Rakyat Cina luapkan kemarahan atas operasi vaksin gelap

Vaksinasi

Sumber gambar, iStock

Keterangan gambar, Pihak berwenang sudah menangkap terduga pemimpinnya, seorang ibu dan putrinya.

Rakyat Cina mengungkapkan kemarahan dan kekhawatiran setelah munculnya berita tentang operasi vaksin gelap di Provinsi Shandong.

Operasi tersebut melibatkan ratusan orang dan mempengaruhi sekitar 24 provinsi maupun kota, seperti dilaporkan media lokal.

Hari Senin (21/03) berita tentang tewasnya seorang anak laki-laki setelah mendapat vaksinasi memicu kemarahan walau para pejabat terkait vaksinasi bersangkutan mengatakan kasus itu tidak berhubungan dengan skandal di Provinsi Shandong.

  • <link type="page"><caption> Diperkirakan sepertiga lelaki Cina mati muda karena rokok</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/10/151009_majalah_cina_rokok" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Minuman alkohol di Cina dicampur Viagra</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/08/150803_dunia_cina_makanan" platform="highweb"/></link>

Cina menghadapi skandal kesehatan dan keselamatan dalam beberapa tahun belakangan.

Jaringan gelap operasi penyimpanan dan pengangkutan vaksin tersebut diperkirakan sudah beroperasi sejak tahun 2011.

Vaksinasi

Sumber gambar, Thinkstock

Keterangan gambar, Vaksin 'tercemar' dilaporkan bisa menyebabkan cacat maupun kematian.

Terduga pemimpinnya, seorang ibu dan putrinya, sudah ditangkap. Mereka dituduh membeli vaksin dari sumber resmi maupun tidak resmi sebelum menjualnya ke pusat-pusat kesehatan pemerintah dengan harga yang lebih tinggi.

Vaksin senilai US$88 juta atau sekitar Rp1,1 triliun itu tidak disimpan di tempat pendinginan maupun dibawa dengan prosedur pengangkutan yang semestinya.

Kantor berita Xinhua melaporkan vaksin-vaksin 'yang tercemar' tersebut bisa menyebabkan cacat maupun kematian.

Pihak berwenang sudah mengetahui kasus ini sejak April tahun lalu namun baru diumumkan ke khalayak umum, Jumat (18/03), karena seruan agar para pemasok memberi informasi untuk bisa menelusuri para korban yang mungkin terkena dampaknya.

Ribuan orang langsung mengungkapkan kemarahan lewat media sosial Cina, Sina Weibo, dengan mempertanyakan penundaan pengumuman tersebut.