Monaco rayakan pernikahan kerajaaan

pangeran albert II, charlene wittstock

Sumber gambar, AFP

Kepala Kerajaan Monaco Pangeran Albert II menikahi mantan atlet renang Afrika Selatan Charlene Wittstock dalam upacara keagamaan kerajaan menyusul pernikahan sipil hari Jumat (1/7) lalu.

Sekitar 3.500 tamu, termasuk raja-raja dan ratu serta berbagai orang terkenal, menghadiri pesta megah itu di Place du Palais.

Setelah upacara pernikahan para tamu dijamu makan malam yang disiapkan oleh juru masak terkenal.

Pangeran Albert II, 53 tahun, dan istrinya Putri Charlene, 33 tahun, pada hari Jumat menikah secara sipil.

Sebelumnya minggu ini istana kerajaan Monaco menyangkal laporan di media Prancis bahwa Charlene Wittstock hampir berubah pikiran mengenai pernikahan itu.

Pada hari Sabtu Pangeran Albert II dan istrinya yang sekarang bergelar Yang Mulia Putri Charlene mengatakan "Oui" (Ya) pada upacara pernikahan yang dipimpin Uskup Agung Monaco, Bernard Barsi.

Setelah upacara pernikahan, pasangan itu berjalan ke sebuah kapel yang dibuat untuk orang suci pelindung Monaco, Santo Devote, dan Putri Charlene meletakkan karangan bunga sesuai tradisi.

Air mata sang putri

Putri baru ini kemudian menangis mendengar nyanyian paduan suara anak muda bernyanyi.

Para tamu kehormatan di pesta pernikahan ini antara lain raja Spanyol, Swedia, Lesotho dan Belgia. Presiden Prancis, Islandia, Irlandia, Libanon, Malta, Jerman dan Hongaria.

Kerajaan Inggris diwakili oleh Pangeran Edward, putra bungsu Ratu Elizabeth II.

Putri Charlene pernah mewakili Afrika Selatan dalam kompetisi cabang renang di Olimpiade Sydney tahun 2000.

Pangeran Albert II naik takhta setelah ayahnya Prince Rainier III meninggal dunia tahun 2005.

Upacara sipil hari Jumat lalu dibayangi laporan di media massa Prancis bahwa Putri Charlene hampir kembali ke Afrika Selatan setelah diberitahu mengenai sejumlah rahasia dalam kehidupan pribadi Pangeran Albert.

Tetapi dia akhirnya mengurungkan niatnya setelah para penasihat kerajaan membujuknya, menurut laporan.

Keluarga kerajaan menepis laporan itu dan mengatakan bahwa laporan itu hanyalah "rumor orang-orang yang iri".