Kematian badak Sumatera di Kalimantan telah diprediksi tiga tahun lalu

Najaq mati pada Selasa (05/04) dini hari.

Sumber gambar, WWF

Keterangan gambar, Najaq mati pada Selasa (05/04) dini hari.

Najaq, seekor badak Sumatera di Kutai Barat, Kalimantan Timur, dinyatakan mati oleh tim dokter hewan gabungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta berbagai lembaga, termasuk World Wildlife Fund (WWF), pada Selasa (05/04) lalu.

Kematian Najaq sejatinya telah diprediksi Erik Meijaard, seorang ilmuwan pakar konservasi asal Australia yang telah bekerja di Indonesia selama lebih dari 20 tahun.

Tiga tahun lalu, Meijaard pernah menulis artikel opini di laman berita lingkungan Mongabay. Dalam artikel itu, Meijaard menduga Najaq akan mati lantaran WWF telah mengungkap keberadaannya melalui siaran pers.

“Dengan video yang turut ditampilkan dalam siaran pers, menjadi mungkin diketahui di mana lokasi (badak) berada. Bagi siapapun yang berminat dengan cula badak dan punya yang, tidak perlu banyak upaya untuk mengetahui di mana tim survei bekerja,” tulis Meijaard.

  • <link type="page"><caption> Jejak badak Sumatera ditemukan WWF di Kaltim</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/03/130328_sumatranrhino" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Rekaman video badak Sumatra di Kalimantan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/10/131002_sains_badak" platform="highweb"/></link>

Kepada BBC Indonesia, Meijaard mengatakan pengelolaan badak Sumatera di Kalimantan tidak bagus.

"Dari awal tidak jelas mencapai apa. Siapa ahlinya? Kalau memang badak itu ada luka di kaki enam bulan lalu, kenapa tidak langsung ditransportasi ke klinik yang baik, seperti di Way Kambas atau di Taman Safari?" ujar Meijaard, saat dihubungi wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Dia menambahkan, akan lebih baik apabila satu-satunya badak yang diketahui hidup di Kalimantan itu dibiarkan hidup tanpa publikasi.

Badak Sumatera di Kalimantan.

Sumber gambar, WWF PHKA

Keterangan gambar, Badak Sumatera di Kalimantan.

“Badak tersebut akan berkeliaran dengan tenang dan, jika beruntung, mungkin bisa hidup 20 tahun lagi,” kata Meijaard.

Masyarakat harus tahu

Menanggapi kritik Meijaard, Anwar Purwoto selaku direktur Sumatera-Kalimantan WWF Indonesia, mengatakan pihaknya tidak bisa serta-merta mengangkut Najaq ke klinik.

"Tentu saja tidak bisa cepat. Kenapa? Karena untuk menangkap dia kan harus tahu persis jalur-jalur di mana dia biasa lewat. Begitu sudah diketahui pasti badak yang terjerat itu lewat jalur A, B, C, kita buat pit trap (lubang jebakan). Lamanya di situ. Pit trap sendiri sudah kita buat sejak Januari," kata Anwar.

Soal penyebaran informasi bahwa badak Sumatera masih eksis di Kalimantan, Anwar mengaku WWF tidak pernah menyebutkan lokasinya secara spesifik.

"Kalau kita sebut secara spesifik koordinatnya pasti akan mengundang orang ke sana. Kita hanya menyebut provinsinya. Paling detil akhir-akhir ini, setelah kemampuan meningkat, kita sebut kabupatennya. Hanya sebatas itu," katanya kepada BBC Indonesia.

Dia menegaskan informasi keberadaan badak harus diketahui masyarakat.

“Selama ini orang menganggap badak sudah tidak ada di Kalimantan. Padahal ada ada loh di Kalimantan. Masyarakat harus tahu."

Luka jerat

Kematian Najaq diduga disebabkan infeksi yang bersumber dari luka jerat di kaki kirinya.

Tim dokter hewan gabungan memperkirakan badak berumur 10 tahun itu terjerat sejak September 2015.

Ketika tertangkap kamera jebak pada Oktober 2015, tampak jerat tali pada kaki kiri belakangnya. Sejak saat itu, Najaq diusahakan untuk ditangkap agar jerat tali dapat dilepaskan dan diberi pengobatan. Baru pada 12 Maret 2016, Najaq berhasil ditangkap.

Ketika itu, menurut WWF, tali jerat sudah putus namun tali yang tersisa sudah masuk sangat dalam ke dalam kulit.

Najaq langsung diberikan pengobatan untuk lukanya dengan antibiotik dan anti bengkak serta vitamin oleh tim dokter hewan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Taman Safari Indonesia, Yayasan Badak Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan WWF.

Upaya pengobatan juga didukung dan dikonsultasikan dengan para ahli Badak internasional dari Kebun Binatang Australia dan Universitas Cornell, AS.

Harapan, badak Sumatera yang lahir di kebun binatang Amerika Serikat.
Keterangan gambar, Harapan, badak Sumatera yang lahir di kebun binatang Amerika Serikat.

Kondisi Najaq dilaporkan mulai membaik yang diindikasikan dengan makan cukup banyak, namun infeksi di kakinya diprediksi masih ada. Beberapa hari terakhir, kondisi kesehatan Najaq diketahui menurun dan akhirnya mati.

Kepastian penyebab kematian Najaq akan diketahui setelah pemeriksaan autopsi.

“Pengobatan yang diberikan oleh tim dokter hewan sempat direspons positif. Namun demikian, memang luka yang dialami pada kaki kirinya parah dan menyebabkan infeksi,” ujar dokter hewan Muhammad Agil, salah satu personel tim dokter hewan gabungan Penyelamatan Badak Sumatera di Kabupaten Kutai Barat.

Efransjah, selaku CEO WWF-Indonesia, mengatakan kematian Najaq menjadi pelajaran bahwa betapa sulitnya menyelamatkan seekor badak. “Karena itu, perlu dukungan ahli dan sumber daya yang intensif.”

Badak Sumatera adalah salah satu dari dua spesies badak yang ada di Indonesia. Status populasi Badak Sumatera saat ini di ambang kepunahan. Diperkirakan jumlah populasi badak Sumatera kurang dari 100 individu, utamanya tersebar di Pulau Sumatera.