You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Piala Dunia 2022: Suasana 'penuh kebanggaan dan putus asa' suporter Maroko di Jerusalem, Gaza, London, Casablanca, hingga Paris
Harapan Maroko untuk menjadi negara Afrika pertama yang mencapai final Piala Dunia berakhir dengan keputusasaan, setelah tim mereka kalah 2-0 dari Prancis.
Para pendukung berkumpul di seluruh penjuru Maroko, di Eropa, dan di negara tuan rumah Qatar, berharap mereka bisa mengalahkan mantan penjajah mereka.
Harapan itu pupus dengan dua gol yang mengantarkan sang juara dunia 2018 ke babak final.
"Kami kalah tapi kami sangat bangga," kata seorang pendukung Maroko di Casablanca kepada BBC.
Aparat kepolisian dalam jumlah besar dikerahkan di pusat kota Paris untuk mengawasi para pendukung yang menonton pertandingan semifinal karena Prancis adalah rumah bagi ratusan ribu orang keturunan Maroko.
Selain bendera Maroko, bendera negara-negara Afrika Utara lainnya juga dikibarkan oleh para pendukung yang berkumpul di Champs Elysées.
Polisi anti huru hara terlihat di kota-kota Eropa lainnya, termasuk Brussel. Pasalnya, pada pertandingan sebelumnya, para pendukung Maroko merayakan kemenangan tim kesayangan mereka dengan melepaskan suar dan kembang api.
Di Den Haag, Belanda, cuaca - dan kekalahan - tampaknya membatasi aktivitas suporter pascapertandingan.
Suar dinyalakan di jalan setelah pertandingan berakhir, tetapi warga Belanda berdarah Maroko mengatakan kepada BBC bahwa mereka berusaha menjaga ketertiban.
Dari zona penggemar di Stadion Mohammed V di Casablanca, Maroko, seorang pendukung mengatakan hasil semifinal "oke". Menurut dia, "begitulah permainannya".
Banyak dari mereka yang menonton pertandingan bersejarah bagi Maroko itu meyakini penampilan tim mereka di Piala Dunia Qatar hanyalah awal dari masa depan yang menjanjikan bagi para pemain sepak bola Maroko.
Di kafe tertua di Casablanca, para penggemar semakin frustrasi saat tim mereka kesulitan mencetak gol.
Seorang suporter yang dibesarkan di Prancis, tetapi lahir di Maroko, mengatakan dia ingin negaranya menang karena "waktunya Afrika mengangkat trofi Piala Dunia".
Pendukung Maroko juga menonton pertandingan di tenda besar yang didirikan di halaman pusat budaya Casa Arabe, Madrid. Camilan tradisional Maroko dibagikan saat para penggemar menyemangati tim mereka.
"Terlepas dari segalanya, saya bangga dengan tim kami," ujar Inas, seorang guru bahasa Inggris yang mengenakan seragam tim nasional Maroko, kepada BBC.
"Mereka tidak hanya berjaya di sepak bola, mereka memberi kami kemenangan simbolis dalam banyak hal, termasuk perhatian dan penghormatan dari dunia internasional."
Munir, seorang petugas pom bensin yang berasal dari Casablanca, bernyanyi bersama teman-temannya sepanjang pertandingan berlangsung.
Meskipun dia kesal ketika Prancis mencetak gol kedua, dia tetap optimis.
"Ini adalah peristiwa sekali seumur hidup," katanya, tentang tim Maroko yang mencapai semifinal.
"Bahkan anak-anak kami tidak akan menyaksikan ini lagi. Itu sangat berarti bagi kami."
Di Cricklewood, sebuah area di barat laut London di Inggris, pendukung Maroko bersorak meriah saat peluit akhir dibunyikan.
Para penggemar di sana merasa sangat bangga dengan penampilan tim mereka. Dalam kondisi beku, warga negara Maroko menonton di bawah selimut, sambil minum teh dan merokok shisha.
Tunisia, Aljazair, dan Mesir berada di Cafe Prego.
"Kita semua adalah satu bangsa", kata seorang penggemar yang percaya turnamen di Qatar telah menjadi Piala Dunia terbaik yang pernah ada dan telah mempersatukan diaspora Arab di London.