Gempa Turki: Pendukung klub Besiktas melempar ribuan boneka ke lapangan untuk korban gempa
- Penulis, Harry Poole
- Peranan, BBC Sport
Para pendukung Besiktas melemparkan ribuan boneka ke lapangan saat klub kesayangan mereka menghadapi Antalyaspor dalam pertandingan Liga Super Turki. Boneka-boneka itu adalah sumbangan untuk anak-anak yang terkena dampak gempa bumi.
Pertandingan itu dihentikan sementara saat pertandingan berlangsung empat menit 17 detik, untuk memperingati waktu gempa bumi pertama menghantam Turki dan Suriah pada 6 Februari, pukul 04:17.
Para penonton kemudian mulai melempar boneka dari tribun, untuk diberikan kepada anak-anak di Turki dan Suriah.
Aksi itu diiringi dengan nyanyian anti-pemerintah oleh para pendukung tuan rumah.
Lebih dari 50.000 orang tewas setelah gempa bumi mengguncang.
"Para pendukung kami menyelenggarakan acara bertajuk 'Mainan ini adalah teman saya' saat pertandingan berlangsung untuk memberikan dukungan moral kepada anak -anak yang terkena gempa bumi," sebut pernyataan klub Besiktas.
"Mereka melemparkan syal, topi baret, dan boneka untuk diberikan sebagai hadiah kepada anak-anak di wilayah terdampak gempa bumi."
Para pemain Besiktas melakukan pemanasan dengan menggunakan baju yang bertuliskan nama-nama kota yang terkena dampak gempa sebelum upacara pra-pertandingan diadakan. Para penonton juga mengapresiasi petugas pencarian dan penyelamat yang hadir di Stadion Vodafone.
Bek Tayyib Sanuc mengatakan: "Ada hal -hal yang lebih penting daripada sepak bola. Kita mengalami masa-masa sulit sebagai sebuah negara. Bersama -sama kita akan menyembuhkan luka.
"Pendukung kami mengadakan acara yang bermakna - saya sangat tersentuh. Saya harap kami tidak pernah mengalami bencana seperti itu lagi."
Klub Gaziantep dan Hatayspor telah menarik diri dari musim Liga Super Turki setelah gempa bumi. Bahkan salah satu pemain Hatayspor, Christian Atsu, menjadi salah satu korban meninggal dunia.
Para pendukung Besiktas dan Fenerbahce memprotes pemerintah Turki

Sumber gambar, Getty Images
Protes terhadap Presiden Turki Tayyip Erdogan telah meningkat sejak gempa bumi mengguncang. Pertandingan antara Besiktas dan Antalyaspor menjadi buktinya. Para penggemar Besiktas terus menuntut agar pemerintah mengundurkan diri, pada Minggu, sebagai bentuk tanggung jawab terhadap bencana.
Erdogan akan menghadapi pemilihan umum terberat selama 20 tahun berkuasa, pada 14 Mei.
Baca juga:
Mereka tidak sendiri dalam menyuarakan pendapatnya karena penggemar Istanbul Club Fenerbahce - yang didukung Erdogan - menyanyikan "20 tahun kebohongan dan kecurangan, mundur" selama pertandingan melawan klub pro - pemerintah Konyaspor pada Sabtu (26/02).
Klub-klub lain tidak setuju dengan protes anti-pemerintah.
Caykur Rizespor, yang berbasis di kota kelahiran Erdogan, mengatakan mereka melakukan "tindakan provokatif" dan menyebut pengunjuk rasa sebagai "tikus".
'Bukan hanya mendonasikan mainan dengan gembira' - analisis

Sumber gambar, Getty Images
Selin Girit, BBC News
Setelah boneka-boneka dilemparkan ke lapangan, para penggemar Besiktas menyanyikan lagu anti-pemerintah.
Pertandingan tersebut bukan hanya menjadi ajang menyumbang boneka dengan gembira, tapi juga merupakan bentuk protes.
Setelah para pendukung Besiktas menyanyikan 'Pemerintah Mundur', pemimpin mitra koalisi de-facto pemerintah Devlet Bahceli menyebut nyanyian itu tidak bertanggung jawab dan bodoh, ketika ia mengundurkan diri dari keanggotaannya di Besiktas.
Dia juga menyerukan agar pertandingan digelar di stadion kosong. Mengikuti Bahceli, lima politisi dari MHP juga mengundurkan diri.
Sentimen anti-pemerintah telah meningkat, terutama setelah penanganan gempa bumi terlihat tidak memadai. Organisasi kemanusiaan negara itu, Bulan Sabit Merah Turki menghadapi kritik keras karena menjual lebih dari 2.000 tenda ke organisasi sukarela hanya beberapa hari setelah gempa melanda.
Karena pemerintah tidak mengizinkan kebebasan berkumpul dan berekspresi, pertandingan sepak bola dipandang sebagai peluang bagi mereka yang ingin menyanyikan protes.

Sumber gambar, Huw Evans picture agency

Sumber gambar, Getty Images

Sumber gambar, Getty Images










