Polisi usut misteri sayur dan buah beracun

Polisi di Australia tengah menyelidiki peracunan terhadap tujuh juta benih sayur dan buah termasuk tomat, terong dan melon.
Detektif menduga herbisida, obat anti serangga untuk tanaman, disuntikkan ke dalam sistem irigasi pada sebuah kebun sayuran di Queensland utara.
Menteri Pertanian Australia melukiskan peracunan ini - merupakan yang keempat dalam delapan tahun terakhir - sebagai "sabotase".
Petani dan pengamat mengatakan harga sayur-mayur akan naik pesat sebagai akibatnya.
Angka kerugian diperkirakan mencapai US$20,3 juta, kata Denise Kreymborg dari asosiasi penanam sayuran lokal.
Sakit hati atau vandalisme?
Polisi menyelidiki kemungkinan keterkaitan kasus ini dengan kasus serupa di lokasi lain di Australia, dimana Queesnland adalah produsen utama sayur-mayur selama musim dingin.
"Mungkin ada yang sakit hati, mungkin juga kompetisi... bisa juga cuma aksi berandalan biasa," kata Dave Miles, pejabat inspektur polisi di Townsville, dekat Cairns.
"Menurut saya bukan berandalan lokal," kata Kreymborg, seperti ditulis Associated Press.
"Jelas pelaku tahu harus bagaimana, karena mereka harus melakukannya secara teknis. Tapi kami tidak mau mengacaukan penyelidikan dengan menuding orang."
Pekerja di kebun sayur Supa Seedlings, yang memasok bibit untuk 30 penanam wilayah itu, melihat benih tiba-tiba layu sejak 20 Juni.
Bagian yang kena racun - sekitar empat juta batang- adalah benih tomat. Sebagian dari benih itu sudah terlanjur diserahkan pada petani.
Sekitar 350 hektar lahan produksi, dengan kapasitas tanam hingga 200 ton sayur segar, terkena dampaknya.
Sayuran dari wilayah ini biasa dipasarkan ke seluruh Australia dan diekspor ke Selandia Baru serta negara pulau Vanuatu.
Harga sayur-mayur di tiga negara itu diperkirakan meroket beberapa bulan mendatang hingga produk sayuran dari pertanian wilayah lain mampu menutup kekurangan komoditas di pasar.









