Mimpi-mimpi mega kaum bandit dan pelacur

Mega-mega dinobatkan sebagai lakon terbaik tahun 1967

Sumber gambar, ging ginanjar

Keterangan gambar, Mega-mega dinobatkan sebagai lakon terbaik tahun 1967
    • Penulis, Ging Ginanjar
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Pelacur, gembel, gelandangan, pencopet, maling, bandit, pengangguran - tokoh-tokoh dalam sebagian besar lakon teater Arifin C. Noer, muncul lagi di Helateater 2015 Salihara, lewat Mega-Mega yang digarap oleh Prodi Teater IKJ Jakarta.

Batang beringin itu bagaikan rumah bagi Mae (Megarita), perempuan tua sebatang kara, dan sejumlah orang lain: Retno (Rini Samsi), seorang pelacur jalanan, Panud (Aryo Nagoro), seorang pencopet muda, dan sejumlah pengangguran Koyal (Banon Gautama), Hamung (Hestu Wredha) dan Tukijan (Ayip Wiyatna).

Sebuah sudut alun-alun, dengan bangku-bangku taman dan kardus kaum gembel. Rumah besar bagi mereka.

Pertunjukkan Mega-mega yang ditangani sutradara Bejo Sulaktono ini dibuka dengan adegan yang menyegarkan. Retno, dengan baju merah menyala dan tongkrongan menantang, berdiri di bawah lampu jalan, mengepulkan asap rokok, mematikan, menginjak puntungnya, meludah. Menyalakan lagi rokok. Dan menyanyi lagu dangdut.

Sumber gambar, ging ginanjar

Pembuka yang sangat mengundang. Kita segera mahfum, dunia apa yang sedang ada di hadapan kita. Dunia kaum sampah masyarakat. Kaum penjahat kecil, pendosa, pemimpi, juga orang setengah waras, yang sehari-hari kita lihat di sekeliling kita -kecuali jika Anda hidup dari mobil ke mall ke rumah, ke pencakar langit dan sejenisnya- namun kita tak sudi mengenalinya.

Dunia mimpi

Orang-orang yang lebih miskin dari miskin, yang menjual tubuh, menjual moral, menjual apa saja untuk bertahan hidup. Orang yang tak punya pendidikan, juga tak punya kesopanan, bahkan pada sesamanya, tak punya harapan.

Harapan? Tunggu. Mungkin yang satu ini mereka punya.

Sumber gambar, ging ginanjar

Tukijan misalnya, ia punya harapan akan hidup yang lebih baik dengan berusaha merantau ke tempat lain. Pacarnya, Retno, si pelacur murahan itu, ragu. Bukan saja akan masa depan di tempat lain yang bisa tak lebih baik. Melainkan juga karena berat hati meninggalkan Mae, perempuan tua ibu dari semua orang itu, yang masih selalu terluka setiap kali menyadari, atau disadarkan bahwa ia tak punya anak karena mandul.

Panud punya harapan juga, untuk pensiun sebagai pencopet, dan mencoba peruntungan baru sebagai maling.

Lalu ada Koyal yang melihat harapan cerah untuk mengubah hidupnya, dan seluruh orang sekelilingnya lewat lotere, yang hadiah utamanya akan cukup untuk membeli sebuah kerajaan kecil.

Harap dicatat, ini naskah berusia lebih dari 40 tahun, ketika lotere masih legal -sebagaimana sekarang di sebagian besar negeri di dunia- dan menjadi tumpuan harapan bagi kebanyakan orang yang mengalami kebuntuan dalam hidup sehari-hari.

Sumber gambar, ging ginanjar

Begitulah, lakon berkisar pada dunia impian yang diciptakan Koyal, yang akhirnya diamini dan dijalankan oleh para gembel sejawatnya, sekadar untuk menikmati dunia impian yang agak berbeda untuk hari itu. Yang ketika tiba saatnya kembali pada kenyataan, rasanya sangat menyakitkan, khususnya bagi Koyal.

