Perubahan iklim: Enam anak dan remaja gugat 32 negara - 'Kebakaran hutan membuat saya sangat cemas tentang masa depan'

Martim, Mariana dan Claudia Duarte Agostinho

Sumber gambar, Claudia Duarte Agostinho

Keterangan gambar, Claudia (kanan) berkata dia menderita kecemasan yang disebabkan oleh masalah lingkungan, sementara alergi Martim (kiri) kian parah, dan Mariana (tengah) didiagnosis menderita asma.
    • Penulis, Selin Girit
    • Peranan, BBC World Service

"Yang saya rasakan adalah takut," kata Claudia Duarte Agostinho, ketika dia terkenang gelombang panas ekstrem dan kebakaran yang melanda Portugal pada 2017, yang menewaskan lebih dari 100 orang.

"Kebakaran hutan membuat saya sangat cemas tentang masa depan seperti apa yang akan saya jalani."

Claudia, yang berusia 24 tahun, bersama adik laki-lakinya, 20 tahun, dan adik perempuannya Mariana, 11 tahun, adalah bagian dari enam generasi muda di Portugal yang mengajukan gugatan terhadap pemerintah di 32 negara, termasuk seluruh anggota Uni Eropa, Inggris, Norwegia, Rusia, Swiss, dan Turki.

Mereka menuding negara-negara tersebut tidak mengambil tindakan yang cukup terhadap perubahan iklim dan gagal mengurangi emisi gas rumah kaca untuk mencapai target Perjanjian Paris yang membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius.

Kasus ini merupakan kasus pertama yang diajukan ke Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR) di Strasbourg, Prancis.

Jika gugatan mereka berhasil, itu akan memiliki konsekuensi yang mengikat secara hukum bagi pemerintah yang terlibat. Sidang pertama kasus ini akan diadakan pada Rabu (27/09).

Berusia antara 11 hingga 24 tahun, enam penggugat itu berargumen bahwa kebakaran hutan yang terjadi di Portugal tiap tahun sejak 2017 adalah akibat langsung dari pemanasan global.

Mereka juga mengeklaim hak dasar mereka - termasuk hak untuk hidup, privasi, kelangsungan hidup keluarganya dan hak untuk bebas dari diskriminasi - dilanggar karena keengganan pemerintah untuk melawan perubahan iklim.

Mereka mengatakan bahwa mereka telah merasakan dampak yang signifikan, terutama karena suhu ekstrem di Portugal yang memaksa mereka menghabiskan waktu di dalam rumah dan membatasi kemampuan mereka untuk tidur, berkonsentrasi, atau berolahraga.

Beberapa juga menderita kecemasan terkait lingkungan, alergi dan gangguan pernafasan termasuk asma.

Akan tetapi, tak satu pun para penggugat muda itu yang mencari kompensasi finansial.

Mariana Duarte Agostinho

Sumber gambar, Global Legal Action Network

Keterangan gambar, Mariana masih kerap merasa ketakutan tiap kali mendengar suara helikopter terbang, yang mengingatkannya pada kebakaran hutan di Portugal pada 2017.

"Saya mau dunia yang hijau tanpa polusi. Saya mau sehat," kata Mariana, bocah perempuan berusia 11 tahun.

"Saya terlibat dalam kasus ini karena saya sangat khawatir dengan masa depan saya. Saya takut akan seperti apa tempat tinggal kami nantinya."

Claudia mengatakan Mariana masih merasa takut ketika dia mendengar helikopter terbang di atasnya, yang mengingatkannya pada petugas pemadam kebakaran pada tahun 2017, ketika lebih dari 202km persegi hutan di Portugal hangus terbakar, dan abu dari kebakaran hutan berjatuhan di atas rumah mereka bermil-mil jauhnya.

"Saya pikir sungguh luar biasa bagi Mariana untuk terlibat dalam kasus ini, karena memiliki hati nurani di usianya," kata Claudia.

"Tetapi ini juga sangat mengkhawatirkan: Mengapa dia perlu memikirkan hal-hal ini? Dia seharusnya bermain dengan teman-temannya dan menari mengikuti video TikTok."

Baca juga:

Pengacara yang mewakili enam anak dan remaja itu diperkirakan akan berargumentasi di pengadilan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah yang diterapkan saat ini akan membawa dunia menuju pemanasan global sebesar 3C pada akhir abad ini.

