Perempuan yang menyerahkan hidupnya -dan matinya untuk Gorila

Dian Fossey

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Fossey menyebut gorila sebagia temannya.

Dian Fossey menceritakan pada dunia bagaimana gorilla gunung hidup, dan berjuang mati-matian untuk menyelamatkan mereka. Tapi, obsesinya mungkin menyebabkan kematiannya secara misterius.

Meninggal secara misterius, 26 Desember 1985 di Rwanda, Dian Fossey adalah pakar primata yang mengubah cara kita memandang gorilla.

Sebelum penelitian Fossey, gorila memiliki reputasi sebagai hewan berbahaya yang dapat membunuh manusia. Fossey menghancurkan mitos ini. Hidup bersama dengan sekelompok gorilla gunung di hutan Rwanda, dia menunjukkan bahwa kera besar ini sebenarnya merupakan raksasa yang lembut, dengan kepribadian personal dan kehidupan sosial yang kaya. Dilihat dari banyak hal, mereka mirip seperti kita.

Tetapi gorilla gunung juga terus berkurang, habitat mereka terganggu oleh pertanian dan tergerus oleh peperangan serta konflik sipil. Fossey menghabiskan tahun terakhirnya untuk berjuang di sebuah pertempuran untuk menyelamatkan mereka, sampai akhirnya dia meninggal pada 1985.

Film Gorillas in the Mist yang dirilis pada 1988 menampilkan versi fiksi dari kisah Fossey. Kami berupaya untuk menyampaikan peristiwa yang benar-benar terjadi dengan melakukan pembicaraan mendalam dengan kolega dan teman-teman Fossey. Salah satunya Ian Redmond, menyediakan hampir seluruh foto-foto ini.

Mencintai Afrika

Dian Fossey tidak sengaja menjadi pakar primata. Dia mencintai alam Afrika dan terinspirasi untuk berkunjung ke sana pada 1963.

Selama perjalanan itu dia bertemu dengan palaeoanthropolog Louis Leakey. Dia fokus mempelajari fosil nenek moyang kita, tetapi harus menyadari bahwa untuk benar-benar memahami bagaimana kita berevolusi, kita juga harus mempelajari tentang kerabat terdekat kita: kera.

Leakey telah membantu peneliti perempuan yang lain, Jane Goodall, yang melakukan penelitian untuk jangka waktu yang lama tentang simpanse. Sekarang dia ingin memulai riset yang serupa terhadap gorila.

Saat itu hanya sedikit yang mengetahui tentang gorila gunung, satu dari sub spesies gorila dari gorilla timur. Dalam film, hewan ini digambarkan sebagai pelaku kekerasan yang kejam, dan dongeng dari para pemburu menyebutkan siapa pun yang mendekati mereka akan dibunuh.

Tiga tahun setelah pertemuan mereka, Leakey mempekerjakan Fossey untuk mempelajari gorila gunung di Republik Demokratik Kongo. Tetapi dia kemudian meninggalkan negara itu akibat konflik.

Jadi pada September 1967, Fossey membangun sebuah pos terdepan di negara sebelahnya, Rwanda, dengan nama Pusat Penelitian Karisoke. Ini terdiri dari beberapa kabin di atas gunung berapi Virunga.

Dian Fossey

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Sesudah gorila mulai trbiasa dengan kehadirannya, riset pun mulai bisa dilaksanakan.

Area ini merupakan rumah bagi gorila gunung Virunga, yang populasinya hanya ada dua di dunia, satu lagi di Uganda.

Ada sekitar 475 ekor pada awal 1960an, tetapi jumlah mereka menurun karena perburuan dan kehilangan habitat. Di tahun 1980-an populasinya menyusut tajam hingga mencapai 254 ekor.

Fossey berupaya untuk memahami dan melindungi sejumlah gorilla gunung, sebelum mereka punah. Pekerjaan awalnya adalah bersikap telaten, untuk mendekati gorilla dia meniru perilaku hewan tersebut.

Seperti dijelaskan kepada BBC pada 1984: “Saya merupakan pribadi yang membatasi diri dan saya merasa gorilla juga seperti itu, jadi saya meniru perilaku alami mereka, perilaku normal seperti makan, mengunyah batang seledri atau menggaruk diri saya sendiri."

Dia juga memukul dada dengan kepalan tangan dan meniru suara panggilan mereka yang mirip dengan sendawa.

Kesabaran dan sikap tenang Fossey terbayar sudah. Dia mendapatkan kepercayaan dari gorilla dan dapat mengamati mereka tanpa gangguan. Dia dengan cepat dapat mengetahui gorilla mana yang berasal dari sebuah keluarga, dan mempelajari peran penting yang dimainkan oleh jantan “berpunggung perak” dalam setiap keluarga.

