Beda kota dan desa Cina

Cina

Sumber gambar, none

Keterangan gambar, Penduduk desa Wa Yao mendapatkan bantuan sejenis dengan Chengdu

Desa Wa Yao, di dekat kota Chengdu, terkenal akan buah arbei yang ditanam dalam barisan yang rapi diantara satu rumah dengan rumah lain.

Penduduk kota datang untuk merasakan memetik arbei sendiri. Sebagian dari yang segar yang mahal harganya dijual hingga jauh seperti ke Singapura.

Tetapi Wa Yao juga dikenal akan hal lain: pemerintah kota Chengdu menggunakan desa tersebut untuk melakukan sejumlah percobaan.

Sistim pendaftaran rumah tangga Cina, hukou, sejak lama memisahkan penduduk perkotaan dengan pedesaan. Warga kota biasanya mendapatkan layanan umum yang lebih baik.

Tetapi Chengdu berusaha menghilangkan perbedaan tersebut dengan memberikan hak dan kemudahan yang diterima warga kota kepada penduduk desa Wa Yao.

Ini adalah satu dari sejumlah daerah Cina yang melakukan percobaan reformasi hukou. Tetapi tidak semua pemerintah desa menerima.

Sejumlah kota, seperti Beijing, menerapkan kebijakan sistim hukou dan berbagai prasangka yang terkait di dalamnya.

Janji reformasi

Cina sejak lama berusaha mengatur pergerakan warganya.

Dinasti kerajaan membatasi perjalanan dan peraturan ini dilanjutkan penguasa komunis saat mulai berkuasa di tahun 1949.

Tetapi ketidakadilan sistim hukou semakin terlihat setelah Cina menerapkan reformasi ekonomi yang mendorong petani untuk mengunjungi perkotaan guna mendapatkan pekerjaan dengan pembayaran yang lebih tinggi.

Jutaan orang pindah dan tenaga mereka diterima dengan tangan terbuka. Tetapi mereka tidak pernah merasakan hak dan kemudahan yang dialami penduduk kota.

Pendidikan Cina

Sumber gambar, afp

Keterangan gambar, Pembatasan pendidikan terhadap anak-anak yang tidak memiliki hukou yang tepat

Pada sidang parlemen tahun lalu Wen Jiabao berjanji pemerintah akan menerapkan reformasi.

Tetapi pada masa jabatan parlemen tahun ini, hanya sedikit yang sudah diterapkan, kata Profesor Hu Xingdou, ahli sistim hukou di Institut Teknologi Beijing.

Dia mengatakan tidak ada kebijakan nasional dan pemerintah pusat bagi penyediaan dana untuk membiayai proyek setempat.

Setiap kota harus memutuskan cara melakukan reformasinya masing-masing, jika mereka memang menginginkannya.

Perbaikan kemudahan

Para pejabat Chengdu akhir tahun lalu mengumumkan rencana untuk menyatukan skema pencatatan rumah tangga perkotaan dan pedesaan pada tahun 2012.

Petani yang pindah ke kota akan diberikan akses yang sama seperti penduduk yang sudah tinggal disana.

Bantuan kesejahteraan juga akan diperbaiki di daerah pedesaan untuk mengurangi perbedaan standar hidup desa kota.

Wa Yao, desa yang tidak jauh dari Chengdu, akan menjadi tempat percobaan. Pejabat Chengdu memberikan hak yang sama kepada penduduk desa dan kota.

Penduduk desa Mu Jiang sepertinya dapat mewakili warga baru yang sedang diciptakan di Chengdu. Dia tidak dapat dikatakan sebagai penduduk desa ataupun warga perkotaan.

Dia lahir di Wa Yao dan memiliki usaha disana, menjalankan pusat pelatihan bagi para manajer kantor.

Tetapi dia juga memiliki bisnis penjualan pohon dan tanaman di Chengdu.

"Masih terdapat kesenjangan daerah kota dan desa, tetapi perbedaan tersebut semakin mengecil," kata Mu.

"Ini terjadi pada bidang perhubungan, komunikasi, kesehatan, pendidikan dan hal-hal lain. Di masa lalu penduduk desa iri terhadap warga perkotaan. Tetapi sekarang keadaan sejumlah desa bahkan lebih baik dari pada perkotaan."

Kemudahan khusus

Cina

Sumber gambar, none

Keterangan gambar, Zhang Zhenyun sudah tinggal di Beijing selama 18 tahun

Tetapi sejumlah kota, seperti Beijing, menerapkan kebijakan yang sepertinya mempersulit buruh migran.

Ibukota Cina khawatir penduduknya sudah terlalu banyak dan tidak ingin mendorong lebih banyak orang tinggal disana.

Pejabat kota baru-baru ini mengumumkan larangan penyewaan lantai bawah tanah, atap dan tempat perlindungan serangan udara - akomodasi murah yang biasanya ditinggali pekerja migran.

Mereka juga membatasi penjualan rumah dan kendaraan. Ini dipandang sebagai pengetatan peraturan bagi penduduk yang tidak memiliki hukou kota.

"Beijing tidak dapat terus menjadi kerajaan dengan kemudahan khusus, daerah yang hanya menerima orang-orang terbaik," kata Prof. Hu.

Keengganan kota tersebut untuk mengizinkan penduduk luar menjadi penduduk tetap mempengaruhi pekerja migran disana.

Hu memperkirakan terdapat enam sampai 12 juta orang yang hidup dan bekerja di Beijing tanpa hukou.

Salah satunya adalah Zhang Zhenyun, yang telah tinggal di ibukota selama 18 tahun. Dia memiliki perusahaan kecil pembuatan kostum.

Dia sekarang memandang Beijing sebagai tempat tinggalnya. Dia membayar pajak ibukota. Tetapi dia tetap tidak dapat mendapatkan hukou. Dia tercatat sebagai penduduk kota asalnya Zhengzhou di propinsi Henan.

Istrinya Cui Xin tinggal dengannya dan tidak tercatat di Beijing yang berarti anak perempuannya yang berumur 17 tahun harus bersekolah di Henan.

"Tentu saja ini berpengaruh. Anak perempuan saya bersekolah sendiri di propinsi asal kami, sementara kami di Beijing. Kami tidak dapat memelihara atau membantunya jika ada masalah sekolah. Ini sangat menyedihkan," kata Zhang yang berumur 39 tahun.

Istrinya sepertinya hanya berserah diri, sama seperti orang-orang yang mengalami hal serupa. "Tidak ada gunanya marah - keadaannya memang seperti ini," katanya.