Sederhana

Mega-mega dinobatkan sebagai lakon terbaik tahun 1967 oleh Badan Pembina Teater Nasional Indonesia. Apa itu BPTNI, bagaimana bentuk pembinaan teater -nasional pula- itu urusan lain.

Namun Mega-mega tergolong salah satu karya Arifin C.Noer yang paling sederhana. Strukturnya cukup linear, plotnya tak bercabang-cabang, tokoh-tokohnya, katakanlah, dari dunia yang sama. Berbeda dengan sebagian besar lakon Arifin C. Noer yang lain, yang menyilangkan dunia yang berbeda-beda, menghadirkan macam-macam tokoh berbeda alam, riuh dengan berbagai efek dan peristiwa yang seakan dimasukkan begitu saja.

Sumber gambar, ging ginanjar

Sutradara Bejo cukup berhasil menjaga Mega-mega dalam kesederhanaannya. Ia tak tergoda untuk mempermeriah pertunjukan dengan adegan-adegan dan peristiwa yang tidak perlu. Pengadegan berlangsung serba ringkas dan seperlunya. Para pemain pun pada umumnya cukup berhasil memelihara irama dan emosi Mega-Mega.

Yang dibayangkan bisa dimunculkan secara lain adalah sosok Tukijan (Ayip Wiyatna) dan Panut (Aryo Nagoro).

Reaksi, tindakan dan ekspresi Panut dan Tukijan agak terlalu gampang ditebak. Khususnya sosok Tukijan yang ditampilkan ganteng dan rapi sendiri, dengan ekspresi muka dan refleks tubuh yang tipikal sebagai pemuda yang waras sendiri, membuatnya menjadi sosok paling tak meyakinkan.

Yang paling pokok, pertunjukkan akan lebih berhasil jika sutradara Bejo Sulaktono memberi perhatian pada sejumlah kalimat kunci lakon ini, yang khas Arifin C Noer.

Sumber gambar, ging ginanjar

Misalnya, salah satu kalimat kunci, "kita tak pernah mendapatkan tetapi selalu merasa kehilangan," tidak mencapai kekuatan yang seharusnya, karena timing-nya, diksinya, iramanya, bangunan suasananya, tidak tersusun dengan baik.

Persembahan bagi Arifin C. Noer

Helateater merupakan festival teater tahunan di Komunitas Salihara, yang untuk tahun 2015 ini didedikasikan pada salah satu penulis lakon teater Indonesia terpenting, Arifin C. Noer (1941-1955).

Hingga akhir April nanti, sejumlah kelompok tampil membawakan tafsir atas naskah-naskah Arifin C. Noer dengan berbagai bentuk.

Berikut jadwal lengkapnya:

Madekur dan Tarkeni atawa Orkes Madun I Teater Boneka Cing Cing Mong (Solo) Sutradara/Dalang: Sri Waluyo Kamis-Jumat, 09-10 April 2015

Mega-Mega Prodi Teater IKJ, Jakarta Sutradara: Bejo Sulaktono Sabtu-Minggu, 11-12 April 2015

Kocak-kacik Bengkel Mime Theatre, Yogyakarta Sutradara: Ari Dwianto Kamis-Jumat, 16-17 April 2015

Lokakarya mime untuk umum, Rabu, 15 April 2015, 15:00 WIB.

Sumur Tanpa Dasar Teater Gardanalla (Yogyakarta) Sutradara: Joned Suryatmoko Sabtu-Minggu, 18-19 April 2015

Kapai-kapai atawa Gayuh

Kalanari Theatre Movement (Yogyakarta)

Sutradara: Ibed Surgana Yuga

Kamis-Jumat, 23-24 April 2015

Dramatic Reading Madekur dan Tarkeni Atawa Orkes Madun I Kelas Akting Salihara 2015 Sutradara: Iswadi Pratama Sabtu, 25 April 2015

Diskusi

Teks dan Lakon Arifin C. Noer Pembicara: Sapardi Djoko Damono dan Yudi Ahmad Tajudin Sabtu, 18 April 2015