Kisruh PSSI dan harapan suporter klub sepak bola

Sumber gambar, AFP
- Penulis, Heyder Affan
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Ancaman pengucilan sepak bola Indonesia dari kancah sepak bola internasional sangat bergantung kepada keputusan FIFA dalam sidangnya di Zurich pada Jumat (29/05) waktu setempat.
Ancaman FIFA ini didasarkan sikap pemerintah Indonesia melalui Menteri Pemuda dan Olah Raga, Imam Nahrawi, yang memberikan sanksi pembekuan kepada PSSI pada pertengahan April 2015 lalu.
PSSI dibekukan oleh Menpora karena dianggap mengabaikan syarat Badan Olah raga Profesional Indonesia, BOPI, terkait penyelenggaraaan Liga Super Indonesia.

Sumber gambar, AFP
Asosiasi sepak bola dunia lantas menganggap pemerintah <link type="page"><caption> Indonesia telah mencampuri</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/04/150419_lanjutan_konflik_pssi_kemenpora" platform="highweb"/></link> urusan internal PSSI.
Sejauh ini <link type="page"><caption> Kemenpora belum merevisi surat keputusan pembekuan PSSI</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150526_indonesia_kisruh_pssi" platform="highweb"/></link>, walaupun Wakil Presiden Jusuf Kalla telah menyodorkan sejumlah opsi pencabutan sanksi administrasi tersebut.
"Belum ada revisi," kata Menpora Imam Nahrawi, Kamis (28/05) kepada wartawan di Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung.
Akibat pembekuan ini, PSSI telah menghentikan semua kompetisi tahun ini karena alasan keadaan memaksa, antara lain karena kepolisian tidak mengizinkan laga kompetisi digelar.

Situasi inilah yang berdampak luas kepada klub peserta kompetisi, termasuk para suporter fanatiknya.
BBC Indonesia mewawancarai tiga orang suporter klub Persib Bandung, Persija Jakarta dan Arema Malang tentang harapan mereka tentang penyelesaian kisruh PSSI dan Kemenpora. Berikut petikannya:
Bodhenks Aremanoid
Suporter klub Arema Malang

Semenjak kompetisi liga dihentikan, saya praktis kehilangan hiburan. Dulu saya selalu mendatangi Stadion Kanjuruhan setiap Arema berlaga.
Saya jelas sedih dan marah. Bukankah kita semua tahu sepak bola itu merupakan alat untuk mempersatukan?
Mengapa untuk memperbaiki sepak bola Indonesia dengan membekukan PSSI? Saya tahu ini tujuannya baik, tetapi caranya yang nggak benar.

Apakah Kemenpora tidak memahami bahwa manajemen PSSI itu tidak bisa dicampuri? Kenapa tidak menyerahkan pembenahannya kepada PSSI? Saya curiga Kemenpora ini tidak paham apa-apa soal sepak bola, tetapi ingin cawe-cawe, ingin ikut campur tangan.
Bayangkan apa jadinya kalau FIFA sampai membekukan PSSI?
Saya juga memahami ada kisruh di tubuh Arema, yang ditandai ada dualisme kepengurusan. Ini memang masalah sejak awal yang belum selesai. Tapi ini sebetulnya bisa diselesaikan tanpa harus membekukan PSSI 'kan?
Sebagian suporter Arema sudah memprotes kebijakan Kemenpora ini. Kita melakukan unjuk rasa dengan melakukan aksi bermain sepak bola di jalan-jalan setelah mereka membekukan PSSI.
Saya terus terang jadi apatis. Untungnya, masih ada hiburan sepak bola yang bisa saya jadikan hiburan: sepak bola antar kampung alias tarkam. Ha-ha-ha.
Heru Viking
Ketua Viking Persib Fans Club

Sumber gambar, persib.co.id
Bagi kami sepak bola bukan sekedar permainan. Bagi kami sepak bola juga alat silaturrahmi. Kami khawatir kalau sepak bola nilainya berkurang karena ada kebijakan pembekuan PSSI oleh Kemenpora.
Efeknya kurang bagus (buat sepak bola Indonesia), dan saya sangat menyayangkan kebijakan Menpora itu.

Sumber gambar, persib
Pemerintah dan PSSI sebagai yang diharapkan masyarakat untuk membuat sepak bola lebih maju. Harusnya mereka berkolaborasi dengan baik, berkolaborasi untuk kepentingan bersama.
Seharusnya mereka duduk semeja, tenang, dan pecahkan masalahnya yang hasilnya bisa menyenangkan semua pihak.
Kalau FIFA membekukan PSSI, ya pasti ngefek (berdampak) buat Persib, karena nggak bisa bermain di liga yang lebih besar.
Jika masalah ini dibiarkan berlarut-larut, ini akan menganggu proses kebangsaan dan kenegaraan. Apa pasal? Karena sepak bola itu bisa menjadi sarana untuk persatuan dan kesatuan.
Masyarakat melihat masalah ini pasti tidak puas, karena sepak bola itu merupakan hiburan mereka. Dengan pembekuann atas PSSI dan kompetisi dihentikan, hiburan rakyat menjadi berkurang.
Andi Bachtiar Yusuf
Suporter Persija Jakarta

Tujuannya baik, tapi sepertinya cara yang ditempuh Menpora menunjukkan dia tidak memahami petanya.
Karena, akibatnya jelas: semuanya (klub, pemain, manajer, pelatih, dll) menganggur. Kompetisi berhenti, pemain menganggur, dan bisnisnya menjadi nggak jalan.
Sepak bola Indonesia ini 'kan baru jalan. Saya bisa bilang: musim ini banyak sponsor datang, mulai bergairahlah dunia industri sepak bola. Ada pihak yang mulai berinvestasi. Sekarang ini menjadi terhenti.
Dan masalah lebih besar lagi, penonton sepak bola kehilangan tontonan. Pendukung Persija kehilangan tontonan, juga di tempat lain.

Sepak bola hilang, dan misalnya kalau FIFA menurunkan sanksinya, timnas Indonesia tidak akan bisa bermain di SEA Games.
Lagipula untuk memperbaiki sepak bola Indonesia dengan cara otoriter, yaitu membekukan.
Sebetulnya dua petinggi (PSSI dan Kemenpora) perlu duduk bareng dan dialog: Apa yang mereka mau cari? Kalau mau sepak bola Indonesia itu lebih baik, itu ukurannya apa?
Kalau tujuannya agar kompetisinya benar, kita sekarang sedang menuju ke arah itu.
Lagipula, Menpora sepertinya nggak punya rencana. Katanya mau ada tim transisi, tapi ternyata baru terbentuk dua atau tiga minggu kemudian. Jadi seperti tidak punya rencana.
Seharusnya lebih cepat, sehingga kompetisi bisa tetap jalan, supaya perputaran investasi tetap jalan terus.
Jalan keluarnya? Kedua pihak harus duduk bareng. Kita tidak bisa mengatakan kedua pihak punya niat jelek semua. Pasti kedua pihak punya nilai baiklah, apapun perspektifnya. Harusnya mereka bisa bertemu.











