Mengapa orang Prancis beralih ke makanan cepat saji?

- Penulis, Christian Fraser
- Peranan, BBC News, Paris
Dari escargot (bekicot) hingga coq au vin (ayam yang dimasak dengan anggur), tidak ada negara yang memiliki kecintaan terhadap makanan lebih besar dari Prancis.
Tapi tahun lalu 54% dari total penghasilan restoran di negara ini berasal dari restoran makanan cepat saji dan toko roti lapis yang konon ditemukan oleh bangsawan Inggris <link type="page"><caption> Earl of Sandwich.</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/05/120512_sandwich_peringatan.shtml" platform="highweb"/></link>
Ini adalah pertama kalinya makanan "pengganjal" merebut pasar hidangan tradisional Prancis.
Balthazar de la Bourde membuka toko roti lapisnya, Balt, empat tahun silam. Setiap tahun selama krisis zona Euro, pemasukannya justru meningkat.
"Saya rasa kami adalah bisnis yang cocok untuk krisis," kata dia.
"Kami bukan toko roti lapis biasa," tambahnya. "Kami memasak beragam jenis penganan di tempat, hari ini daging babi dari Pays Basque dan semua kejunya dipilih dengan hati-hati."
"Tapi ini adalah makanan berkualitas baik dengan harga murah. Awalnya mayoritas pelanggan kami adalah asisten, pegawai magang, mereka yang bergaji rendah. Sekarang pelanggan kami adalah manajer menengah, orang 'kelas atas' yang datang ke sini jika mereka tidak mengadakan pesta di rumah."

Makan siang di meja
Dahulu orang Prancis akan makan siang di rumah.
Charles Mendy mengatakan ia bisa istirahat makan siang lebih lama tapi hal itu berarti ia juga harus tinggal lebih lama di kantor.

Tetapi dengan semakin sulitnya ekonomi, sekarang orang Prancis merasa lebih mudah dan lebih murah jika mereka makan di meja kerja.
Charles Mendy adalah seorang pegawai kantoran Prancis pada umumnya.
Biasanya ia butuh 20 menit untuk makan siang dan kebanyakan dilakukan di kantor, meski itu bukan karena ia kekurangan uang.
"Kami punya dapur di kantor," kata Charles. "Dan kadang-kadang saya makan siang di sana, tapi lebih sering di depan komputer.
"Saya biasanya mengambil waktu satu jam penuh untuk makan siang. Kini...pekerjaan terlalu banyak."
Jadi, apakah tekanan itu berasal dari atasan?
"Tidak, saya bisa mengambil waktu makan siang satu jam jika saya menginginkannya tapi saya harus tinggal lebih lama di kantor," kata dia.
"Jam kerja kami telah berubah. Perusahaan saya adalah perusahaan Amerika. Kami bekerja dan berinteraksi dengan kolega kami di New york yang memulai hari mereka ketika kami sedang makan siang, saya rasa kebiasaan yang berubah itu mencerminkan karakter bisnis kami."









