Pemerintah Jepang 'gagal' lindungi LGBT

Pelajar di Jepang

Sumber gambar, BBC CHINESE

Keterangan gambar, Pernyataan antihomoseksual dan transgender disebut terjadi di sekolah-sekolah

Kelompok pegiat hak asasi manusia Human Rights Watch (HRW) menyatakan pemerintah Jepang gagal melindungi pelajar homoseksual dan transgender dari risak (atau bullying) yang meluas.

Menurut organisasi ini, pernyataan anti terhadap homoseksual dan transgender terjadi di mana-mana di sekolah-sekolah, termasuk yang berasal dari guru.

"Ungkapan kebencian terhadap LGBT menekan para pelajar, membuat mereka membenci diri sendiri bahkan melukai diri mereka sendiri," kata juru bicara Human Rights Watch.

Studi mengenai hal ini dilakukan dengan mewawancarai puluhan pelajar dari komunitas LGBT dan para guru.

  • <link type="page"><caption> Perawatan penderita gangguan makan Jepang dikhawatirkan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160425_majalah_jepang_makan" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Kolombia sahkan pernikahan sesama jenis</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160429_majalah_perkawinan_gay_kolumbia.shtml" platform="highweb"/></link>

Kantor berita AFP melaporkan, hampir semua yang diwawancara mengaku pernah mendengar 'pernyataan anti-LGBT' di sekolah mereka, baik dari sesama pelajar maupun dari para guru.

Human Rights Watch

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Human Rights Watch ketika mengumumkan hasil studi mereka di Tokyo.

Termasuk dalam kata-kata itu antara lain seperti menyebut LGBT sebagai hal yang 'menjijikkan' atau pernyataan 'makhluk seperti itu seharusnya tidak pernah dilahirkan'.

Jepang memiliki kebijakan nasional untuk mencegah risak, tetapi tidak secara khusus membuat perlindungan terhadap LGBT.

"Pemerintah Jepang seharusnya membuat kebijakan anti risak untuk melindungi pelajar LGBT sesuai dengan standar internasional," kata direktur HRW Jepang, Kanae Doi.