Akibat BBM mahal, Qantas rugi besar

qantas

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Qantas optimis bisa kembali untung pada 2015

Maskapai penerbangan nasional Australia, Qantas, melansir angka kerugian sebesar A$2,8 miliar (Rp30 triliun) pada akhir bulan Juni, yang merupakan kerugian terbesar perusahaan itu.

Catatan itu melampaui prediksi para analis, yaitu A$750 juta.

Qantas mengatakan lemahnya permintaan domestik, kurangnya belanja konsumen, dan meningkatnya harga bahan bakar sebagai penyebab kerugian itu.

Meski demikian, Qantas mengatakan <link type="page"><caption> posisi keuangan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/11/131128_bisnis_qantas_ownership.shtml" platform="highweb"/></link> mereka kuat dan semakin baik.

Awal tahun ini, maskapai tersebut berusaha <link type="page"><caption> mengurangi biaya operasional</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/12/131205_bisnis_qantas.shtml" platform="highweb"/></link> meski pun sulit.

"Tidak ada keraguan bahwa angka-angka ini mengejutkan," kata presiden direktur Alan Joyce. "Tapi catatan ini mewakili tahun yang sudah berlalu."

Ia menambahkan bahwa Qantas akan kembali meraih keuntungan maksimal pada 2015.

Situasi yang dihadapi maskapai berlogo kanguru itu sesungguhnya bukan hal yang mengagetkan.

Selama berbulan-bulan Qantas mengaku menghadapi persaingan ketat baik di pasar internasional maupun domestik.

Pada bulan Februari, setelah mengalami kerugian yang 'monumental', perusahaan tersebut mengatakan akan <link type="page"><caption> memangkas 5.000 pekerjaan. </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/02/140227_bisnis_qantas.shtml" platform="highweb"/></link>

Pengurangan pekerjaan itu diyakini dapat membantu penghematan biaya hingga A$2 miliar dalam periode tiga tahun.