Benci tapi rindu, YouTube dan industri musik

Sumber gambar, YouTube
Cara menikmati musik semakin beragam sekarang ini, mulai dari streaming audio dan video hingga cara kuno seperti piringan hitam yang sedang musim lagi.
Tapi industri musik bertanya-tanya ketika melihat angka penjualan dan streaming ternyata justru jatuh. YouTube lah penyebabnya .
Badan industri musik Inggris BPI mengeluarkan statistik industri musik dan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyinggung Google, perusahaan yang sejak lama disalahkan untuk banyak persoalan.
- <link type="page"><caption> Manajer Metallica: YouTube matikan industri rekaman</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160418_majalah_youtube.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> YouTube akan luncurkan layanan berbayar</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/10/151021_majalah_youtube_bayar.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> YouTube akan buka anjungan khusus 'gaming'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/08/150826_majalah_youtube_gaming.shtml" platform="highweb"/></link>
Dulu Google sempat disalahkan karena tak mau mempersulit upaya pengguna ketika mencari musik bajakan.
Kini persoalannya adalah YouTube yang jadi sarana utama orang mendengarkan musik.
Peran pengguna

Sumber gambar, Getty
BPI membandingkan, pendapatan artis dari layanan streaming seperti Spotify meningkat £146 juta ketika akses terhadap layanan ini meningkat 82%.
Sedangkan peningkatan akses lewat YouTube amat jauh melampaui Spotify, tapi pemasukan artis hanya £24,4 juta.
Pimpinan BPI, Geoff Taylor, sampai berujar, "Industri musik menolong YouTube tumbuh, tetapi mereka tak berbagi nilai keuntungan dengan para pencipta."

Sumber gambar, PA
Ini bisa terjadi karena ketergantungan industri musik pada pelantar atau platform seperti YouTube. Platform seperti ini dilindungi hukum Amerika dan Eropa, mereka tak boleh dituntut sekalipun ada materi bajakan di pelantar itu.
Maka sekalipun perusahaan rekaman tak setuju musik mereka diunggah ke YouTube, para pengguna bakal tetap mengunggah dan perusahaan rekaman tak dapat apa-apa.
Namun Google menyatakan, "Kami tampaknya selalu jadi penjahat sekarang ini."
Sarana promosi?

Sumber gambar, Reuters
Google mengaku bahwa mereka sebenarnya sudah melakukan investasi besar di sistem pengenalan pengguna.
Dengan demikian maka perusahaan rekaman bisa melacak materi bajakan yang diunggah lantas bisa meminta materi itu dicabut atau mencari keuntungan darinya.
Mereka juga menolak disamakan dengan layanan seperti Spotify dengan alasan layanan berbasis langganan seperti Spotify memang mengandalkan musik, sementara YouTube adalah pelantar video yang isinya beragam dan didukung oleh iklan.
Maka Google ingin industri musik melihat YouTube sebagai sarana promosi -seperti radio- daripada tempat mencari keuntungan.









