Perawatan penderita gangguan makan Jepang dikhawatirkan

jepang
Keterangan gambar, Tekanan, terutama bagi wanita remaja, untuk menjadi kurus 'sudah terlalu jauh'.

Sebagian besar penderita gangguan makan di Jepang tidak menerima bantuan kesehatan dan psikologis, menurut sejumlah dokter.

Japan Society for Eating Disorders menyatakan sistem kesehatan gagal menangani ratusan ribu penderita.

  • <link type="page"><caption> Kesha dirawat karena gangguan makan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/01/140107_musik_kesha_rehab" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Gangguan makan pada pria kurang diperhatikan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/04/140409_iptek_gangguan_makan" platform="highweb"/></link>

Organisasi tersebut menyatakan tekanan, terutama bagi wanita remaja, untuk menjadi kurus "sudah terlalu jauh".

Pemerintah menyatakan sedang berusaha meningkatkan pelayanan dan berusaha menemukan akar permasalahan.

"Saya tidak suka disebut gemuk saat masih anak-anak," kata Motoko yang menggunakan nama samaran untuk menyembunyikan jati dirinya.

"Anak-anak lain melecehkan sehingga saya ingin berubah."

Motoko berusia 16 tahun ketika mulai mengalami gangguan makan. Dia sangat membatasi jumlah makanannya dan mulai berolah raga secara berlebihan.

Begitu dia berumur 19 tahun, Motoko benar-benar kekurangan berat badan. Dia mengatakan orang tuanya tidak mengetahui cara menolongnya.

"Reaksi mereka negatif terhadap penyakit saya," katanya. "Ketika saya berusaha bertemu dokter, mereka memerintahkan untuk tidak melakukannya.

"Ibu saya merasa bertanggung jawab, kemungkinan ayah saya juga menyalahkannya."