Seruan untuk lindungi pekerja medis di daerah konflik

Yaman

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Yaman merupakan salah satu tempat yang terkoyak oleh perang.

Organisasi kesehatan dunia WHO menyerukan agar ada "peningkatan aksi" untuk melindungi pekerja medis di daerah konflik.

Mereka mengatakan tahun ini banyak dokter, perawat dan staf pendukung menjadi korban di zona perang dan dalam perjuangan melawan wabah seperti misalnya Ebola.

Lembaga PBB ini mengatakan kedua pihak yang berperang harus sama-sama melindungi pekerja dan sistem kesehatan.

Undang-undang internasional melarang serangan terhadap petugas dan pusat perawatan kesehatan.

Menurut laporan yang dikumpulkan WHO, serangan tertinggi pada 2014 terjadi di Suriah, diikuti Irak, Pakistan dan Ukraina.

Dr. Natalie Roberts dari Wales Utara yang bekerja dengan Dokter Tanpa Batas (Medecins Sans Frontieres) di Yaman dimana lima orang pekerja kesehatan tewas dan 14 terluka.

"Di sini di Yaman, saya membantu di lima pusat perawatan kesehatan dan tiga di antaranya rusak parah oleh bom, jadi saya sangat khawatir tempat ini jadi sasaran serangan," katanya kepada BBC.

Laporan

Medecins Sans Frontieres

Sumber gambar, Medecins Sans Frontieres

Keterangan gambar, Organisasi Dokter Tanpa Batas mengoperasikan ruang operasi yang darurat seperti ini di Suriah.

Terperangkap dalam pertempuran merupakan risiko pekerjaan tenaga medis di daerah konflik, tapi WHO tetap mengkhawatirkan serangan yang mengarah kepada petugas dan fasilitas medis.

Pada tahun 2014, WHO mencatat adanya laporan 372 serangan terhadap pekerja medis di 32 negara, tapi laporan ini belum selesai diverifikasi.

Ini menyebabkan 603 korban jiwa dan 958 luka-luka.

Direktur Jendral WHO Dr. Margaret Chan mengatakan, "Serangan terhadap petugas medis adalah pelanggaran besar hukum kemanusiaan internasional".

Menurut WHO, 180 pusat perawatan kesehatan di Irak telah ditutup akibat pertempuran, menyebabkan jutaan orang tak punya akses terhadap kesehatan.