Lakon sarat kata dalam pentas tanpa kata

Sumber gambar, ging ginanjar
- Penulis, Ging Ginanjar
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Pertunjukan sudah diawali jauh sebelum penonton memasuki ruangan: seorang lelaki menjinjing kopor lusuh di tengah panggung berdiri membisu sementara di dua sudut ruangan duduk empat orang pada kursi masing-masing dengan mata lurus ke depan.
Lampu menggelap, dan sang lelaki mulai beringsut, melakukan gerakan. Berjalan dengan kopornya dengan raut muka nelangsa.
Dua orang di sudut panggung, lelaki berpakaian seragam pabrik warna biru bersama seorang perempuan berpakaian terusan merah memasuki panggung, melakukan sejumlah manuver, dengan raut muka riang. Dua orang lagi bergabung masuk arena.

Sumber gambar, ging ginanjar
Dan setelah beberapa adegan, juga seorang lain, bertopi, datang dengan lonceng kecil yang sesekali dibunyikan dengan ekspresi yang menunjukan otoritas. Dari raut muka dan perilaku panggungnya, tentu ini orang yang lebih superior dari semua sosok lain di panggung.
Ini adalah pementasan Kocak-kacik, sebuah lakon karya Arifin C. Noer, yang kali ini tampil tanpa kata-kata sama sekali.
Tampil di Salihara, 16-17 April 2015 dalam rangkaian Helateater 2015, pementasan Bengkel Mime Theatre, Yogyakarta ini disutradarai oleh Ari Dwianto.
Kerumitan alur, kerumitan Indonesia
Kocak-kacik menokohkan Darim, manusia yang mendadak hilang, yang memicu pencarian besar-besaran, khususnya oleh Darim sendiri.

Sumber gambar, ging ginanjar

Sumber gambar, ging ginanjar
"Darim, di mana kamu? Ayo pulanglah Darim! Pulanglah!" kata Darim kepada Darim sendiri.
Pencarian itu mengarahkan kita pada kerumitan alur, sekaligus kerumitan masalah Indonesia: kemiskinan, buruknya mutu pendidikan, kacau balaunya sistem, busuknya hukum, kacau balaunya orientasi pembangunan, melecencengnya modernisasi, eksploitatifnya industrialisasi, dan macam-macam lagi, dan macam-macam lagi.
Mencari Darim, mencari Arifin
Lelaki berkopor itu mestilah Darim, tokoh utama Kocak-kacik, dan perempuan --satu-satunya perempuan dalam pertunjukkan ini-- pastilah Eroh, isterinya.
Adegan tadi, bisa jadi adegan Eroh melayani seorang hakim secara seksual sebagai sogokan untuk membebaskan suaminya, Darim, dari penjara --dan hukum yang tak adil, zalim dan sesat.

Sumber gambar, ging ginanjar
Pria bertopi membunyikan lonceng, tentu mengacu pada adegan di sekolah semasa Darim masih.... Sebentar: mengapa kita repot-repot menebak-nebak?
Bengkel Mime Theatre memang menafsirkan Kocak-kacik dalam bentuk pertunjukkan mime, yang mengandalkan gerak dan mimik, tanpa kata, tak sepatah pun.
Maka tidakkah lebih baik kita nikmati saja pertunjukan ini sebagai mime, yang lumayan bisa dinikmati secara lepas?
Oke, tetapi apa perlunya Kocak-kacik dalam pertunjukkan ini kalau begitu?
Berbeda dengan lakon-lakon Putu Wijaya yang merupakan lakon peristiwa, misalnya, lakon-lakon Arifin adalah sandiwara yang sarat dengan kata-kata. Yang kekuatan utamanya justru pada kata-kata, pada plot, dan penokohan --ala Arifin. Jika kata-kata ditiadakan, bagaimana kita menemukan Arifin C Noer dalam suatu pertunjukkan? Masih perlukah Kocak-kacik untuk repertoar ini?

Sumber gambar, ging ginanjar
Apakah pertunjukkan yang disutradarai Ari Dwianto ini akan berbeda jika ia diberi judul Kocak-Kacik, atau Impian Kosong Si Buruk Rupa, atau Bangkitnya Ruh si Buruh Tenun?
Sekali lagi, pertunjukkan ini memang bukanlah suatu master piece, namun cukup menikmatkan. Tetapi tampaknya menjadikan lakon Arifin C Noer jenis Kocak-kacik ini sebagai bahan dasar untuk pertunjukkan mime bukan tergolong langkah yang terlalu tepat.
Kalau toh tetap hendak ber-mime berdasarkan lakon Arifin C Noer --agar cocok dengan tema Helateater 2015 ini-- mungkin ada beberapa karya yang lebih cocok bangunan teatrikalnya. Misalnya Kasir Kita, Mega-mega, bahkan Sumur Tanpa Dasar. Kendati tetap saja kita akan kehilangan dialog, kata-kata, perbenturan dialog, yang khas Arifin C. Noer.

Sumber gambar, ging ginanjar
Persembahan bagi Arifin C. Noer
Kocak-kacik dari Bengkel Mime Theatre, Yogyakarta ini adalah bagian dari Helateater, festival teater tahunan di Komunitas Salihara. Helateater tahun 2015 ini didedikasikan pada Arifin C. Noer (1941-1955), salah satu penulis lakon teater Indonesia terpenting.
Hingga akhir April nanti, sejumlah kelompok tampil membawakan tafsir atas naskah-naskah Arifin C. Noer dengan berbagai bentuk.
Jadwal lengkap Helateater 2015:
<link type="page"><caption> Madekur dan Tarkeni atawa Orkes Madun I</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/04/150413_helateater_madekur_tarkeni" platform="highweb"/></link> Teater Boneka Cing Cing Mong (Solo) Sutradara/Dalang: Sri Waluyo Kamis-Jumat, 09-10 April 2015
<link type="page"><caption> Mega-Mega Prodi Teater IKJ, Jakarta</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2015/04/150419_helateater_kocak-kacik" platform="highweb"/></link> Sutradara: Bejo Sulaktono Sabtu-Minggu, 11-12 April 2015
Kocak-kacik Bengkel Mime Theatre, Yogyakarta Sutradara: Ari Dwianto Kamis-Jumat, 16-17 April 2015
Lokakarya mime untuk umum, Rabu, 15 April 2015, 15:00 WIB.
Diskusi: Teks dan Lakon Arifin C. Noer Pembicara: Sapardi Djoko Damono dan Yudi Ahmad Tajudin Sabtu, 18 April 2015
Sumur Tanpa Dasar Teater Gardanalla, Yogyakarta Sutradara: Joned Suryatmoko Sabtu-Minggu, 18-19 April 2015
Kapai-Kapai atawa Gayuh Kalanari Theatre Movement, Yogyakarta Sutradara: Ibed Suryagana Yuga Kamis-Jumat, 23-24 April 2015
Dramatic Reading Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun I Kelas Akting Salihara 2015 Sutradara: Iswadi Pratama Sabtu, 25 April 2015










