Video tentang 'perempuan sisa' Cina viral di media sosial

Sumber gambar, SK II
#TrenSosial: Sebuah iklan tentang 'perempuan sisa' di Cina menjadi viral dan memicu debat emosional tentang perempuan yang tidak menikah di negara itu.
Perempuan yang tidak menikah sering dicap sebagai "sheng nu" atau perempuan sisa, dan topik ini telah menjadi kekhawatiran dalam masyarakat yang terlalu mementingkan pernikahan bagi perempuan.
Berjudul "Marriage Market Takeover" atau pengambilalihan pasar pernikahan, video berdurasi empat menit dengan gaya dokumenter ini dibuat oleh perusahaan kosmetik Jepang SK-II.
- <link type="page"><caption> Ketika Cina mencurahkan rasa kesepiannya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160225_trensosial_cina_kesepian.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Adakah sains di balik 'cium ketek pacar'?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160406_trensosial_ciumketekpacar.shtml" platform="highweb"/></link>
Dalam pernyataannya kepada BBC, Presiden SK-II Markus Strobel mengatakan iklan ini adalah bagian dari "kampanye global untuk menginspirasi dan memberdayakan perempuan dalam membentuk takdirnya sendiri."

Sumber gambar, SK II
"Film ini mengangkat masalah nyata yang dialami perempuan berbakat dan berani Cina terkait tekanan untuk menikah sebelum usia 27 tahun, tentang ketakutan dicap sebagai 'sheng nu'."
Dia juga mengatakan perusahaan mengadopsi "pendekatan positif untuk membantu perempuan menghadapi tekanan."
Tekanan berat dari masyarakat
Pemerintah mendefinisikan 'perempuan sisa' sebagai semua perempuan yang belum menikah di atas usia 27.
Partai Komunis Cina yang berkuasa mencoba mendorong perempuan lajang untuk menikah, untuk meperbaiki ketidakseimbangan gender yang disebabkan oleh berakhirnya kebijakan satu anak di sana.
Namun menurut Leta Hong Fincher, penulis "Perempuan sisa: Bangkitnya Ketidaksetaraan Gender di Cina", perempuan lajang kini berada di "titik balik yang nyata" dan banyak yang mulai mengadopsi gaya hidup sendiri dan melawan stigma.

Sumber gambar, SK II
Dia mengatakan kepada BBC: "Mereka adalah perempuan muda dengan kekuatan dan percaya diri, yang secara spesifik menjadi target kampanye negara yang disengaja untuk menekan mereka supaya menikah."
"Perempuan Cina sekarang lebih berpendidikan dari sebelumnya dan semakin banyak dari mereka yang menolak menikah."
Sikap keras dari orang tua juga tampak menonjol.
"Kami selalu berpikir putri kami memiliki kepribadian yang luar biasa. Tetapi wajahnya biasa saya, tidak terlalu cantik. Itu alasan mengapa dia jadi perempuan sisa," kata satu ibu yang berbicara di samping anaknya yang tampak ingin menangis.
Video ini menjadi populer di dunia maya. Di YouTube resmi SK-II, video ini ditonton ratusan ribu orang dan dibagikan dengan luas di antara pengguna Facebook.
Di Cina, video ini mendapat 4.000 like dan dibagikan lebih dari 20.000 di akun resmi SK-II di Sina Weibo.
Lantas apakah masyarakat bisa benar-benar menerima perempuan yang memilih melajang?
"Sekarang, hanya menjadi fantasi," kata Hong Fincher. Dia mengatakan "perasaan cemas luar biasa, perasaan tersiksa, dan tekanan sosial" yang digambarkan dalam iklan masih lazim dirasakan.
"Pernikahan di Cina masih sangat patriarkis dan perempuan harus bisa melihat bahwa menjadi lajang adalah sesuatu yang bisa dirayakan, bukan hal yang memalukan," katanya.