 Ian Redmond

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Mengamati gorilla membutuhkan waktu. Foto Ian Redmond ini diambil oleh Fossey.

Dianggap buruk

Metode untuk mendapatkan kepercayaan mereka disebut proses adaptasi, yang merupakan hadiah terbesar dari Fossey kepada dunia, kata ahli konservasi gorilla, Ian Redmond, yang bekerja dengan Fossey selama lebih dari tiga tahun. Hasilnya mengarahkan ke pertemanan manusia dan gorilla.

Gorila merupakan hewan yang paling sering dianggap negatif oleh dunia.

“Saya serius tentang itu,” kata Redmond. “Gorila sungguh seperti kita dan mereka dapat melihat bahwa mereka seperti kita. Kita dikagumi mereka seperti mereka kagum pada kita. Mereka sesungguhnya mengamati kita secara fisik, mencibirkan bibir ke bawah dan melihat gigi kita. Mereka sangat tertarik mengenai hewan mirip gorilla ini, yang melakukan sesuatu yang berbeda (bagi mereka)."

Pada 1970, hanya tiga tahun setelah memulai pekerjaan lapangan, Fossey muncul dalam sampul majalah National Geographic. Di situlah dia pertama kali mengatakan kepada dunia mengenai kehidupan gorila gunung.

“Gorila merupakan hewan yang paling dianggap negatif oleh dunia,” tulis Fossey. “Setelah lebih dari 2.000 jam melakukan observasi langsung, saya dapat menghitung kurang dari lima menit apa yang disebut sebagai 'perilaku agresif'.”

Dunia dengan cepat memperhatikannya. “Inilah seorang perempuan yang sendirian di Afrika tengah mempelajari hewan yang dianggap berbahaya yang menakutkan oleh orang lain,” jelas Amy Vedderdari, dari Yale School of Forestry & Environmental Studies di New Haven, Connecticut, AS yang bekerja dengan Fossey sejak awal 1978.

Untuk pertama kalinya, gorilla direkam dalam film untuk ditonton orang di rumah mereka.

Fossey juga memberi nama gorilla yang dia pelajari dan menyebutkan karakteristik mereka, seperti yang dilakukan Jane Goodall terhadap simpanse. "Itu sangat menginspirasi. Menimbulkan ketertarikan di tingkat global dan kepedulian terhadap gorilla,” kata Vedder.

Dian Fossey

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Kabin pertama Dian Fossey di Karisoke Research Center.

Hidup di sebuah daerah terpencil dan ditemani hanya sedikit orang tampaknya cocok dengan karakter Fossey. Tetapi ini tidak berlaku bagi setiap orang yang bekerja di sana. Pada malam hari terdengar seperti bunyi berderit dan rintihan di hutan, tampak seperti tempat yang menakutkan, kata Redmond.

Dia memberikan sedikit tanda persahabatan atau kenyamanan. Dia bukan orang yang mudah untuk diajak hidup bersama dan bekerja sama, dan sering kali memilih untuk menyendiri. Dia dapat bersikap baik dan karismatik secara ekstrem dalam satu menit dan kemudian bersikap memusuhi. Hari-hari berlalu dimana dia jarang berkomunikasi dengan setiap orang kecuali untuk mengedarkan catatan yang ditulis tangan.

Teman dan sesama pakar primata Kelly Stewart menghabiskan beberapa tahun bekerja sama dengan Fossey, awalnya dia merupakan muridnya.

Dia merupakan orang yang sulit untuk diajak berteman, kata Stewart. "Dia menuntut loyalitas penuh, tetapi Anda tidak akan pernah tahu apakah dia akan menyukai Anda atau membenci Anda hari itu. Dia bisa sangat menarik, sangat menyenangkan dan mendukung. Dan kemudian dia dapat memicu semangat Anda.”

Dian Fossey

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Fossey jarang menangkap pemburu, seperti remaja ini yang telah membunuh seekor kijang bertanduk.

Ketika Stewart tiba pada 1973, Fossey tidak menghabiskan banyak waktu dengan gorilla. Dia menderita emphysema, yang membuat dia memiliki napas yang pendek. Meski begitu dia masih mengontrol penuh kamp penelitian ini, ungkap Stewart.

Fossey juga menghabiskan lebih banyak waktu untuk menghadapi pemburu dan petani, yang hewan ternaknya menganggu habitat gorilla. Tak lama setelah Stewart tiba, Fossey menembak beberapa hewan ternak sampai mati.

