Tiada kompetisi sepak bola profesional, turnamen tarkam pun jadi

- Penulis, Jerome Wirawan
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
“Bola dioper ke Odey, Odey angkat tinggi ke depan. Cukup manis umpannya ke Ompyang. Ah, tapi bola langsung dipotong Cacing sehingga gagal serangan yang dibangun tim Legiun.”
Deretan kalimat tersebut diucapkan Salih Pelong seakan tanpa titik dan koma. Berkat pengeras suara, komentarnya yang khas dengan logat Betawi nyaring terdengar di sekeliling lapangan sepak bola.
Pekikan Salih menambah seru laga para pemain dari kedua klub amatir yang masing-masing berasal dari Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan. Laga tersebut merupakan bagian dari turnamen Pordek yang digelar di kawasan Cinere, Depok.
Karena turnamen itu setingkat antar-kampung alias tarkam, suasananya berbeda dengan pengalaman menonton di stadion.
Ratusan penonton memadati sekeliling lapangan tanah merah yang dibatasi pagar bambu, sembari duduk beralas koran. Ada pula yang menikmati jalannya pertandingan sembari menyantap jajanan di warung-warung tepi lapangan.

Turnamen Pordek diikuti oleh 64 klub amatir dari berbagai daerah di Jabodetabek. Dengan membayar pendaftaran sebesar Rp500.000, klub-klub tersebut berkesempatan mendapatkan hadiah sebesar Rp35 juta.
Untuk memperolehnya, sebagian klub tidak segan-segan mendatangkan pemain dari liga profesional, tim nasional, sampai mancanegara.
“Masing-masing klub bebas menurunkan pemain asingnya. Artinya, kami selaku panitia tidak membatasi. Bahkan kalau sebuah klub ingin semua pemainnya adalah pemain asing, boleh di sini. Bahkan dalam turnamen Pordek pertama dan kedua, juaranya adalah klub yang semua pemainnya dari Afrika, nggak ada satupun pemain asal Indonesia,” tutur Salih kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.
Penggunaan pemain profesional sampai pemain asing diakui Martin, selaku manajer klub Legiun dari Jakarta Selatan. Dia menggunakan jasa empat pemain asal Afrika dalam pertandingan kali itu.
“Saat ini kami menggunakan empat pemain asing. Untuk satu pemain asing, kami mengeluarkan uang Rp800.000 sampai Rp1,5 juta per pertandingan.,” kata Martin.

Pemain profesional
Perekrutan pemain asing di sebuah turnamen tarkam semakin menjadi hal yang jamak. Bahkan, ada pula <link type="page"><caption> pemain tim nasional Indonesia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/forum/2015/04/150421_forum_konflik_pssi_menpora" platform="highweb"/></link> yang direkrut para pemilik klub amatir.
Wahyu Widodo, pedagang sapi asal Banjarnegara, mengontrak lebih dari 11 pemain profesional dan eks tim nasional saat klub bentukannya bertanding di Piala Bupati Banjarnegara, awal November lalu.
Apabila dijumlah, uang yang dia keluarkan mencapai lebih dari Rp100 juta. Padahal, hadiah juara turnamen hanya Rp25 juta.
“Uang Rp100 juta itu dikeluarkan dari babak penyisihan sampai pertandingan final. Sebenarnya tidak imbang dengan hadiah yang diperoleh, tapi saya suka dengan sepak bola sehingga biaya tidak kepikiran lagi,” jelas Wahyu.

Bagi para pemain profesional yang menggantungkan hidup pada sepak bola, berkiprah di turnamen tarkam adalah pilihan utama setelah <link type="page"><caption> liga profesional berhenti bergulir sejak beberapa bulan lalu</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150528_indonesia_suporter_nasibpssi" platform="highweb"/></link>. Joko Setiawan, mantan pemain Persikota Tangerang, misalnya.
“Untuk sekarang, saya tidak bermain untuk klub resmi, tapi klub-klub antarkampung karena tidak ada kegiatan di liga. Dengan liga berhenti, mata pencaharian saya, di sini (kompetisi tarkam),” kata Joko.
Soal bayaran, Joko mengaku dibayar Rp300.000 untuk tahap awal turnamen.
“Untuk pertandingan selanjutnya, bayaran dinaikkan Rp100.000, Rp200.000. Tapi besarannya tergantung dari bos pemilik klub tarkam yang mengajak saya.
Lalu ada bonus uang tunai jika mencetak gol?
“Itu pasti. Uangnya disisipkan ke kaus kaki. Itulah ramainya turnamen antar kampung,” kata Joko seraya tertawa.


Bisnis sampingan
Namun, tidak semua pemain profesional menjadikan turnamen tarkam sebagai opsi utama. Sebagian menjadikan turnamen tarkam sebagai selingan dari kegiatan lain.
Pemain Persib Bandung, Zulham Zamrun, misalnya, sehari-hari berbisnis, dan hanya sesekali berkiprah di turnamen tarkam.
Bersama empat pemain Persib lainnya, Zulham dibayar Rp5 juta oleh sebuah klub amatir untuk satu pertandingan pada Piala Bupati Banjarnegara, awal November lalu.
“Dengan label pemain nasional, bayarannya cukup lumayanlah bermain di situ," katanya.
""Cuma saya sih tidak terlalu condong ke situ (bermain di turnamen tarkam). Karena, selain mencari nafkah di sepak bola, alhamdulillah saya punya sampingan. Sejauh ini saya sudah memiliki tiga bangunan kos-kosan. Sekarang sedang merintis bisnis ruko,” papar Zulham.
Pilihan berbisnis Zulham Zamrun sesuai dengan anjuran Benny Dollo, mantan pelatih timnas yang kini mengasuh Sriwijaya FC.
Menurut Bendol, demikian dia biasa disapa, pemain profesional Indonesia harus menyisihkan lebih dari 50 hingga 70% gaji mereka untuk tabungan dan berbisnis untuk <link type="page"><caption> menghadapi kondisi tak terduga</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150530_indonesia_menpora_sanksififa" platform="highweb"/></link>.
Pertanyaannya, sampai kapan kompetisi profesional di Indonesia berhenti bergulir? Salih, panitia turnamen tarkam di Cinere, berkomentar.
“Sepak bola antar-kampung adalah hiburan yang sangat diminati masyarakat. Selain hiburan, sepak bola juga bisa menghasilkan mata pencaharian untuk pemain dan keuntungan bagi para pedagang-pedagang di tepi lapangan. Itu baru di tingkat kampung, bagaimana di tingkat nasional? Kalau kompetisi profesional mati, nggak ada, yaaaah...”
Versi audio artikel ini dapat Anda simak dalam program Liputan Khas BBC Indonesia, pada Kamis (03/11), melalui siaran radio-radio mitra BBC Indonesia.









