Bekas rumah budak dipindah ke museum

Sebuah rumah yang dulu pernah ditempati budak kulit hitam peninggalan tahun 1850-an di Pulau Edisto, South Carolina, sedang dibongkar dan dipindahkan ke Museum sejarah Afrika-Amerika di Washington DC, AS.
Rumah berukuran kecil, atau lazim disebut pondok (cabin) ini merupakan satu dari dua rumah bersejarah yang tersisa di kawasan tersebut, demikian laporan situs Archaeology yang diterbitkan Archaeological Institute of America.
Sampai tahun 1980-an, rumah yang terbuat dari kayu ini masih ditempati oleh warga setempat, sebelum akhirnya pemerintah AS memasukkannya dalam daftar tempat bersejarah yang harus dilindungi.
“Sejarah di dataran kepulauan ini sangat kaya. Banyak sejarah penting tersimpan di sini," kata Nancy Bercaw, kurator Museum sejarah Afrika-Amerika, yang akan dibuka pada 2015 nanti.
Kondisi rumah yang dibangun sebelum Perang Saudara ini dilaporkan mulai rusak dimasak zaman. Kayunya membusuk, dipenuhi rayap, sehingga membuatnya nyaris reyot.
Sekarang pondok kayu itu sedang dibongkar dan akan dibangun kembali di Museum sejarah Afrika-Amerika yang baru di Washington DC, AS.
Saksi bisu
Ketika tim kurator museum tiba di pulau yang berawa-rawa itu, mereka menemukan apa yang dicari selama ini, yaitu sebuah pondok budak.
Pondok yang terbuat dari kayu pohon cemara itu diperkirakan didirikan sebelum Perang Saudara, dan merupakan saksi bisu praktek perbudakan di Amerika Serikat di wilayah perkebunan.
Di Pulau Edisto, ada dua rumah budak kulit hitam peninggalan 1850-an yang tersisa, peninggalan sebuah desa yang dulu ditempati para budak.
Para budak itu, yang dipekerjakan sebagai buruh perkebunan pohon cemara, tinggal di rumah dengan dua kamar, tanpa listrik, tanpa pemanas ruangan.
Dalam perkembangannya, keturunan para budak itu tinggal di tempat itu sampai tahun 1980-an.
Sekarang, pihak museum akan menyelamatkan rumah bersejarah itu dengan membongkarnya, kemudian memindahkan ke ibukota AS, Washington DC, untuk dilestarikan di Museum sejarah Afrika-Amerika -- yang akan dibuka dua tahun lagi.
Lonnie Bunch, direktur museum, menyebut rumah budak ini "sebuah mahkota permata yang bakal menjadi koleksi kami."
Lebih lanjut dia mengatakan: "Masalah perbudakan memang tidak lagi menjadi wacana publik. Tapi, pondok kayu ini memberikan kesempatan kepada kita untuk melihat kembali realitas perbudakan yang pernah ada".