“Ketika saya pertama kali datang dia penuh dengan gairah tetapi terlihat marah,” kata Stewart. “Dia bersikap seperti pejuang dan siap berperang. Dia mencintai gorilla dan kebenciannya terhadap para pemburu tampak berpengaruh pada perilakunya, dan beberapa orang bahkan berpikir itu akhirnya merupakan cara dari manajemen rasional di pusat penelitian.”

Konflik Fossey dengan para pemburu mengambil bagian terbesar dalam hidupnya, melebihi sejumlah upaya lain yang dia lakukan.

Dian Fossey

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Dia secara rutin memimpin patroli anti pemburu.

Ada laporan dia menangkap dan menginterogasi mereka. Dia membeli topeng dan berpura-pura menggunakan ilmu hitam, jadi warga lokal berpikir dia penyihir dan takut terhadapnya. Sejumlah penduduk lokal menyebut dia sebagai 'penyihir dari Virungas'.

Ada juga anekdot bahwa dia mengatur para pemburu untuk disiksa. Fossey kemudian menceritakan sebuah insiden yang tertulis dalam sebuah surat kepada seorang temannya: ”Kami menelanjanginya dan membuatnya terlentang dan memukul sampai terluka dengan batang jelatang (tanaman yang bisa membuat gatal) dan dedaunan…”

Dia mungkin bahkan menculik anak-anak para pemburu dan menahan mereka untuk tebusan.

Fossey berperang untuk itu, sejauh yang diketahui, dia kalah. Jumlah gorilla terus menurun. Lebih buruknya, dia meningkatkan militansi yang membuat musuhnya bertambah.

Dian Fossey

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Dia memiliki teman warga lokal tetapi juga musuh.

Dia membiasakan diri berada di antara gorilla. Dia memiliki hewan favorit, namanya Digit, disebut begitu karena memiliki jari yang bengkok. Dia mengenalnya sejak hewan itu kecil dan merasa memiliki ikatan khusus dengannya. Seperti dia, Digit sedikit seperti pendatang.

Pada malam tahun baru 1977, Digit tewas oleh pemburu ketika dia berupaya untuk membela keluarganya. Dia baru berusia 12 tahun.

Redmond menemukan Digit sesaat setelah dia dibunuh. Dia telah dipenggal dan tangannya dipotong. Bagian tubuh itu dilaporkan dijual sebagai cenderamata dengan harga sekitar US$20 (sekitar Rp40.000,-).

Redmond membawa tubuhnya “yang terkoyak” kembali ke kamp, di mana di kuburkan.

Peristiwa itu merupakan pukulan besar bagi seorang perempuan yang tengah meningkatkan misi pribadinya untuk mengatasi para pemburu. “Tubuh yang dimutiliasi, kepala, tangan dipotong untuk piala yang mengerikan, berbaring di semak-semak seperti sebuah karung berdarah… bagi saya, pembunuhan ini mungkin merupakan momen yang paling menyedihkan dalam seluruh waktu saya ketika berbagi kehidupan sehari-hari gorilla gunung,” tulis Fossey dalam artikel di majalah National Geographic tahun 1981.

Depresi

Setelah kematian Digit dia menghabiskan lebih banyak waktunya di kabinnya, dan jarang berkomunikasi dengan kolega dan teman-temanya. Dia minum dan merokok – yang telah berat, jadi semakin berat.

Dia mejadi sangat depresi.

Enam bulan kemudian ada peristiwa lain, serangan yang lebih terorganisasi terhadap keluarga Digit. Dua lainnya tewas dan satu bayi Kweli terluka dan kemudian mati akibat lukanya. Salah satu yang tewas adalah Paman Bert, yang paling dominan dalam kelompok 'punggung perak'. Keluarga gorilla sangat tergantung pada pemimpim mereka, jadi kematiannya menghancurkan keluarga Digit.

"Kweli meninggal akibat luka karena peluru dan komplikasi, saya pikir itu merupakan depresi akut. Dia dikuburkan di antara ibu dan ayahnya, yang berbaring di sebelah Digit. Seluruhnya tiga dewasa, telah meninggal jadi dia bisa hidup,” tulis Fossey.

Dia menyalahkan pemerintah lokal dalam peristiwa ini. “Dia merasa itu karena otoritas ingin sebuah cerita yang dramatis agar dunia juga meresponnya,” kata Redmond.

