#TrenSosial: Percakapan dengan Tuhan dari Banyuwangi

Apalah arti sebuah nama? kata pujangga terkenal asal Inggris, William Shakespeare.
Keterangan gambar, Apalah arti sebuah nama? kata pujangga terkenal asal Inggris, William Shakespeare.
    • Penulis, Christine Franciska l @cfranciska
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Seorang pria dari Banyuwangi mendadak terkenal dan menjadi sorotan media dalam beberapa hari terakhir karena namanya yang tak lazim.

"Halo, bisa bicara dengan Tuhan?" tanya saya mengawali percakapan dengannya, pertanyaan yang terdengar cukup ganjil diucapkan dari ujung telepon.

"Iya, saya," jawabnya.

Tuhan - kerap disapa Pak Han atau Pak Tuhan - adalah seorang tukang kayu di Kecamatan Licin, Banyuwangi, yang hidup bersahaja dengan istri dan dua anaknya.

Para wartawan menulis tentang dirinya akhir pekan lalu, dan segera setelah itu banyak media yang mulai mencari tahu siapa sosok Tuhan sebenarnya.

Berbagai judul berita yang menarik dan menimbulkan makna ganda bermunculan. "Rumah Tuhan ada di Banyuwangi," demikian judul Tribunnews.

Lainnya memberi judul, "Heboh!!! Tuhan Lahir di Banyuwangi 1973 Silam."

Majelis Ulama Indonesia di Jawa Timur kemudian mengeluarkan anjuran agar Tuhan mengganti nama - atau setidaknya menambah nama belakang - karena "sebagai hamba, nama itu melanggar etika", lapor Kompas.com.

Heran

"Boleh saya ngobrol-ngobrol dengan Bapak?" tanya saya melanjutkan percakapan telepon.

"Iya tidak apa-apa," kata Tuhan.

Bagi Tuhan, yang kini berusia 42 tahun, namanya tidaklah berarti apa-apa selain panggilan. Dia bahkan heran mengapa orang-orang sampai heboh karena nama di kartu identitasnya.

"Kalau di rumah (nama) itu biasa aja, di lain kampung semuanya pada kaget. Kok nama aja (bisa heboh) gitu ya. Saya juga sempat bingung."

"Malah (orang-orang kampung) enggak percaya kalau nama saya jadi heboh."

Alasan mengapa dia diberi nama Tuhan masih menjadi misteri karena kedua orang tuanya sudah lama meninggal.

Tuhan mengaku tak pernah bertanya pada orang tuanya dan "tidak pernah bahas masalah nama".

Sejak kecil, namanya juga tidak pernah dipersoalkan, begitu juga ketika mengurus KTP, SIM, atau surat-surat lain di pemerintahan.

Untung, 45, kerabat Tuhan, mendeskripsikan saudaranya itu sebagai pria "yang lugu, pendiam, dan susah mengutarakan pendapat."

"Saya pernah bertanya kenapa nama dia Tuhan, tetapi dia juga enggak tahu. Orang tua dulu mungkin memberi nama ya sekedar memberi nama."

"Tak Lazim"

Nama Tuhan di Banyuwangi memang tak lazim karena umumnya warga menamai anaknya dengan nama-nama Muslim atau nama Jawa, kata Cholik Baya, wartawan yang selama empat tahun meliput di Banyuwangi.

"Ada dua suku besar di sana, pertama dikenal dengan istilah Osing yang berasal dari Madura. Biasanya mereka menamai anak dengan nama-nama Muslim.

"Sementara di Banyuwangi selatan kebanyakan berasal dari Jawa Tengah sehingga nama-nama Jawa populer," kata Cholik yang kini menjadi Direktur Jawapos Radar Jember.

Secara umum, orang tua akan memberi nama terbaik untuk anaknya.

"Rata-rata untuk suku Osing, misalnya, mereka tidak akan membuat nama yang asal-asalan, karena setahu saya ritualnya cukup banyak."

Walau MUI telah meminta Tuhan mengganti nama, tukang kayu ini mengaku masih enggan melakukannya. "Sudah kenal namanya Tuhan, kalau diganti susah lagi," katanya.