Diperkirakan sepertiga lelaki Cina mati muda karena rokok

Seperti di Indonesia, setelah makan, kebanyakan lelaki di Cina langsung merokok.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Seperti di Indonesia, setelah makan, kebanyakan lelaki di Cina langsung merokok.

Sebuah studi mengungkapkan sepertiga lelaki Cina berusia di bawah 20 tahun akan meninggal pada usia muda, jika mereka tidak berhenti merokok.

Ilmuwan Universitas Oxford, Akedemi Ilmu Kesehatan Cina, dan Pusat Kendali Penyakit CIna meneliti kasus ini lewat dua studi terpisah, selama 15 tahun dan melakukan survei pada ratusan ribu orang.

Hasil penelitian yang dirilis di The Lancet menyebut dua pertiga pria Cina pertama kali merokok sebelum berusia 20. Sekitar separuhnya akan meninggal karena kebiasaan tersebut.

Jika tren ini terus berlanjut, maka jumlah kematian per tahun akibat tembakau di Cina akan mencapai dua juta orang pada 2030, dengan mayoritas korban adalah laki-laki.

Sebuah studi mengungkapkan sepertiga lelaki Cina di bawah usia 20 tahun akan meninggal pada usia muda jika tidak berhenti merokok.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Sebuah studi mengungkapkan sepertiga lelaki Cina di bawah usia 20 tahun akan meninggal pada usia muda jika tidak berhenti merokok.

Riset menyebut kondisi ini sebagai 'wabah kematian dini'.

<link type="page"><caption> Sama seperti dengan di beberapa kalangan masyarakat di Indonesia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/09/150922_indonesia_kretek_budaya" platform="highweb"/></link>, biasanya usai makan kebanyakan lelaki di Cina langsung merokok.

Pertemanan dan bisnis pun tidak jarang ‘dibangun’ di tengah kepulan asap rokok.

Kesulian penegakan larangan

Tidak heran pemerintah Cina kesulitan menerapkan larangan merokok di tempat umum. Apalagi negara itu <link type="page"><caption> masih melihat penjualan rokok sebagai salah satu cara mendulang pajak</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2010/05/100521_tobacco1economy.shtml" platform="highweb"/></link>.

Di negeri Tirai Bambu ini, rokok pun bisa menjadi oleh-oleh dengan dibandrol lewat harga tinggi ketika rokok dilengkapi aksesoris bermotif keemasan pada kemasannya.

Namun, untuk masyarakat miskin Cina, juga dijual rokok dengan harga murah seharga 2,5 yuan atau sekitar Rp5.000 per bungkusnya.

Alhasil, ketika jumlah perokok di negara maju terus menurun, jumlahnya justru melonjak di Cina. Apalagi ketika ekonomi membaik dan jumlah orang kaya bertambah.

Di negara tempat orang <link type="page"><caption> merokok sebagai kebiasaan yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/11/141129_cina" platform="highweb"/></link>, hanya sedikit orang yang paham efek buruk dari penggunaan tembakau.

Berdasarkan data Lembaga Kesehatan PBB, WHO, hanya 25% orang dewasa Cina yang bisa menyebutkan efek buruk merokok, mulai dari kanker paru-paru hingga sakit jantung.

Sehingga tidak mengherankan, hanya 10% perokok Cina yang berhenti karena pilihannya sendiri sedangkan sebagian besar akhirnya berhenti merokok karena mereka sudah terlalu sakit.

Secara global, WHO <link type="page"><caption> menyebut rokok membunuh hingga separuh penggunanya</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2010/05/100521_tobacco2negativeewi.shtml" platform="highweb"/></link>.