb"/></link>

"Saya datang di Cikuray subuh, jam setengah 3 pagi saya ke pos tidak ada orang, jadi pas turun baru lapor," cerita Willem pada BBC Indonesia. "Saya jawab ke petugas, ya memang naiknya setengah tiga."

"Petugasnya tidak percaya karena jam 8 pagi sudah di bawah. Dia masih ngeliatin aja," kata Willem tertawa.

Biasanya, pendakian Gunung Cikuray memakan waktu sekitar 6-8 jam, namun Willem bisa naik dan turun sekitar lima jam saja.

Sumber gambar, Willem Sigar Tasiam

Maraton

Baru-baru ini, pelari dan pendaki marathon Willem Tasiam telah menyelesaikan perjalanannya mendaki lebih dari 45 gunung dalam 40 hari pada awal Juni lalu.

Ini bukan yang pertama, karena dua tahun sebelumnya dia berhasil mendaki 40 gunung dalam 32 hari. Dan, 30 gunung dalam 27 hari pada 2012.

"Bingung saya," kata Willem saat ditanya mengapa dia begitu menyukai gunung. "Sudah jalan (mendaki), masih aja tetap maunya jalan lagi. Tidak ada kata puas lah, gak ada selesai-selesainya. Ingin ulang lagi, ulang lagi."

Willem mendaki gunung sejak usia 19 tahun dan sejak itu dia seakan tidak pernah lepas dari gunung. Mendaki menjadi prioritas utamanya, lebih dari pekerjaan dan kegiatan lain.

'Kurang ngajar kan?'

Banyak perubahan yang terjadi di gunung dalam beberapa tahun terakhir.

"Makin enggak beraturan," katanya. "Memang makin populer, tapi khawatir akan makin banyak makan korban, karena dari segi perlengkapan banyak yang enggak bener, yang penting ikut naaaaiikkk saja, seperti tren."

"Ada yang sudah sering naik gunung, sombong-sombong, pakainya sendal. kurang ngajar kan itu?"

Sumber gambar, Willem Sigar Tasiam

Dia mengaku suka jengkel menemukan sejumlah pendaki tidak disiplin memenuhi panduan keselamatan. "Walau itu sandal gunung, tapi tetap saja nanti ada ranting, kayu, batu. Sudah enggak standar!"

Selain itu dia juga prihatin dengan sampah yang menggunung di pegunungan, namun enggan memarahi pendaki-pendaki muda. "Paling (saya) himbau, apa sih susahnya simpan bungkus permen? Kita buang sampah di tempatnya aja belum tentu sampai ke TPA."

"(Saya) gak berani marah-marah karena kadang dijawabnya nyolot, bikin kuping panas saja, belum tentu kita siap menerimanya."

Jadi, dari puluhan gunung yang Willem daki, gunung apa yang paling banyak sampahnya?

"Hampir semua gunung populer," katanya.

Sumber gambar, .

Mencari

Hampir semua pendakian yang dilakukan Willem dilakukan sendiri dan dia memilih demikan. "Saya senang sendiri di atas, lebih adem rasanya."

Lalu, apa yang membuat Willem terus mendaki?

"Cape-nya memang ampun-ampun, nanti belum ketemu hujan, ketemu macam-macam, perlengkapan kurang.... Kalau sudah disikat hujan, sedih deh, saya suka bilang sendiri: apa sih yang gua cari? Itu yang belum ketemu."

Inilah yang membuatnya masih berpikir untuk membuat pendakian maraton lain, mendaki 55 gunung dalam 45 hari atau menaklukan 60 gunung dalam 50 hari.

"Belum ketemu, tetap belum ketemu. Apa yang dicari belum ketemu. Apa nanti ketemu? Ya, mudah-mudahan."