Dokter Rica ditemukan, polisi belum bisa pastikan motif

Sumber gambar, reuters
#TrenSosial: Polisi Yogyakarta mengatakan telah menemukan dokter Rica Tri Handayani dan anak balitanya yang hilang akhir Desember lalu.
Juru bicara Polda DIY Yogyakarta, Anny Pudjiastuti, kepada BBC Indonesia mengatakan Rica dan anaknya ditemukan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Kasus hilangnya dokter Rica jadi perhatian khalayak, setelah keluarga dan kerabatnya menyampaikan kecemasan mereka atas kehilangan Rica di media sosial. Pesan kemudian beredar luas di media sosial dan sebuah unggahan Facebook yang meminta bantuan pengguna untuk mencari telah <link type="page"><caption> dibagikan ratusan kali.</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/160105_trensosial_rica" platform="highweb"/></link>
Ibu dan anak ini dilaporkan hilang pada 30 Desember 2015 lalu di Yogyakarta. Sejumlah laporan menyebut Rica meninggalkan surat sebelum pergi, menyatakan 'ingin berjuang di jalan Allah' namun berjanji untuk tidak 'bergabung dengan ISIS'.
"Sudah ditemukan di Kalimantan Tengah, Pangkalan Bun. Tetapi, motif dan sebagainya belum bisa kita sampaikan karena belum dimintai keterangan. Sementara suami sudah menjemput kemarin," kata Anny Pudjiastuti.
Sejumlah laporan menyebut Rica dan anaknya ditemukan pada Senin (11/01) pagi dan hingga kini masih dalam perjalanan ke Yogyakarta.
Pengguna media sosial dalam beberapa pekan terakhir berspekulasi bahwa hilangnya Rica terkait dengan aktivitas kelompok ekstrem atau kelompok aliran sesat. Salah satu dugaannya terkait dengan kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), yang dibeberapa daerah sudah dianggap sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Walau belum terbukti, kasus ini sudah menimbulkan perdebatan terkait kelompok-kelompok itu - yang tidak melulu merekrut warga ekonomi miskin, tetapi juga orang-orang dengan berpendidikan tinggi.
Ahli terorisme Sidney Jones mencatat sekitar 400 warga Indonesia pergi ke Suriah, termasuk perempuan dan anak-anak.
"Sekitar 200–250 mujahidin yang betul-betul ikut pasukan ISIS. Tapi yang menarik untuk saya, ada sekitar 130 orang yang terdiri dari perempuan dan anak di bawah umur 15 tahun karena banyak yang datang ke sana bersama keluarga," katanya dalam wawancara kepada BBC, November lalu.
Sebelumnya, sebuah keluarga kelas menengah di Batam juga diduga bergabung dengan kelompok militan Negara Islam atau ISIS di Suriah.