Publisitas di sekitar kematian Digit bahkan mungkin menginspirasi lainnya untuk mendapat uang cepat dari perburuan, pikir Fossey pada saat itu. Dia juga memiliki kecuriagaan bahwa otoritas “telah menginstruksikan untuk membunuh seekor gorilla” untuk mendapatkan simpati dan pendanaan dari para konservasionis.

Kematian Digit meningkatkan kepedulian terhadap nasib gorilla, dan yang terpenting, lebih banyak uang. Tetapi dana tersebut lebih banyak mengalir untuk melakukan konservasi yang lain, dibandingkan untuk secara langsung mengatasi para pemburu seperti yang diinginkan Fossey.

“Dalam jangka waktu yang lama terjadi perselisihan antara Dian dan konservasionis lainnya karena dia berada di dalam hutan dan tidak ada tanda-tanda perubahan, para pemburu masih beroperasi, jerat telah dibuat, gorilla berada dalam bahaya tetapi dia melihat dana yang ada digunakan untuk pendidikan dan pembuatan film,” jelas Redmond.

Konservasionis yang lain memilih untuk bermain di jalan panjang. Mereka bertujuan untuk meningkakan kesadaran terhadap gorilla dan untuk mendorong pemerintah lokal untuk menjaga keutuhan habitat, dibandingkan untuk meningkatkan luas peternakan.

Fossey yakin ini merupakan pendekatan yang salah. Dia ingin aksi langsung dan melihat para pemburu di penjara. Dia tidak dapat melihat orang-orang ini, yang merupakan bagian dari masalah, dapat menjadi bagian dari solusi. Dia “mencemooh upaya untuk mengalihkan para pemburu menjadi petani,” jelas Redmond.

Ian Redmond

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Redmond yang pertama kali menemukan Digit -Foto diambil oleh Fossey

Kebencian dan ketidakpercayaannya terhadap orang Rwanda semakin mendalam.

Vedder, yang datang dua bulan setelah Digit ditemukan, mengatakan bahwa Fossey tidak percaya terhadap setiap orang Rwanda akan tulus atau cukup pintar untuk membantu.|Dia menutup mereka sepenuhnya. Dia sangat meremehkan mereka,” kata dia.

Fossey tidak tampak menyadari bahwa, untuk menyelamatkan gorilla, dia membutuhkan seluruh bantuan yang dia dapatkan, termasuk dari otoritas yang dia benci. Dia menolak untuk bekerja dengan usulan metode baru dari konservasi, dan berpendapat segala upaya yang tidak fokus terhadap perburuan akan sia-sia. Dia dikenal menyebutnya sebagai “buku komik konservasi”.

Oleh sebab itu Fossey mengambil jarak dari Mountain Gorilla Project, yang dimulai pada 1979 dan beberapa organisasi datang untuk menyelamatkan gorilla di Rwanda yang masih tersisa. Mereka bekerjasama dengan warga lokal untuk mengubah perilaku mereka terhadap gorilla.

Makam

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Sebuah kuburan korban perburuan.

Fossey meninggal

Pada 26 Desember 1985, Dian Fossey dibacok sampai meninggal dengan golok.

Sampai hari ini, kematiannya tidak terpecahnya. Redmond tiba di kabinnya sesaat setelah kematiannya dan mengatakan dia masih dapat melihat aliran darah di karpet, dan mengatakan penyelidikan yang dilakukan sangat buruk.

“Tidak ada penyelidikan di tempat kejadian perkara saat peristiwa itu,” kata dia. “Orang menginjak-injak di sekitarnya, merusak sidik jari dan bukti.”

Para pemburu merupakan orang lokal dengan beberapa tujuan, dan tidak mengetahui kamp dengan baik yang dapat mengancamnya.

Satu hal yang pasti: siapapun yang membunuh Fossey juga menggeledah kabinnya seperti mencari sesuatu tetapi dia tidak menemukan sesuatu yang berharga.

Penjelasan yang kentara adalah bahwa dia dibunuh oleh para pemburu yang dilawannya sejak beberapa tahun ini. Tetapi bagi mereka yang bekerja di sana menepis kemungkinan itu.

Para pemburu merupakan warga lokal yang telah hidup dengan cara tersebut selama beberapa dekade, menggunakannya untuk memberi makan keluarga mereka, mereka mengetahui apa yang dilakukannya itu illegal, jadi mereka akan menghindar dari sorotan, kata Vedder.

"Konfrontasi merupakan hal terakhir yang mereka ingin lalukan. Saya sangat yakin, meskipun tak ada satu pun bukti, itu bukan dilakukan oleh pemburu. Para pemburu merupakan orang lokal yang minim alat, dan tidak mengetahui kamp dengan baik."

