Kasus 43 mahasiswa hilang: Wali kota diadili terkait mafia narkoba

Sumber gambar, Getty
Pengadilan di Meksiko telah mendakwa mantan Wali kota Cocula, Cesar Penaloza Santana, karena diduga terkait kejahatan terorganisasi.
Kota Cocula menjadi sorotan media Meksiko sejak setahun silam karena dugaan keterlibatan aparat polisinya dalam <link type="page"><caption> kasus hilangnya 43 mahasiswa</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150927_dunia_demo_meksiko" platform="highweb"/></link>.
Pemerintah Meksiko mengatakan para pejabat polisi yang terbukti melakukan korupsi itu berasal dari kota Cocula. Mereka diduga terlibat dengan hilangnya 43 mahasiswa di kota Iguala.
Para pejabat polisi itu diduga menerima suap dengan <link type="page"><caption> menyerahkan 43 mahasiswa naas itu kepada mafia obat bius</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2014/10/141023_meksiko_mahasiswa" platform="highweb"/></link> untuk kemudian dibunuh.
Kasus hilangnya 43 mahasiswa ini menguatkan dugaan yang selama ini berkembang bahwa polisi dan pejabat lokal telah melakukan praktek korupsi.

Sumber gambar, Reuters
Penaloza Santana ditahan sejak 16 Desember lalu dengan tuduhan memiliki hubungan dengan "kelompok kriminal yang beroperasi di wilayah utara negara bagian Guerrero", kata jaksa penuntut.
Otoritas terkait tidak memberikan informasi detil tentang tuduhan ini, tetapi media lokal melaporkan bahwa penahanan Penaloza terkait dengan kelompok mafia narkoba Guerreros Unidos yang selalu dihubungkan dengan kasus hilangnya 43 mahasiswa.
43 mahasiswa dari sekolah tinggi keguruan itu hilang pada 26 September 2014.

Sumber gambar, epa
Hasil penyelidikan pemerintah menyimpulkan bahwa para mahasiswa naas itu <link type="page"><caption> diamankan oleh petugas kepolisian yang korup, dan menyerahkannya kepada Guerreros Unidos</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/10/151012_dunia_meksiko_mhshilang" platform="highweb"/></link>.
Menurut penyelidikan, para mahasiswa itu kemudian dibunuh oleh kelompok kriminal itu dengan alasan mereka adalah anggota dari kelompok pesaingnya.
Mayat mereka kemudian dibakar di tempat pembuangan sampah di pinggiran kota Cocula, demikian isi laporan hasil penyelidikan.
Hasil uji penelitian DNA keluarga korban yang dicocokkan dengan potongan tulang yang ditemukan pembuangan sampah itu membenarkan bahwa salah-seorang korban itu bernama Alexander Mora, salah-seorang dari 43 mahasiswa tersebut.

Sumber gambar, AFP
Namun demikian, hasil penyelidikan tim peneliti independen itu ditolak oleh pemerintah Meksiko.
Pada September lalu, Komisi Inter-Amerika tentang Hak Asasi Manusia mengatakan mereka telah menemukan bukti bahwa mayat-mayat mahasiswa itu telah dibakar.
Komisi itu terus mendesak pemerintah Meksiko guna menyelidiki hilangnya 43 mahasiswa itu, tetapi mereka tidak menawarkan petunjuk lebih lanjut tentang apa yang mungkin terjadi pada para mahasiswa malang itu.