"Ini adalah bencana pemanasan," kata Gearóid Ó Cuinn, direktur Global Legal Action Network (GLAN) yang mendukung para penggugat.

"Tanpa tindakan segera dari pemerintah, para penggugat muda yang terlibat dalam kasus ini akan menghadapi cuaca panas ekstrem yang tidak tertahankan yang akan membahayakan kesehatan dan kesejahteraan mereka."

"Kami tahu bahwa pemerintah mempunyai wewenang untuk berbuat lebih banyak untuk menghentikan hal ini, namun mereka memilih untuk tidak bertindak," katanya.

Wildfires in Leireia

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Portugal mengalami rekor suhu panas tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan kebakaran hutan setiap tahun sejak 2017

Sebuah studi yang dilakukan pada 2021 menemukan bahwa kecemasan terkait iklim dan ketidakpuasan akan respons pemerintah dalam menangani perubahan iklim meluas di anak-anak dan remaja di seluruh dunia, yang berdampak pada aktivitas mereka sehari-hari.

Berdasarkan survei yang dilakukan terhadap 10.000 anak dan remaja berusia 16-25 tahun di 10 negara di seluruh dunia, studi tersebut menunjukkan bahwa kegagalan pemerintah dalam merespons krisis iklim dikaitkan dengan meningkatnya tekanan.

Dalam tanggapannya baik secara terpisah maupun bersama terhadap kasus ini, pemerintah berargumentasi bahwa para penggugat belum cukup yakin bahwa mereka menderita akibat langsung dari perubahan iklim atau kebakaran hutan di Portugal.

Sejumlah pemerintah mengeklaim tidak ada bukti yang menunjukkan perubahan iklim menimbulkan risiko langsung terhadap kehidupan dan kesehatan manusia, dan juga berpendapat bahwa kebijakan iklim berada di luar cakupan yurisdiksi Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa.

"Enam anak dan remaja dari Portugal, yang merupakan orang biasa yang prihatin dengan masa depan mereka, akan menghadapi 32 tim hukum, ratusan pengacara yang mewakili pemerintah yang kelambanan mereka telah merugikan anak-anak ini," kata Gearóid Ó Cuinn.

"Jadi ini adalah kasus David vs Goliath yang sebenarnya yang mengupayakan perubahan struktural untuk menempatkan kita pada jalur yang lebih baik dalam hal masa depan kita."

Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Putusan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa mengikat secara hukum bagi negara-negara anggota

Komisaris Dewan Hak Asasi Manusia Eropa, Dunja Mijatovic, yang terlibat dalam kasus ini sebagai pihak ketiga, mengatakan kasus ini berpotensi menentukan bagaimana negara mengatasi masalah iklim dan hak asasi manusia.

"Ini sebenarnya merupakan sebuah peringatan bagi negara-negara anggota, bagi organisasi-organisasi internasional, bagi kita semua yang mempunyai kesempatan khusus untuk menunjukkan bahwa kita peduli, dan ini bukan sekedar kata-kata di atas kertas. Ini bukan hanya berkata resolusi ini atau itu. Ini tentang mengubah kebijakan kami," katanya kepada BBC.

Keputusan ECHR secara hukum akan mengikat 32 negara sekaligus untuk meningkatkan aksi iklim mereka dengan mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengurangi bahan bakar fosil secara bertahap.

Hal ini juga akan mempengaruhi pengadilan dalam negeri yang sedang mencari panduan dari ECHR mengenai kasus-kasus yang berkaitan dengan perubahan iklim. Putusan diperkirakan akan keluar dalam waktu sembilan hingga 18 bulan.

Claudia menuturkan dia kerap berpikir apakah dia harus punya anak di masa mendatang, mempertanyakan kondisi dunia tempat anak-anaknya akan tinggali.

"Namun memenangi kasus ini berarti pada akhirnya akan ada harapan," katanya.

"Ini berarti bahwa masyarakat benar-benar mendengarkan kami dan mereka sama khawatirnya dengan kami dan bahwa pemerintah harus mengambil tindakan untuk mengatasi hal ini. Ini akan menjadi hal yang luar biasa untuk semuanya - untuk kecemasan kami, untuk masa depan kami," kata Claudia.

"Banyak hal yang bisa terjadi setelah itu," ujarnya kemudian.