Sementara yang lainnya percaya para penambang emas lokal yang bertanggung jawab.

Anjing milik Dian Fossey

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Anjing Dian Fossey, Cindy, di sebuah padang rumput di dekat Karisoke, 1977.

Karisoke Research Center berada di dekat perbatasan Rwanda dengan Republik Demokratik Kongo dan Uganda, dekat dengan wilayah yang mengalami gejolak selama beberapa tahun.

Kondisi itu membuka rute ideal bagi para penyelundup. Dilaporkan, Fossey memiliki bukti tentang itu dan para penyeludup ingin mengambilnya.

Fossey mengetahui hidupnya dalam bahaya dan tidur dengan pistol di dekat ranjangnya. Banyak yang terkejut dia tidak dibunuh lebih cepat, kata Stewart. "Dia benar-benar memiliki musuh, perilakunya bisa ekstrem, dan kekerasan terjadi di bagian dunia itu.”

Itu merupakan akhir yang pas untuk hidup yang penuh dengan konfrontasi, kata Stewart. "Jika Dian telah menulis sebuah naskah film mengenai hidupnya, itu cara bagaimana dia akan meninggal. Dibunuh di kabinnya seperti mati sebagai pejuang... saya pikir dia akan menyetujui akhir cerita itu.”

Berita tentang kematiannya tersebar ke orang-orang yang mengenalnya. Dari kolega-kolega yang sejak awal bekerja dengannnya. Dari kolega pertamanya, hanya Vedder yang kebetulan berada di negara itu pada saat itu. “Saya meletakkan tumbuhan berduri dan selendri (makanan gorilla) pada makamnya,” ungkap dia.

Dian Fossey

Sumber gambar, ian redmond

Keterangan gambar, Fossey was buried behind Digit in January 1986.

Populasi gorila stabil

Sesaat sebelum dia tewas, Fossey mengatakan kepada Stewart bahwa tidak akan ada lagi gorilla gunung yang tersisa dalam 15 tahun mendatang.

Dia salah. Sebuah sensus satu tahun setelah kematiannya terungkap jumlah mereka meningkat secara stabil.

Fossey dibunuh sebelum dia dapat mempelajari bahwa pekerjaaanya telah melapangkan jalan untuk memulihkan populasi gorilla gunung. Penelitiannya meletakkan fondasi bagi apa yang dapat dipelajari mengenai gorilla, yang membuka penciptaan dan kesuksesan konservasi dan industri eko wisata yang dikelola dengan baik.

Pada 1990-an genosida yang mengerikan terjadi di Rwanda, tetapi selama periode yang mengerikan ini jumlah gorilla relatif stabil. “Saya pikir ini merupakan warisan Dian juga,” kata Stewart. "Saya pikir jika dia tetap berada di hutan, jika itu [pusat penelitian] tidak berdiri begitu lama di sana, saya pikir tidak mungkin Proyek Gorila Gunung akan dimulai.”

Bahkan pada hari ini, gorilla gunung diyakini menjadi salah satu jenis kera yang jumlahnya tidak menyusut. Hewan ini masih terancam punah tetapi trennya mengalami peningkatan.

Sebuah upacara rutin menamakan gorilla pada November 2015 lalu, merayakan kelahiran 24 bayi gorilla gunung.

Fossey

Sumber gambar, Ian Redmond

Keterangan gambar, Fossey dimakamkan di belakang Digit pada Januari 1986.

Pada awal 2016, sebuah sensus baru akan mengungkapkan bagaiamana jumlah hewan itu telah berubah sejak survei terakhir terhadap populasi mereka pada 2010 dan 2012, yang total mencatat 880 ekor. Dokter hewan lokal Antoine "Tony" Mudakikwa, merupakan orang Rwanda pertama yang meraweat gorilla, mengatakan dia yakin jumlah hewan itu telah meningkat.

Peran Fossey diperdebatkan, disamping seluruh kegagalan dan kesalahannya, dia layak untuk mendapatkan banyak penghargaan atas pemulihan yang lambat dari populasi gorilla gunung ini.

Meskipun dia memusuhi pemerintah lokal, pemburu dan bahkan temannya, dan keenganannya untuk bekerja dengan konservasionis lain, Fossey lah yang pertama kali menempatkan gorilla gunung Rwnada dalam peta.

“Jika orang tidak mengetahui tentang dia dari artikel National Geographic, ketika Digit mati, itu tidak akan menimbulkan percikan,” kata Stewart.

Fossey dimakamkan di gunung Virunga di mana dia menghabiskan 18 tahun hidupnya. Di sampingnya terbaring “Digit yang tercinta”.

___