SBY tidak perlu marah disebut kerbau

Presiden Yudhoyono
Keterangan gambar, Presiden Yudhoyono mengatakan kritik yang tepat adalah obat mujarab
Waktu membaca: 1 menit

Dalam rapat pimpinan Polri hari Senin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan kritik yang sesuai dosis ibarat obat mujarab.

Sementara pekan lalu di Istana Cipanas presiden meminta semua pihak merenungkan apakah penggunaan kerbau yang dibawa dalam demonstrasi untuk menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang " besar, malas dan bodoh" sesuai dengan demokrasi dan peradaban Indonesia.

Bramantyo Prijosusilo, seorang kolumnis dan petani, berpendapat SBY tidak perlu tersinggung dengan penggunaan kerbau untuk mengkritik dirinya.

Bramantyo berpendapat, seandainya Presiden SBY memahami budaya-budaya di Nusantara dia akan memanfaatkan kritik itu untuk keuntungan dia.

"Kerbau dalam budaya kita sakral dan dihormati," kata Bramantyo.

Bramantyo mengambil contoh bentuk atap-atap rumah tradisional dari ujung pulau Sumatera sampai Nusa Tenggara yang melambangkan kepala kerbau.

Dia juga menyebut contoh pertunjukan rampogan di kerajaan - kerajaan Jawa pada abad ke 19 dimana seekor kerbau yang diadu dengan enam ekor harimau kerapkali menang.

Sedangkan dalam sejarah Jawa menurut Bramantyo, kerbau melambangkan kebudayaan Jawa sementara harimau merupakan perlambang penjajah Belanda.

"Kerbau itu penyabar tetapi sekali marah dia sangat sulit untuk dikalahkan. Berbeda dengan harimau yang sangat mudah mengamuk tetapi biasanya kalah," kata Bramantyo.

Kemarahan Presiden Yudhoyono menurut Bramantyo seharusnya ditujukan kepada penggunaan cat semprot pada tubuh kerbau yang merupakan perbuatan kejam dan aksi membawa kerbau ke jalanan yang berbahaya.

Di Sumatera, pengamat budaya Minang Wisran Hadi juga mengatakan kerbau berperan penting dalam kebudayaan Minang.

"Ketika orang sedang mencari menantu, menantu yang dilamar itu dinamakan kerbau," kata Wisran.

Dia juga menyebut peran kunci kerbau dalam penobatan pimpinan suku atau penghulu. Kerbau disembelih dalam pesta pemilihan penghulu dan kepalanya dipasang sebagai simbol.