#Trensosial: Alasan mengapa saya menulis soal keguguran yang dialami istri

Dan Majesky dan istrinya, Leah, mengunggah tulisan mengenai pengalaman mereka saat menghadapi keguguran dan kehamilan.

Sumber gambar, Dan Majesky

Keterangan gambar, Dan Majesky dan istrinya, Leah, mengunggah tulisan mengenai pengalaman mereka saat menghadapi keguguran dan kehamilan.

Pasangan suami-istri yang mencapai usia tertentu akan mendapat pertanyaan kapan mereka berencana mempunyai anak.

Dalam sebuah tulisan yang menjadi viral di Facebook, tahun lalu, seorang perempuan bernama Emily Bingham mendesak teman-temannya untuk berhenti mengajukan pertanyaan semacam itu.

“Anda tidak tahu pasangan mana yang bergelut dengan masalah kesuburan atau berduka karena keguguran atau menghadapi masalah kesehatan,” kata Bingham.

Namun, Dan Majesky, yang bekerja untuk Universitas Cincinnati, Amerika Serikat, punya pendekatan berbeda.

  • <link type="page"><caption> #TrenSosial: Ibu yang menyisipkan mendiang anaknya di foto pernikahan </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/11/151104_trensosial_edit_foto" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> #TrenSosial: KPAI tindaklanjuti foto bayi diberi rokok</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/02/150211_trensosial_foto_bayi_rokok" platform="highweb"/></link>

Dia membuat sebuah tulisan dan mengunggahnya di Facebook. Dalam tulisan itu, Majesky tak hanya mengumumkan kehamilan istrinya, Leah, tapi juga merinci mengenai rasa sakit yang mereka alami ketika menghadapi masalah kesuburan dan keguguran.

“Tadinya tulisan itu bersifat privat, supaya teman-teman kami tahu bahwa kami sedang menantikan kehadiran seorang anak. Namun kami merasa harus mengemukakan tentang keguguran,” kata Majesky kepada BBC Trending.

Dalam tulisan itu, Majesky, menjelaskan bahwa dia dan pasangannya berusia 30-an tahun. Tiga tahun lalu, mereka menggunakan berbagai app pada ponsel dan kalender untuk mendeteksi kehamilan. Ada masa ketika istrinya telat datang bulan, tapi kehamilan tidak kunjung tiba.

Lalu, Majesky menjelaskan tentang keguguran yang dialami istrinya.

“Saya begitu terkejut ketika hal itu terjadi sehingga saya mengabari bos melalui SMS bahwa saya tidak masuk kantor, tapi akan masuk keesokan harinya. Saya menangisi kejadian itu setiap hari sampai sekitar Tahun Baru.”

Tulisan sepanjang 3.000 kata itu juga punya sisi yang lucu.

“Tugas saya berusaha tidak mengucapkan sesuatu yang bodoh karena istri saya harus tetap tenang. Saya mencoba menghindari kata-kata yang bisa memicu, seperti ‘Hei’, atau ‘Selamat Pagi’, atau ‘Saya cinta kamu’.”

Mengundang komentar

Tulisan Majesky di Facebook diberi jempol sebanyak 40.000 kali dan mengundang beragam komentar.

Sumber gambar, TWITTER

Sumber gambar, TWITTER

“Tak jarang kita mendengar soal keguguran dan ketidaksuburan. Namun, saya suka bahwa Anda bisa begitu jujur,” tulis seorang perempuan, yang kemudian mengisahkan cerita pribadinya soal ketidaksuburan.

Banyak orang lalu menyoroti jarangnya kesaksian soal ketidaksuburan atau keguguran dari sudut pandang pria.

Majesky mengunggah foto janin yang tengah dikandung istrinya, Leah.

Sumber gambar, Dan Majesky

Keterangan gambar, Majesky mengunggah foto janin yang tengah dikandung istrinya, Leah.

Menurut Majesky, dia membuat tulisan tersebut dalam satu kali kesempatan. “Kami memutuskan mengubah tulisan itu menjadi publik ketika teman-teman kami mengatakan bahwa mereka ingin berbagi kisah saya di tembok Facebook mereka.”

Sebagai bagian dari tulisan di Facebook, pasangan itu menyertakan hasil USG bayi mereka yang berusia 15 minggu di kandungan dan dijadwalkan lahir pada November mendatang.

“Meski kami sangat tersentuh oleh dukungan yang kami terima, kami merasa gugup dengan kehamilan ini,” kata Majesky.

Lalu apakah mereka punya saran untuk orang-orang yang menanyakan kepada pasangan suami-istri kapan mereka punya anak?

“Mungkin tanyakan kepada pasangan apakah memiliki anak adalah sesuatu yang mereka inginkan. Bukan ‘kapan kamu punya anak?’” tutup Majesky.