Kuwait perkirakan defisit anggaran yang terbesar

Sumber gambar, EPA
Kementerian Keuangan Kuwait memperkirakan rekor defisit anggaran terbesar untuk setahun mendatang, sekitar US$38 miliar, atau naik hampir 50% dari tahun sebelumnya.
Penyebabnya adalah penurunan drastis <link type="page"><caption> harga minyak dunia, yang sempat berada di bawah US$30 untuk satu barel</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/160114_majalah_minyak_hargaturun" platform="highweb"/></link> sebelum menguat kembali.
Dalam anggaran yang disahkan pada Rabu (27/01) malam tersebut, defisit disebut mencapai 11,5 miliar dinar atau sekitar US$38 miliar dengan belanja negara mencapai 18,9 miliar dinar dan pemasukan 7,4 miliar dinar.
Dari total pemasukan tersebut, sekitar 19,1 miliar dinar atau 78% berasal dari minyak, yang menurun dari 94% seperti sebelum penurunan harga minyak dunia.
Asumsi harga minyak yang digunakan dalam anggaran tersebut adalah US$25/barel atau menurut dari US$45 pada tahun sebelumnya.
Semua negara yang bergabung dalam Dewa Kerja Sama Teluk -seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab, dan <link type="page"><caption> Arab Saudi- melaporkan defisit anggaran setelah harga minyak turun</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/12/151228_majalah_saudi_minyak" platform="highweb"/></link> sampai 3/4 sejak pertengahan 2014 lalu.
Sejalan dengan defisit tersebut, negara-negara Teluk sudah mengumumkan sejumlah langkah pengetatan ekonomi, antara lain peningkatan harga produk-produk, listrik, maupun air.





