Angka bunuh diri pembelot Korea Utara tinggi

Sumber gambar, Thinkstock
- Penulis, Stephen Evans
- Peranan, Wartawan BBC News Seoul
Di seluruh dunia, jutaan orang melarikan diri dari rezim tiran. Tapi apakah mereka selalu menemukan kehidupan lebih baik seperti yang mereka harapkan? Di Korea Selatan, statistik menunjukkan banyak pembelot dari Utara mengakhiri hidup mereka sendiri.
Data kementerian penyatuan Korea Selatan menunjukkan 15% pembelot yang meninggal setiap tahun sikarenakan bunuh diri. Angka itu dua kali lipat tingkat bunuh diri masyarakat secara umum, padahal Korea Selatan ialah negeri dengan tingkat bunuh diri tertinggi dari 34 negara industri di OECD.
Ada sejumlah faktor yang mendorong para pembelot mengakhiri hidup mereka. Salah satunya, kampung halaman yang mereka tinggalkan dekat tapi tak terjangkau. Alasan lain ialah realitas ekonomi yang jauh dari gambaran kehidupan glamor dalam sinetron Korea Selatan yang diselundupkan ke Utara.
Kim Song-il menggeluti bisnisnya yang ke tujuh sejak membelot 14 tahun lalu. Pria itu pernah bekerja sebagai sopir bus, buruh bangunan, dan pemilik restoran.
Sekarang, dia memulai usaha penjualan ayam potong. Dia membeli ayam utuh, lalu mempekerjakan sejumlah karyawan untuk memotong-motong, membungkus, dan membekukan dagingnya untuk dijual.
Ini perjuangan. "Ketika bisnis saya sebelumnya gagal, saya mencoba bunuh diri tiga kali," katanya. "Saya harus terus mengingatkan diri sendiri bagaimana saya mempertaruhkan nyawa hanya untuk sampai ke sini."
Bagian dari kesulitannya, ia mengaku, ialah perubahan jabatan. Song-il seorang perwira militer di Utara dan terbiasa memberi perintah. Maka kemudian, ketika menjadi karyawan dalam perusahaan kapitalis, dan disuruh-suruh, merupakan hal yang tidak mudah.

Ada juga pembelot yang sukses di Selatan. Lee Yung-hee hijrah 14 tahun lalu dan sekarang sibuk menjalankan Max Burrito, restoran miliknya sendiri dua jam dari Seoul.
Di Utara, ia belum pernah mendengar tentang hidangan Meksiko klasik ini. Ketika ia mencapai Selatan, awalnya ia mendapat pekerjaan di warung penjual kebab. Terpikir olehnya menambahkan nasi ke dalam daging yang digulung roti itu akan lebih sesuai dengan selera Korea. Hasilnya, ia menemukan makanan baru yang jadi lebih mirip burrito. Karena itu Yung-hee masuk ke bisnis burrito - dan sangat sukses. Inisiatif dan kerja keras akhirnya terbayar.
"Ketika saya pertama kali tiba, Selatan tampak begitu berbeda," katanya. "Kalau mau berhasil, saya harus belajar semuanya dari awal."
Para pembelot mendapatkan pelatihan tiga bulan ketika mereka tiba, namun pengamat mengatakan itu tidak cukup untuk belajar keterampilan baru. Pemerintah menjawab, pembelot sendiri tidak ingin 'sekolah' terlalu lama.
Beberapa kelompok Kristen memberikan pelatihan kejuruan. Menurut mereka, keterampilan paling berguna adalah yang sederhana tapi bermanfaat seperti membuat kopi yang disajikan di kafe.
Tapi kurangnya kesempatan, di luar pekerjaan sederhana seperti ini, menjadi salah satu sumber ketidakpuasan.

Sumber gambar, Getty
Andrei Lankov, seorang sejarawan di Kookmin University, Seoul, yang juga belajar di Pyongyang, mengatakan masalahnya adalah keterampilan yang diperoleh di Utara tidak memadai untuk perekonomian Korea Selatan yang modern. Pembelot yang berprofesi dokter, misalnya, seringkali gagal mendapatkan pekerjaan di dunia medis di Korea Selatan.
Menurut dia, ini akan jadi persoalan jika unifikasi benar-benar terjadi.
"Mampukah lulusan dari sekolah kedokteran Korea Utara mendapatkan lisensi dokter setelah unifikasi, jika semua pengetahuan medisnya ia dapat dari buku teks terjemahan Uni Soviet yang terbit puluhan tahun lalu?"
Dan akankah perusahaan Korea Selatan mempekerjakan teknisi "yang tugasnya selama puluhan tahun ialah berusaha merawat peralatan jadul dari zaman Soviet?"
Itu dilema untuk masa depan. Saat ini, masalahnya ialah warga Korea Utara yang kesepian dan terkatung-katung di Korea Selatan. Mereka seakan berada di tepi jurang kematian, dan terkadang jatuh ke dalamnya.









